|

Apakah Utang Usaha Mengurangi Zakat?

Dalam dunia bisnis, setidaknya terdapat dua kewajiban pengusaha yang harus dibayar, yakni kewajiban kepada manusia yaitu utang dan kewajiban kepada Allah yaitu zakat usaha (mal atau niaga). Utang tersebut dapat berupa pinjaman uang, atau bisa juga berupa transaksi kredit. Selama tidak ada riba di dalam dua transaksi ini, maka dari sudut pandang syariat seluruhnya dianggap sah sebagai kewajiban yang harus dibayar. Adapun, jika terdapat riba, maka yang menjadi kewajiban adalah pokoknya saja, sedangkan bunga/ribanya tidak sah.

Untuk memahami kaitan antara utang dan zakat, mari kita simak ilustrasi berikut ini:

Contoh Perhitungan Zakat Usaha

ilustasi bisnis online

Pak Arifin memiliki uang tunai sebanyak Rp100 juta pada bulan Dzulhijjah 1443 H. Jika sudah berlalu satu tahun hijriyah, maka Pak Arifin wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2.5% dari nilai tersebut, yaitu Rp2.500.000. Karena sudah mencapai nishab dan haul.

Jika Pak Arifin membuka usaha online shop, dari Rp100 juta itu dibelikan barang-barang dagangan. Rp90 juta untuk pembelian inventori dan disisihkan Kas Rp10 juta. Berdasarkan laporan keuangan neraca, maka Total Aset Rp100 juta, dan Modal Pak Arifin Rp100 juta.

Sudah berlalu satu tahun (bulan Dzulhijjah 1444 H). Usaha berkembang dan sekarang tersedia Kas Rp15 juta dan inventorinya Rp100 juta. Total Asetnya Rp115 juta, dan Total Modalnya Rp115 juta. Pak Arifin wajib mengeluarkan zakat niaga sebesar Rp115 juta x 2.5% = Rp2.875.000.

Angka Rp115 juta tersebut diambil dari nilai kas dan inventori, karena termasuk aset yang wajib dizakati dan dikalikan 100% porsi modal Pak Arifin. Sebelumnya kami pernah membahas tentang zakat usaha di sini.

Contoh Zakat Usaha Jika Memiliki Utang

Pada Dzulhijjah 1444 H, Pak Arifin mendapatkan pinjaman uang dari istrinya sebesar Rp80 juta. Pinjaman ini jatuh tempo tiga tahun lagi, yaitu Dzulhijjah 1447 H. Sehingga posisi keuangannya saat ini Total Aset Rp195 juta (terdiri atas Kas dan Inventori saja), Total Utang Rp80 juta, dan Total Modal Rp115 juta.

Alhamdulillah, pada akhir tahun 1445 H, usaha berkembang dan mendapatkan untung. Total Aset Rp210 juta (terdiri atas Kas dan Inventori saja), Total Utang Rp80 juta (jatuh tempo akhir 1446 H), dan Total Modal Rp130 juta.

Ketika Pak Arifin menghitung zakatnya, beliau bingung. Apakah utang mengurangi zakat atau tidak? Terdapat dua kemungkinan:

  1. Utang tidak mengurangi zakat, yaitu Rp210 juta x 2.5% = Rp5.250.000
  2. Utang mengurangi aset yang kena zakat, yaitu (Rp210 juta – Rp80 juta) x 2.5% = Rp130 juta x 2.5% = Rp3.250.000

Manakah yang benar?

Perbedaan Pendapat dalam Utang Mengurangi Zakat

Pak Arifin bingung, dan terus berpikir:

Yang sebenarnya harta saya kan hanya Rp130 juta, kenapa saya bayar zakat untuk Rp210 juta? Seharusnya aset saya dikurangi utang dahulu.”

“Tapi, jika dipikir-pikir, memang dari seluruh aset itu Rp210 juta semuanya milik saya. Bisa jadi, zakatnya memang dari yang Rp210 juta. Kan, Rp80 juta itu hanya utang/kewajiban. Saham tetap 100% punya saya.”

Ternyata, memang terdapat perbedaan pendapat ulama dalam hal ini. Merujuk pada konsultasisyariah.com, pendapat mazhab hanbali mengatakan bahwa utang mengurangi harta yang kena zakat. Jika demikian, maka Pak Arifin hanya membayar Rp130 juta x 2.5% saja. Namun, pendapat mayoritas ulama, utang tidak mengurangi harta yang kena zakat. Sehingga Pak Arifin harus mengeluarkan zakat Rp210 juta x 2.5%

Pendapat jumhur ulama mengacu pada atsar Khalifah Utsman bin Affan, yaitu utang dapat mengurangi zakat jika dibayarkan sebelum membayar zakat.

هَذَا شَهْرُ زَكَاتِكُمْ فَمَن كَانَ عَلَيهِ دَينٌ فَلْيُؤَدِّ دَينَهُ حَتَّى تَحْصُل  أَمْوَالكُم فَتُؤَدُّوا مِنْهَا  الزَّكَاة

Ini adalah bulan zakat kalian. Siapa yang memiliki utang, hendaknya segera dia lunasi utangnya, sehingga ketahuan berapa sisa hartanya. Lalu tunaikan zakat untuk harta sisanya.

(HR. Malik dalam al-Muwatha’, 322)

Pendapat AAOIFI mengenai utang dan zakat

Dalam layanan konsultasi yang diberikan, Syariah Wealth Management merujuk pada Shariah Standards AAOIFI No. 35 Zakah. Mengenai utang apakah mengurangi zakat atau tidak, maka dapat dilihat pada pasal 6/3. Di sini para ulama merinci utang yang seperti apa yang mengurangi harta yang wajib dizakati. Ada yang bisa mengurangi dan ada yang tidak.

Namun, berdasarkan yang dialami Pak Arifin, utang tersebut tergolong long term debt. Karena, jatuh temponya masih jauh yakni tahun 1447H, maka utangnya ini tidak mengurangi zakat.

Layanan Konsultasi Zakat Personal & Zakat Bisnis

Syariah Wealth Management siap membantu Anda menyelesaikan permasalahan zakat, dengan menganalisis posisi keuangan Anda dan menghitungkan zakat yang harus dikeluarkan sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah. Buat janji konsultasi dengan tim kami via WhatsApp ke 082-12345-9661 atau klik tombol di pojok kiri bawah ini.

Similar Posts