5 Tips Menghindari Riba di Bank Syariah

5 Tips Menghindari Riba di Bank Syariah

Sikap Pertengahan dalam Menghadapi Bank Syariah

Kesalahan dan kekurangan bank syariah menyebabkan banyak pihak dari kalangan nasabah hingga ulama yang kecewaa dan mengatakan bank syariah sama saja seperti konvensional, sama-sama riba. Namun, di era keuangan yang modern saat ini, meninggalkan jasa bank sama sekali adalah hal yang hampir tidak mungkin dilakukan. Di satu sisi sebagian masyarakat ini mengecam/mengkritik bank syariah, tapi di sisi lain hidupnya tidak lepas dari sistem perbankan: setidaknya praktik menyimpan uang, transfer, pembayaran pun tetap melalui bank.

Sehingga, menjelek-jelekkan saja tanpa dukungan yang membangun, tidak akan membawa industri ini kemana-mana. Bank Syariah terhimpit kompetisi dengan bank konvensional, sedangkan dibenci oleh kalangan target nasabah muslimnya sendiri.

Sikap yang tepat bagi nasabah muslim adalah berimbang dan kritis. Di satu sisi kita mendukung bank syariah agar maju dan mengalahkan dominasi sistem riba perbankan konvensional. Di sisi lain kita menjaga diri kita dari pelanggaran yang masih ada di bank syariah. Langkah praktisnya adalah dengan cara berani mengambil layanan bank syariah, tetapi dengan mengkritisi dahulu setiap praktik akadnya, sehingga kita terjaga dari riba, dan sekaligus memberikan saran perbaikan kepada bank syariah.

Tips Menghindari Riba di Bank Syariah

Syariah Wealth Management telah melakukan kajian lebih dari 5 tahun mengenai Bank Syariah ini dan melayani berbagai klien yang menggunakan jasa kami pendampingan akad dengan lembaga keuangan syariah, secara garis besar ada lima tips yang penting untuk dilakukan nasabah

  1. Mempelajari Dahulu Akad yang Digunakan Bank Syariah
    • Setiap transaksi keuangan dalam kehidupan ekonomi antara satu pihak dengan pihak lain pasti memiliki sebuah akad yang aturannya sudah ada dalam syariat. Termasuk dalam layanan perbankan syariah, setiap produk yang kita gunakan dalam bank syariah pasti ada akad yang mendasarinya. Misalnya, rekening tabungan memiliki opsi akad qardh atau akad mudharabah muthlaqah. Pembiayaan/Kredit memiliki opsi akad murabahah, ijarah, atau istishna. Setiap kali kita hendak menggunakan produk bank syariah, cari tahu terlebih dahulu akad apa yang digunakan dan apa aturan syariat mengenai akad tersebut.
    • Misalnya, dalam akad qardh (atau biasa disebut wadiah dhamanah pada bank syariah) terdapat aturan bahwa bank boleh memanfaatkan uang nasabah untuk mencari keuntungan, nasabah mendapatkan jaminan dari segala bentuk kerugian/kehilangan, tetapi nasabah diharamkan mendapatkan manfaat/hadiah/bonus apapun. Maka dari itu, nasabah mengetahui bahwa manfaat dari rekening tabungan qardh/wadiah adalah jaminan utuhnya uang, tetapi tidak boleh mendapatkan bonus/bunga, dan jika ada bank syariah yang memberikan bonus maka ia tahu bahwa ini adalah sebuah pelanggaran.
    • Untuk mempelajari aturan syariah berdasarkan fatwa ulama internasional dari setiap akad dapat dibaca di AAOIFI Syariah Standards, download gratis di sini
  2. Mengkaji Isi Pasal dari Setiap Dokumen Akad
    • Terdapat dua sumber utama pelanggaran syariat yang bisa terjadi pada bank syariah yaitu pelanggaran pada isi perjanjian/akad, dan pelanggaran pada saat praktiknya.
    • Membaca puluhan poin pasal kontrak perjanjian/akad memang sebuah hal yang kerap kali memusingkan dan tidak bisa dilakukan secara sebentar. Apalagi umumnya akad tersebut disusun dengan format yang sudah baku dan menggunakan bahasa-bahasa yang sulit dimengerti, belum lagi mengkaji konsekuensi antar pasal yang berkaitan.
    • Namun, membaca pasal dari setiap dokumen akad adalah hal yang sangat penting. Sebab, disitulah seringkali pelanggaran syariat dapat ditemukan di awal. Jika nasabah tidak membacanya, segera menyetujui tetapi di kemudian hari menemukan pelanggaran, maka ini bisa menjadi urusan yang sulit bagi nasabah dan bank syariah.
    • Sebelumnya, nasabah sudah memahami aturan syariat dari akad-akad yang digunakan. Misalnya, saat berakad mudharabah, terdapat konsekuensi bahwa pemilik modal tidak boleh terjamin keutuhan dananya oleh pihak mudharib. Maka, jika dalam akad permodalan mudharabah, nasabah menjumpai pasal adanya keharusan mengembalikan seluruh modal secara utuh, ini adalah sebuah pelanggaran syariat dalam bank syariah.
  3. Mengawasi Praktik Akad
    • Selain dari dokumen akad, pelanggaran syariat juga dapat terjadi pada praktiknya. Terkadang dokumen akad adalah dokumen yang sudah baku dari pusatnya, dan tidak membahas rincian bagaimana praktiknya.
    • Sering dijumpai para klien kami, bahwa bank syariah memiliki standar prosedur yang dijalankan untuk setiap produk keuangannya, sehingga seolah-olah itu adalah sebuah prosedur yang sudah benar dari pusat.
    • Namun, sering juga ditemukan bahwa akadnya sudah benar, tetapi praktiknya masih salah. Tidak memperhatikan urutan dalam akad bisa menyebabkan transaksi menjadi riba.
    • Misalnya, dalam akad pembiayaan murabahah, kita tahu bahwa bank syariah seharusnya membeli barang dari penjual, lalu menjual kembali barang itu secara kredit kepada nasabah. Maka, jika nasabah membeli barang tersebut dari penjual terlebih dahulu (secara utang), kemudian datang ke bank syariah untuk akad murabahah, maka ini adalah pelanggaran syariat yang hukumnya riba. Mengapa demikian? karena tidak sah akad murabahahnya, yang terjadi adalah utang-piutang saja.
  4. Melaporkan/Mengajukan Revisi Akad
    • Jika kita menemukan pelanggaran, baik pada dokumen akad maupun praktiknya, hal yang terpenting untuk dilakukan adalah dengan melaporkan pelanggaran tersebut ke pihak bank. Dengan begitu, bank akan menyadari kesalahannya dan dapat mencoba menyiapkan solusinya.
    • Mengapa ini penting, karena bank syariah sebagai bisnis tidak akan melakukan perubahan kecuali dengan tuntutan dari pelanggannya (nasabah). Momen-momen ketika nasabah menyampaikan kritiknya, itulah upaya kita untuk menyelamatkan bank syariah dari riba dan pelanggaran lainnya.
  5. Menggunakan Jasa Pendamping/Konsultan Keuangan Syariah
    • Melakukan langkah 1-4 adalah hal yang krusial dan tidak bisa dilewatkan. Namun, bagi sebagian orang hal itu tidak mudah, karena memerlukan pemahaman fikih muamalah, ketelitian dalam membaca akad, dan keberanian untuk menghadapi bank syariah.
    • Daripada menerobos pelanggaran tersebut atau menghindari layanan bank syariah, tentu sebaiknya menggunakan jasa konsultan atau pendamping yang bisa membantu nasabah berakad dengan bank syariah, seperti layanan Pendampingan Akad dengan Lembaga Keuangan Syariah yang disediakan oleh Syariah Wealth Management.

Pendampingan Akad Lembaga Keuangan Syariah bukan hanya membantu mereview dokumen-dokumen akad bank syariah, tetapi juga mengedukasi nasabah mengenai aturan syariat dari akad yang digunakan, memastikan akad yang dipilih adalah akad yang tepat untuk nasabah, dan juga mendampingi nasabah dalam melobi bank syariah untuk mengoreksi akad dan praktiknya, hingga nasabah dapat berakad secara syar’i.

Nasabah bank syariah yang memerlukan bantuan pendampingan ini, dapat menghubungi tim Syariah Wealth Management melalui link whatsapp yang tersedia. Tim kami insyaallah akan merespon pada jam kerja.

Leave a Reply