Agar Performa Optimal, Begini Cara Menggaji CEO

Ini hal yang sangat penting bagi investor, karena CEO (chief executive officer), memiliki kewenangan tertinggi dalam menjalankan bisnis.  CEO atau berikutnya kita sebut dengan yang lebih umum: “pengelola”, sejatinya diamanahkan oleh investor untuk mengelola entitas bisnis sehingga menghasilkan return/imbal hasil yang menguntungkan.

Umumnya pengelola dibayar dalam jumlah besar dengan harapan dapat perform dengan baik. Sayangnya, pada kenyataannya pengelola berada pada posisi “aman dan nyaman” sehingga tidak terpacu untuk perform secara maksimal.

Ada sebuah studi kasus lama dari Harvard Business Review, yang bertajuk “CEO Incentives—It’s Not How Much You Pay, But How” (Insentif CEO – Bukan tentang Berapa Banyak yang Anda Bayar, tetapi tentang Bagaimana Anda Membayarnya). Tantangannya bermula pada conflict of interest, dimana CEO mendapatkan gaji, bonus, dan bahkan bisa leluasa untuk mengambil keputusan yang hanya menguntungkan dirinya sendiri, bukan mementingkan pertumbuhan nilai perusahaan. Menurut review tersebut, ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini

  1. CEO diberikan jatah saham yang besar (supaya merasakan dampak naik turunnya perusahaan)
  2. Gaji, bonus, dan opsi saham diatur agar menjadi dorongan untuk berperforma baik dan menjadi hukuman jika performanya buruk
  3. CEO dipecat jika performanya buruk.

Tiga poin tersebut pada intinya berusaha menghilangkan rasa aman dari pengelola agar optimal performanya. Ketiganya poin tersebut memang masuk akal dan common sense, tetapi kenyataannya hal itu tidak selalu bisa dilakukan.

Bagi yang sudah mempelajari fikih muamalah, melihat permasalahan tersebut sebenarnya sudah terjawab secara sederhana pada pembahasan syirkah atau mudharabah, bahwa sebagai syarik, pengelola itu tidak boleh digaji

Dalam Shariah Standards AAOIFI No. 13 (Mi’yar Mudharabah) 8/1 disebutkan:

It is a requirement that the mechanism for distributing profit must be clearly known in a manner that eliminates uncertainty and any possibility of dispute. The distribution of profit must be on the basis of an agreed percentage of the profit and not on the basis of a lump sum or a percentage of the capital.  

Ibnu Mudzir, rahimahullah mengatakan

Semua ulama yang saya ketahui, bahwa qiradh menjadi batal apabila salah satu pihak atau masing-masiing pihak (investor atau pengelola) ditetapkan mendapatkan uang senilai tertentu.

Al-Mughni, 5/148

Dalam mudharabah misalnya, antara investor dengan pengelola menetapkan nisbah bagi hasil, misalnya Investor 30:70 Pengelola. Dengan demikian, jika profit maka 30% adalah hak investor, dan 70% adalah hak pengelola.

Sedangkan, apabila rugi, maka kerugian 100% ditanggung oleh Investor, dan Pengelola tidak menerima apapun sehingga rugi tenaga dan waktunya selama periode berjalan. Oleh karena itu, pengelola dengan sendirinya tidak merasa aman karena tidak mendapatkan bayaran yang pasti. Berapa besar yang dia dapatkan tergantung pada performa perusahaan yang dikelola.

Kami pernah mendapati sebuah kasus pada klien yang konsultasi kepada SWM, perusahaan ini menggaji pengelolanya (CEO) sebesar 25 atau 50 juta rupiah per bulan. Kondisinya perusahaan ini rugi selama beberapa periode terakhir. Dari sini dapat terindikasi setidaknya dua hal:

  1. Perusahaan ini kurang perform dimungkinkan karena kinerja CEO yang kurang maksimal. ketika investor tidak tenang karena keuntungan itu tidak pasti, CEO merasa tenang karena gajinya fixed setiap bulan.
  2. Perusahaan ini tercatat rugi, padahal bisa jadi impas, atau malah untung. Sebab, profit yang seharusnya diakhirkan untuk dibagi sesuai nisbah 70:30, itu sudah diambil lebih dahulu sebagai biaya gaji untuk CEO, yang akhirnya kelihatan rugi. 

Investor tentunya dirugikan sekali di kondisi seperti ini. Sayangnya masih banyak investor dan pengusaha yang awam, kurang paham dengan fikih muamalah dalam berbisnis sehingga menzalimi satu sama lain. Demikianlah sesungguhnya jika setiap pengusaha dan investor itu memahami syariat dalam berbisnis, akan nampak betapa rincinya Allah menjaga keadilan di antara manusia. 

Wallahu waliyyuttaufiq.

Syariah Wealth Management dengan konsultasi dan pendampingan bisnis berkomitmen untuk menjaga kepatuhan syariat dalam berbisnis diantaranya untuk tercipta keadilan dalam usaha tersebut sehingga penuh keberkahan.

Leave a Reply