Apakah Bank Syariah Riba? Perhatikan Bank Syariah sudah Syar’i atau Belum

Apakah Bank Syariah Riba? Perhatikan Bank Syariah sudah Syar’i atau Belum

Bank Syariah adalah sebuah evolusi dari praktik bank konvensional yang sistemnya “meminjam” dana nasabah untuk dipinjamkan kepada nasabah yang lain dengan sistem bunga ribawi, menjadi lembaga keuangan yang menyalurkan dana pihak ketiga milik nasabah untuk dikelola berdasarkan akad-akad yang dibolehkan dalam syariah. Apakah mungkin bank yang sistemnya riba menjadi halal? Sangat mungkin, karena Islam menjaga manusia dari praktik yang zalim dan mengarahkan pada praktik yang adil dan penuh kejelasan.

Sebagai contoh, coba kita lihat perbedaan KPR antara bank konvensional dengan bank syariah. Dalam praktik KPR Bank Konvensional, Bank memberikan pinjaman/utang berupa uang kepada nasabah untuk dibelikan rumah yang diinginkan, dan ditambahkan bunga, sehingga ada dua utang yang berjalan: utang pokok dan utang bunga. Apakah KPR Bank Konvensional haram? Hukumnya haram, karena utang piutang yang membawa keuntungan bagi pemberi utang maka ini riba. Bagi bank maupun nasabah, keduanya mendapatkan dosa besar, (bagi yang sudah terlanjur, maka bertaubatlah dan segera lunasi utang Anda. Tetapi, rumah tersebut halal dan sah milik Anda. Yang tidak sah adalah bunganya).

Sedangkan KPR di Bank Syariah akan dilihat dari dua sisi: apakah rumahnya sudah ready stock, atau belum dibangun. Jika rumahnya sudah ada, maka Bank Syariah akan membeli rumah tersebut, kemudian menjualnya kepada Nasabah secara cicil dengan akad murabahah. Bagaimana jika nasabah tidak jadi beli? Bank bisa saja menjualnya kepada nasabah yang lain, atau khiyar (membatalkan akad) kepada developer. Jika rumahnya belum ada, maka nasabah memesan pembangunan kepada Bank Syariah (akad istishna dengan bayaran cicil), sedangkan Bank Syariah melakukan subkontrak proyek pembangunan tersebut kepada kontraktor (dengan bayaran tunai).

Jelas berbeda antara Bank Konvensional yang melakukan utang piutang KPR berbunga, dengan Bank Syariah mendapatkan keuntungan bukan dari utang piutang, tetapi dari bisnis jual beli rumah. Maka dari itu, yang dihadapi Bank Syariah adalah bisnis yang riil beserta risikonya. Tidak seperti Bank Konvensional yang memberikan uang pinjaman saja hanya menanggung risiko kredit, yang itu pun diamankan dengan barang agunan.

Oleh karenanya, Allah berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”.
(Al Baqarah : 275)

Apakah Praktiknya Bank Syariah sudah Sesuai Syariah?

Sebagai seorang muslim yang rasional, kita harus memiliki mindset yang pertengahan dalam melihat progres perkembangan bank syariah. Jangan sampai ekstrem yang satu “Semua bank syariah riba, mereka sama saja dengan konvensional. Syariah itu hanya embel-embel saja“. Tetapi jangan pula bersikap ekstrem yang satunya lagi, “Ada tulisan syariahnya, sudah pasti halal nih.” Namanya sebuah evolusi, Bank Syariah adalah gerakan hijrah dari kebiasaan riba.

Ada produk keuangan yang sudah jelas halal, tetapi ada juga yang diperdebatkan dan memiliki persyaratan agar praktiknya bebas riba. Ada Bank yang sudah memahami (sebagian) akad yang sesuai syariah, ada juga yang belum memahami sehingga praktiknya masih seperti bank biasa.

Dalam pengalaman kami Syariah Wealth Management ketika mendampingi klien ketika mengambil pembiayaan di Bank Syariah, ada banyak hal yang terjadi dan berisiko menjadikan praktiknya tidak syariah. Misalnya, ada bank syariah yang di lapangan berakad murabahah (contoh di atas) tetapi tidak menjual barang, melainkan memberikan uang tunai kepada nasabah. Ada bank yang mau memberikan pembiayaan rumah, padahal nasabah sudah DP ke developer, sehingga Bank tinggal “menalangi” utang nasabah saja. Adapula yang akadnya berbasis investasi, tetapi bank menuntut modalnya dicicil kembali utuh + keuntungan yang sudah ditetapkan.

Mengapa bisa terjadi riba? Ada yang disebabkan oleh tenaga kerja di Bank tersebut belum benar-benar paham fikih muamalah, sehingga tidak tahu titik kritis akad, yakni hal-hal yang jika dilanggar maka akan menjadikan akadnya tidak sah dan status pembiayaannya jadi utang piutang riba. Ada juga yang karena terbentur regulasi dan SOP sehingga belum bisa mempraktikkan sesuai syariah.

Apakah Halal Menabung dan Meminjam dari Bank Syariah?

Tentu saja halal dan bahkan harus didukung. Namun, dengan syarat, kita sebagai nasabah harus kritis dan melihat dahulu bagaimana praktiknya di Bank yang kita pilih. Apakah sudah sesuai dengan fikihnya? Nasabah harus bisa memastikan.

Misalnya “tabungan wadi’ah menggunakan akad apa? akad qardh. Kemudian apa yang tidak boleh dari akad qardh? Bonus dan hadiah.” Kalau begitu, nasabah ketika buka tabungan wadi’ah tidak ada bonus dan hadiah apa-apa dari tabungan tersebut.

Baca lebih lanjut: Memilih Tabungan Wadiah atau Mudharabah

Contoh lainnya adalah mengambil pembiayaan kredit syariah murabahah. Nasabah harus mengetahui “Akad murabahah itu tahapannya seperti apa?” Yaitu, bank membeli barang dahulu dan qabdh, kemudian tanda tangan akad dengan nasabah. “Apa saja yang tidak boleh ada dalam akad murabahah?” DP kepada developer, denda keterlambatan, asuransi, akad mengikat sebelum bank membeli barang, praktik wakalah yang dilarang, dan lainnya.” Barulah Nasabah mengecek apakah dalam akad pembiayaan kredit syariah murabahah itu ada pelanggaran atau tidak. Jika tidak ada, maka bisa melanjutkan, jika ada, maka Nasabah mengajukan revisi akad.

Baca lebih lanjut: 9 Kesalahan Bank Syariah dalam Murabahah

Maka dari itu, Syariah Wealth Management siap mendampingi siapa saja yang ingin mengambil akad pembiayaan dengan Lembaga Keuangan Syariah, sehingga SWM akan memeriksa dokumen-dokumen akad, memberikan edukasi akad kepada klien, mengajukan revisi akad kepada bank, lengkap hingga nasabah bisa menandatangani akadnya dengan aman dan bebas pelanggaran syariat.

Dalam mendampingi klien, SWM senantiasa merujuk pada rujukan fatwa ulama internasional AAOIFI dalam Shariah Standards for Islamic Financial Institutions di bawah bimbingan pakar fikih muamalah Indonesia.

Jika Anda berniat ingin mengambil pembiayaan di Bank Syariah dengan didampingi oleh SWM, klik icon WhatsApp di bawah ini, atau di 082-12345-9661