Apakah Warisan Harus Dijual? Bolehkah Warisan Tidak Dijual dalam Islam

Apakah Warisan Harus Dijual? Bolehkah Warisan Tidak Dijual dalam Islam

Warisan adalah harta yang ditinggalkan mayit setelah meninggal, dan Allah telah menetapkan aturan pembagiannya. Pada dasarnya, ketika seseorang itu meninggal, maka kepemilikannya secara otomatis sudah berpindah menjadi milik ahli waris secara bersama-sama menurut cara perhitungan waris yang benar menurut syariat Islam.

Jika sudah dihitung persentase pembagian warisnya, misalnya anak dapat berapa persen, istri dapat berapa persen, ibu dapat berapa persen, dan seterusnya, tentu langkah berikutnya adalah cara membaginya. Allah telah mengatur berapa persen bagian masing-masing, tetapi cara membaginya adalah sesuai kesepakatan.

Biasanya, jika warisan tersebut adalah berupa uang, maka ini bisa dengan mudah membaginya. Tetapi bagaimana jika dalam bentuk yang lain?

Pada artikel kali ini, kita gunakan contoh, sebut saja Pak Rafif. Pak Rafif meninggal dunia dengan dua anak laki-laki, satu anak perempuan dan seorang Istri. Tidak ada ibu maupun bapak atau kerabat lain yang masih hidup. Sehingga pembagiannya sesuai syariat adalah:

  • Istri = 1/8 (Dzawil Furudh) ~ 12.5%
  • Untuk Ashabah: 7/8
    • Anak Laki-laki 1 = 14/40 ~ 35%
    • Anak Laki-laki 2 = 14/40 ~ 35%
    • Anak Perempuan = 7/40 ~ 17.5%

Harta Waris Berupa Uang

Jika warisannya dalam bentuk uang tunai, maka hal ini mudah dibagikan. Misalnya, uang Pak Rafif ada 100 juta, maka dibagikan sesuai persentase di atas: 12.5 juta untuk Istri, 35 juta untuk anak laki-laki pertama, dan seterusnya.

Harta Waris Bukan Berupa Uang

Kemudian, masih ada warisan lain berupa:

  • Empat buah rumah beserta isinya:
    • 1 ukuran sedang dan sedang ditempati istri (Rumah A)
    • 1 ukuran kecil dan masih tahap pembangunan (Rumah B)
    • 1 ukuran besar, ada di lokasi strategis dan menjadi bisnis kos-kosan (Rumah C)
    • 1 ukuran sedang dan dikontrakkan. (Rumah D)
  • 3 buah mobil:
    • 1 Sedan keluaran 2001
    • 1 Minivan keluaran 2010
    • 1 City car keluaran 2015
  • Bisnis Produksi Arang (Coal Briquette)
    • Kepemilikan Modal 70%

Jika warisannya bukan dalam bentuk uang, maka ada dua cara yang bisa dilakukan. Cara pertama adalah dengan menilainya menjadi rupiah. Cara kedua adalah dengan syirkah.

Cara pertama: menilai warisan menjadi rupiah. Jika ahli waris dapat bersepakat dengan harganya, mereka bisa mengira-ngira sendiri berapa seluruh harta warisnya saja. Tetapi, jika tidak sepakat, salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan jasa tenaga appraisal seperti Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP).

Jika ahli waris sepakat untuk menaksir harta warisnya dan diketahui totalnya berapa, maka para ahli waris dapat membicarakan siapa dapat harta yang mana, selama yang di dapat masing-masing sesuai dengan persentase yang disebutkan di atas.

Misalnya, setelah dihitung-hitung sudah bisa keluar nilainya. Ada yang langsung dibagikan kepada ahli waris, seperti Rumah A dan B, tetapi untuk 3 unit mobil dan Rumah D, dijual dahulu baru uangnya dibagikan.

Tetapi, untuk Rumah C yang menjadi kos-kosan, dan Bisnis Coal Briquette, tidak mencapai kesepakatan mengenai valuasinya, tidak pula mereka ingin menjualnya.

Syirkah dalam Harta Warisan

Syirkah adalah kepemilikan harta bersama dengan persentase kepemilikan tertentu. Jadi, harta waris yang menjadi syirkah tidak lagi milik istri atau anak, tetapi milik bersama. Jika harta ini harganya naik, maka naik bersama. Jika harta ini berupa bisnis yang menguntungkan, maka untung bersama, jika hartanya rusak atau rugi, maka rugi bersama.

Baca lebih lanjut: Tata Cara Syirkah dalam Islam

Untuk Rumah C misalnya, Istri dan anak memiliki kepemilikan bersama (saham) dengan persentase di atas. Jadi, mereka bersepakat untuk tidak menjualnya, melainkan menjadikannya harta bersama. Jika ada keuntungan dari pemasukan kos-kosannya, maka 35% untuk anak laki pertama, 35% untuk anak laki-laki kedua, 17.5% untuk anak perempuan, dan 12% untuk istri. Namun, jika rugi, maka ditanggung bersama pula berdasarkan persentase tertentu.

Sedangkan, untuk bisnis arang, Pak Rafif sejak awal memiliki 70%, sehingga 70% ini yang dibagi kepada ahli warisnya. Istri mendapat 12.5% dari 70% saham = 7.6% saham total bisnis tersebut. Anak laki-laki pertama, 35% dari 70% = 24.5%. Demikian seterusnya.

Misalnya, anak perempuan rela untuk memberikan saham syirkahnya dalam Rumah C untuk Ibnunya, supaya Ibu (istri pak rafif) mendapat lebih banyak keuntungan. Maka ini boleh. Atau, misalnya anak laki-laki kedua membeli saham 35% Rumah C dari anak pertama dengan harga sekian ratus juta rupiah, maka itu boleh-boleh saja sesuai kesepakatan.

Namun, biasanya dalam pembagian waris itu tidak semudah ilustrasinya. Baru mulai dari perhitungan persentase waris saja biasanya sudah memicu keributan di keluarga, apalagi hingga pembagian harta dan syirkahnya. Maka dari itu, Syariah Wealth Management (SWM) siap memberikan konsultasi dan pendampingan masalah waris Anda. Hubungi kami via WhatsApp untuk informasi lebih lanjut.

Leave a Reply