Apakah Cucu Mendapatkan Warisan? Hukum Waris Cucu dalam Islam

Apakah Cucu Mendapatkan Warisan? Hukum Waris Cucu dalam Islam

Pembagian waris telah diatur dalam Islam secara jelas melalui Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada artikel sebelumnya, telah kami terangkan ayat-ayat tentang warisan. Biasanya, dalam benak masyarakat, warisan ketika dibagi adalah hak anggota keluarga yang paling dekat. Bahkan, sering juga terjadi kasus seorang Istri yang ditinggal mati suaminya, menguasai seluruh harta suaminya. Tentu, kita tahu ini salah. Tetapi, bagaimana dengan cucu?

Cucu (anaknya anak) adalah anggota yang cukup dekat. Seringkali dalam keluarga, seorang kakek/nenek hidup dekat sekali dengan cucunya di masa kecil. Semisal ada seorang pria atau wanita yang sukses hidupnya dan memiliki banyak sekali harta, apakah cucu menikmati harta warisnya? ataukah terhalang oleh orang tuanya? bagaimana jika anaknya sudah meninggal dunia, apakah cucu tetap mendapatkan warisan? Artikel ini akan membahas khusus bagian waris cucu, mengingat banyak konsultasi yang masuk kepada tim Syariah Wealth Management (SWM) mengenai masalah waris ini.

Aturan Waris untuk Cucu

Perlu diingat bahwa dalam Islam, garis keturunan adalah melalui jalur laki-laki. Sehingga semua anak dan cucu nasabnya mengikuti bapaknya, kemudian kakeknya, dan seterusnya. Hal ini berlaku juga pada warisan untuk cucu. Cucu yang mendapatkan waris adalah cucu (laki-laki dan perempuan) dari anak laki-laki.

Misalnya, Annisa adalah anak perempuan dari pernikahan Pak Ari bin Anas dan Bu Maimunah binti Ma’mun, dan keduanya sudah meninggal. Jika ayahnya Bu Maimunah (Ma’mum) wafat, maka Annisa tidak mendapatkan waris, karena Annisa adalah cucu dari anak perempuannya Ma’mun. Namun, Annisa mungkin dapat waris dari ayahnya Pak Ari (Anas), karena Annisa adalah cucu dari anak laki-lakinya Anas.

Maka, pertama harus diperhatikan bahwa cucu di sini adalah cucu dari anak laki-laki, ya.

Cucu Terhalang Anak Laki-Laki

Penting diperhatikan bahwa dalam pembagian waris Islam, terdapat konsep penghalang yang disebut dengan “Hajb”:

“Semua laki-laki yang menjadi furu’ waris si mayit akan menghalangi furu’ waris yang posisinya berada di bawahnya, baik sejenis maupun yang tidak sejenis.” Furu’ maksudnya adalah ahli waris keturunan/ke bawah.
Maka dari itu, cucu hanya akan mendapatkan warisan jika tidak ada anak. Ini titik kritis yang banyak orang salah dalam hal ini, maka perhatikan:

Misalnya, Ahmad memiliki tiga orang anak laki-laki: Hamad, Hamid, dan Mahmud. Mahmud, memiliki anak laki-laki bernama Muhammad bin Mahmud bin Ahmad. Dengan kata lain, Muhammad adalah cucu laki-laki dari anak laki-laki Ahmad. Sayangnya, Mahmud telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Barulah sekarang, Ahmad wafat.

Dalam kasus ini, Muhammad tidak mendapatkan warisan dari Ahmad, sebab Muhammad adalah cucu. Tingkatan “cucu” berada di bawah “anak”. Jika anak masih ada, maka cucu tidak mendapatkan warisan. Sebab, anak laki-laki (furu’-nya Ahmad) menghalangi cucu (furu’-nya Ahmad yang berada di bawah).

Tentu hal ini berbeda dengan pembagian waris perdata atau bahkan KHI, karena mereka mengenal konsep “ahli waris pengganti”, sehingga ketika Mahmud meninggal lebih dahulu, jatah warisan Ahmad untuk Mahmud menjadi jatah Muhammad. Namun, pemikiran seperti ini tidak ada dalam syariat islam yang shahih dari nabi, sahabat, dan bahkan para imam mazhab.

Bagian Waris Cucu

Untuk bagian ini, saya coba untuk tetap ringkas saja agar mudah diterapkan. Mohon diperhatikan per kasusnya dan semua syaratnya ya. Kembali diingat, bahwa cucu di sini adalah cucu dari jalur anak laki-laki, dan tidak ada anak laki-laki yang masih hidup.

Cucu laki-laki mendapat seluruh sisa warisan sebagai ashabah jika ia memenuhi ketentuan ashabah (akan dibahas berikutnya).

Cucu perempuan dari anak laki-laki mendapat bagian warisan selama tidak ada furu’ ahli waris di atasnya (anak), dan bagiannya sama seperti bagiannya anak perempuan.

  1. Cucu Perempuan mendapat 1/2 warisan. Jika dia sendirian / 1 orang cucu perempuan saja, dan jika mayit tidak ada anak perempuan mayit
  2. Cucu Perempuan mendapat 2/3 warisan. Jika dia tidak sendirian / ada 2 orang atau lebih cucu perempuan, dan jika mayit tidak ada anak perempuan mayyit.
  3. Cucu Perempuan mendapat 1/6 warisan. Jika mayit tidak ada anak kecuali 1 orang anak perempuan.

Jika cucu perempuan ada bersama cucu laki-laki, maka cucu perempuan tidak mengikuti pembagian di atas, tetapi mereka bersama-sama dengan cucu laki-laki mendapatkan sisa, sebagai ‘ashabah. Pembahasan Ashabah akan dibahas berikutnya.

Cucu Sebagai Ashabah

Ashabah adalah bagian waris sisa. Setelah ahli waris yang ditetapkan angkanya selesai dihitung dan masih ada sisa, maka dicarilah ashabah. Berdasarkan hadits nabi:

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَلْحِقُوا الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ فَهُوَ ِلأَوْلَى رَجُلٍ ذَكَرٍ.
“Berikan bagian warisan kepada ahli warisnya,
selebihnya adalah milik laki-laki yang paling dekat.”

Pada kebanyakan kasus, dimana seorang bapak/ibu wafat meninggalkan anak, maka anak mendapatkan jatah sisa waris (ashabah) ini. Pada dasarnya, ashabah adalah anak laki-laki saja. Tetapi jika anak perempuan ada bersama anak laki-laki, maka semua anak tersebut menjadi ashabah.

Namun, ketika tidak ada anak laki-laki, maka ashabah berpindah kepada cucu laki-laki (bersama cucu perempuan jika ada).

Misalnya, Ibu Salma wafat dan meninggalkan:

  • Seorang suami (Pak Salim)
  • Seorang anak perempuan (Salamah)
  • 2 orang cucu laki-laki dari Salamah
  • 3 orang cucu ( 1 laki-laki dan 2 perempuan) dari anak laki-laki (Salman). Salman sudah wafat awal tahun lalu karena kecelakaan
  • Seorang kakak Laki-laki (Pak Sulaiman)

Suami mendapatkan bagian waris 1/4, Anak perempuan mendapatkan 1/2 (~2/4). Dua orang ini jatah warisannya sudah jelas ketetapannya, dan ternyata setelah dihitung, 1/4 + 2/4 = 3/4, kalau begitu masih ada sisa 1/4. Sisa inilah yang diserahkan kepada Ashabah:

Calon Ashabah pada kasus Ibu Salma ada 2: Cucu dari Salman, dan Kakak laki-laki (Pak Sulaiman). Namun, karena Cucu (ke bawah) lebih dekat daripada saudara kandung (ke samping), maka Pak Sulaiman tidak dapat waris. Adapun Cucu yang berhak menjadi ashabah, hanyalah cucu dari Pak Salman, bukan cucu dari Salamah.

Bagian laki-laki 2x bagian perempuan. Jika ada 1 cucu laki-laki (1 x 2 bagian) dan 2 cucu perempuan (2 x 1 bagian), 1×2 + 2×1 = 4 bagian, maka cucu laki-laki berhak 2/4, dan masing-masing cucu perempuan berhak 1/4, diambil dari sisa di atas, yakni cucu laki-laki mendapat 2/4 * 1/4 = 2/16. dan cucu perempuan mendapat masing-masing 1/4 * 1/4 = 1/16.

Kesimpulan

Pembahasan waris memang tidak boleh sembarangan dan tidak pula dengan selera dan kekuasaan. Harta yang dititipkan kepada manusia adalah milik Allah dan Allah telah mengatur pembagiannya ketika manusia tersebut meninggal dunia.

Sering terjadi sengketa hanya karena masalah ini dan karena merasa paling benar, atau bahkan tergiur dengan berlimpahnya harta yang dilimpahkan. Syariah Wealth Management berkomitmen untuk membantu klien menyelesaikan permasalahan warisnya dengan jasa konsultasi, perhitungan waris, penyusunan risalah waris, hingga mediasi pihak yang bersengketa. Tanya jawab seputar waris dapat dilayani langsung tanpa biaya melalui WhatsApp kepada tim kami, klik tombol WhatsApp atau tombol Hubungi sekarang.

Leave a Reply