Akad yang Digunakan dalam KPR Syariah

Akad yang Digunakan dalam KPR Syariah

Rumah merupakan aset yang sangat berharga bagi semua orang, karena memberikan rasa aman dan jaminan tempat tinggal di masa tua. Belum lagi, nilai rumah umumnya senantiasa naik sepanjang waktu, menjadi investasi yang aman pada jangka panjang.

Akan tetapi, dengan harga yang tinggi, sulit bagi kita untuk membelinya secara tunai. Pertimbangannya, daripada menabung hingga terkumpul dan membelinya, terkadang lebih menguntungkan membelinya secara kredit karena bisa langsung menempatinya (tidak perlu lagi keluar uang untuk sewa rumah).

Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan rumah ini, Bank tidak menawarkan layanan tabungan, tetapi layanan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Biasanya, ketika ingin mulai KPR yang dipertimbangkan hanya suku bunga, dan besarnya DP serta cicilan. Memang, ada aturan mengenai hal tersebut, misalnya cicilan tidak boleh lebih dari 40% dari penghasilan bulanan seperti yang disebutkan OJK. Tetapi, bukan hanya soal harga yang penting dalam KPR. Akad dan teknisnya juga penting, bahkan bisa memengaruhi halal atau haramnya KPR yang kita ambil. Tidak mau dong, kita memiliki rumah dengan KPR yang tidak berkah?

KPR di bank konvensional dilakukan dengan cara memberikan pinjaman uang kepada nasabah untuk dibelikan rumah, diangsur beserta bunganya. Tentu saja ini hukumnya riba, karena utang uang dibayar dengan uang dan ditambah bunga hukumnya menjadi haram karena termasuk riba.

Solusi KPR tanpa riba, sebenarnya Bank Syariah juga menyediakan KPR Syariah. Akan tetapi, jangan sekadar tahu judulnya saja ya, “KPR Syariah” pada prakteknya bisa bermacam-macam akadnya. Jika akadnya berbeda, mereka prosedurnya berbeda, dan aturan syariatnya juga berbeda.

Maka dari itu, nasabah harus waspada dengan KPR Syariah yang diambil. Jangan sampai ketika mengambil KPR Syariah justru riba karena praktiknya melanggar aturan syariat dari akad yang dipilih.

Apa saja akad yang digunakan KPR Syariah?

Berikut ini akad-akad yang dapat digunakan dalam KPR Syariah

  • KPR dengan Akad Murabahah

Murabahah adalah akad jual beli. Yaitu jual beli antara bank dengan nasabah secara cicil dengan margin keuntungan. Dalam hal ini, Bank akan membeli dahulu rumahnya, serah terima, lalu akad jual beli dengan nasabah.

Oleh karena itu, dalam akad murabahah ini, rumahnya harus sudah ada dan siap diserahterimakan. Tidak boleh KPR Syariah dengan Murabahah jika rumahnnya belum ada atau setengah jadi.

  • KPR dengan Akad Istishna

Istishna adalah akad pesanan. Yaitu nasabah memesan rumah kepada bank dan bank akan memesan kepada kontraktor/developer. Berbeda dengan murabahah yang jual beli barang, dalam istishna yang terjadi adalah rantai pemesanan dari nasabah ke bank dan ke developer.

Maka, dalam akad istishna ini, rumahnya harus belum ada dan baru akan dibangun. Tidak boleh KPR Syariah dengan Istishna jika rumahnya sudah ada.

  • KPR dengan Akad MMQ (Musyarakah Mutanaqishah)

Musyarakah mutanaqishah adalah akad patungan. Yaitu nasabah dan bank secara bersama-sama memiliki rumah yang dibeli. Antara nasabah dengan bank, ketika ingin memiliki rumah boleh dengan cara membeli yang sudah ada, atau memesan (istishna) jika rumahnya belum ada.

Dalam akad ini, rumahnya adalah milik bersama, sehingga tidak ada “cicilan utang”, tetapi yang ada hanyalah “pembelian persentase kepemilikan”. Misalnya, pada awalnya nasabah DP 20%, maka kepemilikan bank adalah 80%. Nasabah terus membeli kepemilikan bank hingga Nasabah 100% dan bank 0%.

Kesimpulan

Ingat, setiap bentuk akad ini, baik Murabahah, Istishna, maupun MMQ memiliki risiko, konsekuensi dan aturannya berbeda-beda. Tetapi tenang, anda bisa mempelajarinya dan memeriksa kesesuaian akad KPR yang digunakan dengan ketentuan syariat  berdasarkan fatwa internasional dalam AAOIFI Shariah Standards di bagian no. xx, xx, dan xx.

Syariah Wealth Management bisa membantu Anda memeriksa akad-akad yang Anda gunakan:

  1. Mengedukasi anda secara ringkas dan lengkap mengenai syariat yang mengatur akad dan
  2. Memastikan akad yang Anda gunakan sudah sesuai dengan kebutuhan Anda
  3. Memberikan rekomendasi akad-akad alternatif yang bisa digunakan agar sesuai dengan profil Anda
  4. Memeriksa akad yang Anda terima dari lembaga keuangan syariah, memastikan tidak ada pelanggaran syariat dalam akad
  5. Mendampingi Anda menghadapi lembaga keuangan syariah untuk menegosiasi akad-akad yang bermasalah (pasal-pasal yang tidak sesuai dengan ketentuan syariat)

Untuk informasi lebih lanjut mengenai jasa konsultasi, review akad, dan pendampingan bank silakan hubungi tim kami di link whatsapp yang tersedia, pada jam kerja Senin – Jumat, 08.00 – 17.00 WIB

Tags :

Leave a Reply