Harta haram merupakan setiap harta yang didapatkan dari jalan yang dilarang dalam syar’iat. Seperti hasil judi, hasil merampok, hasil dari bunga bank, dan lainnya.

Seorang manusia yang hidup di abad modern ini, dituntut untuk mengumpulkan dan menumpuk harta sebanyak-banyaknya agar bisa hidup layak dan tenang dalam menghadapi masa depan diri dan anak cucunya. Pada saat itu orang-orang tidak peduli lagi dari mana harta dia dapatkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

Akan datang suatu masa, orang-orang tidak peduli dari mana harta yang dihasilkannya, apakah dari jalan yang halal atau dari jalan yang haram”. (HR. Bukhari)

Orang-orang tersebut dikelompokan menjadi 2 :

  1. Sebagian manusia tidak pernah peduli akan kaidah Rabbani dalam mencapai tujuan mencari harta, kelompok ini dianjurkan untuk memeriksa kembali akidah mereka, dimana mereka telah menjadikan dinar dan dirham sebagai Tuhannya dan tidak mengindahkan Allah.
  2. Sebagian lagi, orang-orang yang masih memiliki dhamir (hati) yang peka, akan tetapi karena mereka sedari kecil tidak pernah mengerti dan mempelajari ketentuan Allah tentang muamalat, kelompok ini –mau tidak mau- akan melanggar syari’at Allah saat mengumpulkan harta karena ketidaktahuannya.

Dampak Harta Haram Terhadap Pribadi dan Umat

Harta haram akan berdampak buruk terhadap pribadi secara khusus dan umumnya akan berdampak kepada umat manusia. Dampak-dampak tersebut antara lain :

  1. Memakan harta haram adalah perbuatan mendurhakai Allah dang mengikuti langkah syaitan, Allah berfirman :

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di Bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah : 168)

  1. Allah memerintahkan para rasul agar memakan harta dari yang halal saja

“Wahai para rasul, makanlah makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang sholih. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Mu’minuun : 51)

  1. Memakan harta haram adalah ciri khas kelompok mayoritas Yahudi yang diabadikan Allah dalam firman-Nya :

Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu”. (Al Maidah: 62)

  1. Perkara amat buruk yang menimpa mereka adalah api neraka (harta haram) yang setiap saat mereka masukan ke dalam perut mereka, karena diriwayatkan dari Rasulullah shallallah alaihi wa sallam:

Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, Sesungguhnya tidak tumbuh setiap daging yang diberi asupan makanan yang haram melainkan nerakalah yang berhak membakarnya”. (HR. Ahmad dan Tirmizi, dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

  1. Doa tidak dikabulkan

Doa merupakan inti dari ibadah shalat, maka dikhawatirkan pelaku pemakan harta haram ibadah shalatnya tertolak. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“ Allah tidak menerima shalat seseorang yang di dalam perutnya ada makanan haram”.

  1. Harta haram penyebab kehinaan, kemunduran serta kenistaan umat Islam saat ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Bila kalian melakukan transaksi ribawi, tunduk dengan harta kekayaan (hewan ternak), mengagungkan tanaman dan meninggalkan jihad niscaya Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dijauhkan dari kalian hingga kalian kembali kepada syariat Allah (dalam seluruh aspek kehidupan kalian)”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).

  1. Harta Haram yang merajalela pertanda azab akan turun menghancurkan masyarakat di mana harta haram tersebut berada. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda

“Apabila perzinahan dan riba merajalela di sebuah kampung, sungguh mereka telah mengundang azab untuk menimpa mereka”. (HR. Al Hakim, menurut Al Albani bahwa derajat hadis ini hasan li ghairihi).

Solusi

At Tirmizi meriwayatkan bahwa khalifah Umar bin Khattab  radhiyallahu ‘anhu, mengeluarkan perintah:  “Jangan berjualan di pasar ini para pedagang yang tidak mengerti dien (muamalat)”. (Sunan Tirmizi, sanad atsar ini dihasankan oleh syeikh Al Albani)

Juga diriwayatkan dari Imam Malik bahwa beliau memerintahkan para pengusaha untuk mengumpulkan seluruh pedagang dan orang-orang pasar, lalu beliau menguji mereka satu persatu, saat beliau dapati di antara mereka ada yang tidak mengerti hukum halal-haram tentang jual beli beliau melarangnya masuk ke pasar seraya menyuruhnya mempelajari fikih muamalat, bila telah paham, orang tersebut dibolehkan masuk pasar (Taubah Al Ghafilin, hal. 364)

Sehingga mari kita berilmu sebelum berdagang untuk menghindari mendapatkan harta haram yang berdampak kepada kehidupan kita baik di Dunia maupun di Akhirat kelak.

Dikutip dari Buku Harta Haram Muamalat Kontemporer, karya Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>