Apakah Asuransi itu Riba?

Apakah Asuransi itu Riba?

Sebelum menjustifikasi hukum, perlu dipahami dahulu apa sih asuransi itu.

Asuransi adalah kontrak (polis) yang pesertanya menerima perlindungan keuangan atau penggantian kerugian dari perusahaan asuransi. Sehingga jika pada saat peserta asuransi mengalami kerugian atau musibah, perusahaan akan menanggung risiko tersebut (sesuai kesepakatan jenis risikonya) dengan cara memberikan sejumlah uang ganti rugi kepada peserta sebagai bentuk proteksi/perlindungan keuangan.

Sebagai gantinya, peserta membayar premium/premi secara rutin kepada perusahaan asuransi secara berkala. Supaya menguntungkan, Perusahaan asuransi mengumpulkan lebih banyak peserta yang ditanggung agar pembayaran premi bisa lebih terjangkau.

Ada berbagai macam asuransi, mulai dari otomotif, kesehatan, jiwa, kebakaran, hingga perlindungan yang spesifik seperti pengiriman/kargo.

Misalnya asuransi kesehatan, jika ada peserta yang sakit dan rawat inap, maka peserta akan mendapatkan penggantian biaya pengobatan dari perusahaan asuransi. Namun, peserta tidak akan mendapatkan manfaat asuransinya jika tidak sakit. Jika tidak pernah sakit, uang yang dikumpulkan dari premi tersebut juga tidak dikembalikan (sebagian/seluruhnya) kepada peserta. Sebab, uang itu menjadi keuntungan perusahaan asuransi. Sedangkan, peserta mendapatkan manfaat berupa ketenangan karena telah dilindungi dan rasa aman dari risiko.

Tidak jarang, program asuransi juga terdapat fitur investasinya. Sehingga uang yang dibayarkan bukan hanya untuk membeli tanggungan risiko, tetapi juga investasi. Namun, kita tidak akan membahas investasinya, hanya asuransinya saja.

Hakikat Asuransi dari Perspektif Akad Syariah

Kamu bayar saya sekian tiap bulan, nanti pada suatu saatnya saya akan bayar kamu sekian. Bisa jadi itu lebih besar dari yang kamu bayarkan.” Seperti ini pernyataan polis asuransi kalau disederhanakan.

Akad yang digunakan dalam asuransi adalah jual beli/tukar menukar uang dengan uang (sharf) berdasarkan risiko.

Kalau jual beli/tukar menukar uang seperti Anda memiliki pecahan 10 x Rp10.000 ditukar dengan 1 x Rp100.000 secara tunai (langsung diterima). Anda tahu berapa yang Anda bayarkan, dan berapa yang Anda terima.

Adapun bentuk tukar menukar uang dalam asuransi adalah peserta membayar premi secara rutin misalnya Rp100.000 per bulan, untuk mendapatkan uang sejumlah berapa dan kapan diterimanya belum diketahui pastinya (karena tergantung terjadi/tidaknya risiko sesuai kesepakatan dalam polis).

Misalnya, asuransi Anda telah berjalan 2 tahun dengan total premi terbayarkan Rp2,4 juta. Dengan uang yang telah Anda bayarkan tersebut, Anda berharap dikembalikan lebih dari yang dibayarkan pastinya. Kalau ternyata preminya Rp2,4 juta juga sih, mendingan ditabung di bank saja kan? Maka biasanya peserta berharap/dijanjikan dapat uang penggantian hingga Rp100 juta, misalnya.

Contoh pada tahun ke-2 terjadi kecelakaan dan peserta mendapat uang penggantian sebesar Rp50 juta. Ini artinya peserta ini menukar uang sebesar Rp2,4 juta dengan uang Rp50 juta secara tertunda (tidak tunai) selama 2 tahun.

Secara ringkas, ada beberapa poin kesimpulan:

  • Akadnya komersil (untuk keuntungan)
  • Mengikat kedua belah pihak
  • Uang yang ditukar tidak sama
  • Uang diserahkan tidak tunai (tertunda)
  • Tidak pasti siapa yang menguntungkan. Bisa jadi nasabah membayar lebih besar (karena bertahun-tahun tidak berhak klaim), bisa jadi perusahaan asuransi membayar lebih besar (karena belum apa-apa sudah klaim terus menerus)

Jika demikian adanya, maka asuransi akadnya adalah sharf yang mengandung riba dan gharar.

Mengapa asuransi mengandung riba

Dalam akad tukar menukar uang dengan uang, jika uangnya sejenis, harus tunai dan sama nominalnya. Jika tidak tunai (tertunda salah satunya) atau berbeda nominalnya, maka ini disebut riba bai’.

Dalam polis asuransi, tidak terpenuhi aturan tersebut. Ada perbedaan uang yang dibayarkan dengan uang yang diterima, dan ada penundaan jarak antara premi dan uang pertanggungan. Inilah yang menjadikan akadnya riba.

Mengapa asuransi mengandung gharar

Dalam asuransi, peserta tidak tahu berapa jumlah uang yang akan diterima jika dibandingkan dengan uang yang dia bayarkan. Sebab, dia tidak tahu apakah risiko dalam polis benar-benar terjadi atau tidak. Uang yang dia bayar apakah akan kembali dia klaim atau tidak.

Memang manfaat dari asuransi bagi pesertanya adalah ketenangan yang didapatkan karena telah terlindungi. Namun, yang dipermasalahkan bukan konsep ketenangan dan perlindungannya, tetapi adanya hakikat menang-kalah dalam akad ini yang menjadikannya gharar. Maksud menang-kalah di sini adalah kalau peserta tidak pernah klaim maka perusahaan menang (untung), kalau peserta banyak klaim, maka peserta menang (untung).

Hai orang-orang beriman, sesungguhnya arak, judi, berhala, dan mengundi nasib adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

QS. Al Maidah:90

Fatwa Para Ulama Mengenai Asuransi

Setelah melakukan kajian yang mendalam dan mendiskusikan, maka majelis Al Majma’ -memutuskan berdasarkan suara terbanyak-, bahwa asuransi konvensional dengan segala bentuknya: asuransi jiwa, asuransi niaga, dan lainnya adalah haram.

Al Majma’ Al Fiqh Al Islami – 1978

Transaksi asuransi dengan premi tertentu yang diselenggarakan oleh perusahaan asuransi merupakan transaksi dengan tingkat gharar yang tinggi. Hal ini membuat hukum transaksi asuransi adalah batal. Oleh karena itu transaksi ini diharamkan Islam

Journal Fiqh Council, edisi II jilid 2, hal 545

Hukum asuransi konvensional menurut syariat adalah haram

AAOIFI Shariah Standards: At-Ta’min Al Islami Pasal 26(2)

Kesimpulan

Maka dari itu, bukan konsep perlindungan jiwa dan harta tidaklah bertentangan dengan syariat, tetapi yang haram adalah caranya/akadnya yang digunakan dalam asuransi umumnya masih mengandung riba dan gharar sehingga haram ikut serta di dalamnya, apalagi bekerja di perusahaannya.

Oleh karena itu melihat dari asuransi konvensional, ada alternatif syar’i yang dihalalkan yaitu asuransi syariah. Bagaimana cara kerja asuransi syariah? apa perbedaannya yang menjadikannya halal?

Baca selengkapnya di sini: Asuransi Syariah

3 thoughts on “Apakah Asuransi itu Riba?

Comments are closed.