Artikel 6 SWM Awas Investasi Bodong

Awas! Investasi Bodong!

Laporan kasus Jouska terkait “rekomendasi” investasi saham yang ternyata merugikan investor akhir Juli ini, mengingatkan saya tentang masih rendahnya literasi masyarakat tentang investasi. Belum bicara ‘mana investasi halal dan haram’, atau ‘untung dan rugi’, memilah ‘investasi sungguhan dan investasi bodong’ saja masih banyak yang terjebak, bahkan di kalangan publik figur

Di awal tahun 2020 ini, pemerintah tercatat telah memberhentikan ratusan investasi bodong selama 2019. Ternyata, tidak sampai di situ, di masa pandemi seperti ini masih saja terdengar kasus-kasus investasi bodong, seperti yang dilaporkan oleh ratusan nasabah fikasa group yang kehilangan dana miliaran. Serta 90an daftar investasi bodong yang dilaporkan oleh Satgas Waspada Investasi OJK, yang diantaranya membawa nama yang bernuansa Islami.

Mengapa Mudah Tertipu Investasi Bodong?

Ada beberapa faktor yang membuat masyarakat mudah ditipu investasi bodong, diantaranya adalah,

Kesamaan Latar Belakang

Ketika teman kita di tempat kerja, atau sesama ikhwan pengajian, maupun tetangga satu komplek, kehadiran mereka tidak asing bagi kita sehingga terbiasa percaya dengan yang dikatakan. Atau mungkin yang menawarkan investasi bukan mereka, tetapi mengikutsertakan mereka juga, dengan mengandalkan trik psikologi: personalization, mencari hubungan emosional untuk mendapatkan trust.

Tumbuhkan pola pikir bahwa bagaimanapun keakraban kita dengan mereka, se-amanah apapun mereka di mata kita, belum tentu investasi tersebut aman. Bukan berarti su’uzhan dengan mereka.

Mungkin mereka tidak berniat menipu kita, tetapi bagaimana kalau mereka juga korban penipuan investasinya? Tetap teliti dan lakukan riset terlebih dahulu.

Ditawarkan oleh Figur Terkenal

Bukan hanya produk yang bisa di-endorse, tetapi para tokoh publik seperti artis, tokoh agama, dan bahkan influencer di media juga bisa turut serta menawarkan produk investasi baik sengaja mengajak orang atau sekadar merekomendasikan saja.

Bagi perusahaan yang tidak dikenal, mereka membutuhkan sosok yang dikenal oleh masyarakat agar bisa menawarkan investasinya. Disinilah para figur itu berperan. Namun, sayangnya kehadiran figur tersebut tidak memastikan investasi yang ditawarkan itu sungguhan dan benar-benar menguntungkan. Ada dua kemungkinan:

  1. Mereka terkenal, tapi mereka bukan ahli dalam hal investasi. Sehingga bisa jadi mereka akan turut menjadi korban. Sebagaimana dalam beberapa berita, sering para public figure menjadi korban investasi bodong.
  2. Mereka terkenal dan mereka ahli dalam investasi, tetapi mereka dimanfaatkan saja. Perusahaan memberikan mereka laporan yang baik dan keuntungan yang lancar, tetapi hanya untuk mereka saja. Untuk nasabah lainnya? bisa jadi macet.

Kasus yang kedua ini saya belum pernah temukan dalam investasi, tetapi dalam penjualan produk, yaitu kasus penipuan Escobar Phone. Smartphone tersebut dengan fitur yang setara produk papan atas dari Samsung, tetapi mereka tawarkan secara online dengan harga yang jauh lebih murah dari aslinya.

Para influencer tertarik untuk memesannya dan membuat banyak review di internet. Akan tetapi, saat konsumen biasa yang memesannya, mereka ditipu, sudah transfer tetapi pesanannya tidak pernah dikirim.

Ikut-ikutan (Following the Herd)

Ini juga yang termasuk menjadi faktor mudahnya tertipu oleh investasi bodong. Misalnya rekan-rekan satu komplek, atau kelompok ibu-ibu, ditawarkan investasi layaknya ditawarkan arisan, ketika sebagiannya ikut, nanti semua akan mudah ikut juga.

Ketika kita dikelilingi oleh teman-teman yang investasi tertentu, menjadi ada pressure sehingga agak sulit kita untuk menolak. Bagi investasi bodong dengan skema ponzi, kondisi seperti ini sangat menjadi incaran mereka karena bisa menjaring banyak orang sekaligus.

Takut Kehilangan Kesempatan (fear of missing out)

“Sekaranglah saatnya, penawaran ditutup malam ini”
“Beli sekarang, hari senin harga naik”
“Jadi bapak mau ngga? ini saya sudah diteleponin sama yang lainnya loh”

Seperti flash-sale di online marketplace, ada penawaran investasi yang mendorong-dorong kita memberikan keputusan secepat mungkin. Bedanya, kalau flash-sale itu mendorong kita membeli barang yang… bisa jadi sebenarnya tidak kita butuhkan, kalau investasi bodong mendorong kita untuk investasi yang sama sekali tidak menguntungkan.

Karakter manusia yang serakah oleh hawa nafsunya membuatnya sulit berpikir jernih. Apalagi di kondisi yang dibawah tekanan ditambah tidak sabar, kita bisa dengan mudah untuk mengambil keputusan yang prematur dan kurang pertimbangan.

Kunci Terhindar dari Investasi Bodong

Bagaimana agar selamat dari investasi bodong, baik oknum yang ingin membawa kabur dana investor, investasi dengan skema yang haram dan merugikan, maupun investasi ‘sungguhan’ tapi perusahaannya sampah?

Meminta pertolongan Allah, Sabar, dan Belajar

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan kita rezeki, maka yang paling utama dalam ikhtiar kita adalah mendekatkan diri kepada Allah. Kemudian bersabar dalam mencari rezeki, tidak tergesa-gesa, tidak putus asa, menjalankannya dengan ketenangan karena keimanan yang kuat kepada Allah.

Dikuatkan dengan ikhtiar yang serius dalam mencarinya: yaitu belajar. Baik itu mempelajari hukum-hukum syariat muamalah seputar investasi mana yang halal dan mana yang haram, dan juga mempelajari bagaimana menilai perusahaan, bagaimana membedakan perusahaan yang baik dan buruk, bagaimana terhindar dari pengelola usaha yang curang, dan lainnya ilmu dunia yang berkaitan dengan ini.

Memang dalam menilai investasi itu memerlukan proses, ketelitian, kehati-hatian. Bukan hanya ‘apakah investasi ini bodong atau tidak’ tetapi juga halal atau haram? menguntungkan atau merugikan? perusahaan sehat atau sakit? apakah pengelolanya amanah? Maka dari itu Syariah Wealth Management mendampingi investor dalam menganalisis keamanan investasi dalam bentuk konsultasi dan review akad & produk investasi.