|

Ayat Al-Qur’an dan Hadits Tentang Korupsi

Apa itu Korupsi

Korupsi merupakan bentuk kejahatan yang marak terjadi di sekitar kita, baik di pemerintahan, maupun di dunia kerja. Menurut data dari Transparency International, Indonesia menduduki peringkat 102 dari 180 negara dalam Corruption Perception Index. Bahkan, berdasarkan survey yang dilakukan di Indonesia, 30% pengguna layanan publik melakukan suap.

Korupsi menurut pandangan hukum positif adalah semua tindakan tidak jujur dengan memanfaatkan jabatan atau kuasa yang dimiliki untuk mendapatkan keuntungan bagi pribadi atau orang lain, diatur dalam UU No. 20 Tahun 2001.

Pembahasan korupsi menurut syariat Islam oleh Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, dijelaskan bahwa korupsi adalah sebuah dosa besar berupa tindakan pengkhianatan terhadap amanah yang dipercayakan kepada seorang pegawai dan termasuk ghulul.

Islam sangat tegas sikapnya terhadap korupsi. Sayangnya, negara yang penduduknya mayoritas muslim seperti Indonesia memiliki reputasi yang buruk. Sedangkan, ranking teratas negara yang bersih dari korupsi adalah negara non muslim.

Contoh Ayat Al Qur’an Tentang Korupsi

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَخُوۡنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوۡلَ وَتَخُوۡنُوۡۤا اَمٰنٰتِكُمۡ وَاَنۡـتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ

27. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.

QS. Al Anfaal 6:27

وَمَا كَانَ لِنَبِىٍّ اَنۡ يَّغُلَّ‌ؕ وَمَنۡ يَّغۡلُلۡ يَاۡتِ بِمَا غَلَّ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ‌ ۚ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفۡسٍ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُوۡنَ

Dan tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang). Barangsiapa berkhianat, niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu. Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang dilakukannya, dan mereka tidak dizhalimi.

QS. Ali Imran 3:161

Contoh Hadits Tentang Korupsi

“Siapa saja yang kami pekerjakan lalu telah kami beri gaji maka semua harta yang dia dapatkan di luar gaji (dari pekerjaan tersebut) adalah harta yang berstatus ghulul (korupsi)” 

HR Abu Daud no 2943, dishahihkan Al Albani

Dalam hadits lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ketika berperang menaklukkan Khaibar dan berhasil mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang) berupa hewan ternak, peralatan, dan kebun kurma. Ketika pulang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang budak bernama Mid’am tertembak panah. Melihat hal itu, para sahabat nabi mengatakan “Selamat, ia mati syahid”. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui ia telah melakukan korupsi, sehingga beliau bersabda.

“Demi (Allah) Yang Jiwaku di TanganNya, sesungguhnya jubah (yang dia sembunyikan) dari rampasan perang Khaibar sebelum dibagi, telah menjelma menjadi api yang sedang membakarnya.”

Muttafaqun Alaih (Bukhari & Muslim)

Mendengar hal tersebut, seorang sahabat lainnya langsung menghadap nabi membawa tali terompah (sandal) yang ia sembunyikan dan berkata, “Wahai Rasulullah, ini harta yang aku gelapkan!” Lalu Nabi bersabda,

“Sebuah tali terompah, atau dua tali terompah dari neraka”

Muttafaqun Alaih (Bukhari Muslim)

“Siapa di antara kalian yang kami beri amanah dengan suatu pekerjaan lalu dia tidak menyerahkan sebuah jarum atau yang lebih bernilai dari pada itu kepada kami, maka harta tersebut akan dia bawa pada hari Kiamat sebagai harta ghulul (korupsi)”

HR Muslim no 4848

Terdapat hadits lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, suatu hari Nabi shalallahu alaihi wa sallam memperingatkan para sahabat tentang bahaya ghulul (korupsi), beliau bersabda,

“Jangan sampai nanti di akhirat aku temukan salah seorang diantara kalian memikul unta di pundaknya. Unta tersebut bersuara keras, lalu orang itu datang kepadaku berkata,”Wahai Rasulullah, tolonglah aku“. Aku berkata, “Aku tidak dapat menolongmu, bukankah aku telah memperingatkanmu (di dunia)“!


Jangan sampai nanti di akhirat aku temukan salah seorang diantara kalian memikul kuda di pundaknya. Kuda tersebut meringkik keras, lalu orang itu datang kepadaku berkata “,”Wahai Rasulullah, tolonglah aku“. Aku berkata, “Aku tidak dapat menolongmu, bukankah aku telah memperingatkanmu (di dunia)“!


Jangan sampai nanti di akhirat aku temukan salah seorang diantara kalian memikul kambing di pundaknya. Kambing tersebut mengembek keras, lalu orang itu datang kepadaku berkata “,”Wahai Rasulullah, tolonglah aku“. Aku berkata, “Aku tidak dapat menolongmu, bukankah aku telah memperingatkanmu (di dunia)“!

Jangan sampai nanti di akhirat aku temukan salah seorang diantara kalian membawa kain di pundaknya. Kain tersebut melambai-lambai, lalu orang itu datang kepadaku berkata “,”Wahai Rasulullah, tolonglah aku“. Aku berkata, “Aku tidak dapat menolongmu, bukankah aku telah memperingatkanmu (di dunia)“!


Jangan sampai nanti di akhirat aku temukan salah seorang diantara kalian memikul emas dan perak di pundaknya. Orang itu datang kepadaku berkata “,”Wahai Rasulullah, tolonglah aku“. Aku berkata, “Aku tidak dapat menolongmu, bukankah aku telah memperingatkanmu (di dunia)“!

Kisah Sahabat Nabi Tentang Korupsi

Meringkas dari situs Ustadz Dr. Aris Munandar seorang sahabat yang bernama ‘Iyadh bin Ghanam, ketika diangkat menjadi gubernur Himsh pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, sejumlah keluarganya datang bermaksud meminta bantuan ‘Iyadh. ‘Iyadh menyambutnya dan menyediakan tempat menginap untuk beberapa hari. Keluarganya menceritakan perjalanannya dan berterus terang meminta bantuan kepada ‘Iyadh, seorang gubernur.

‘Iyadh berikan masing-masing 10 dinar kepada mereka (lima orang). Ternyata, mereka justru marah dan mencela ‘Iyadh karena yang diberikan hanya sedikit.

Iyadh berkata, “Wahai anak-anak pamanku, demi Allah aku tidak mengingkari hubungan kekerabatan kita. Aku juga mengerti kalian punya hak untuk mendapat bantuanku serta jauhnya perjalanan kalian sampai sini. Namun, aku tidak punya apa-apa kecuali yang sudah kuberikan itu. Untuk lebih dari itu, aku harus jual budakku dan barang-barang kebutuhanku. Maka tolong mengertilah keadaanku”.

Mereka (saudara-saudara ‘Iyadh mengatakan, “Demi Allah kami tidak bisa menerima alasanmu, karena engkau adalah penguasa setengah negeri Syam. Masa engkau tidak bisa beri kami ongkos pulang yang mencukupi?”.

‘Iyadh dengan tegas mengatakan,

“Apakah kalian menyuruhku untuk mencuri harta Allah?

Demi Allah, seandainya badanku dibelah dengan gergaji, itu lebih aku sukai daripada aku berkhianat mengambil harta negara meski hanya satu fulus (seratus rupiah) atau aku bertindak melampaui batas”.

Mereka berkata, “Kami sudah bisa memahami kemampuan finansialmu. Sebagai gantinya, berilah kami jabatan yang menjadi kewenanganmu. Kami akan melaksanakan tugas sebagaimana para pegawai yang lain dan kami mendapatkan gaji sebagaimana yang juga mereka dapatkan. Engkau telah mengenal kami dengan baik. Kami tidak akan menyalahgunakan wewenang yang kau berikan kepada kami”.

“Sungguh aku adalah orang yang sangat ingin berbuat baik dan memberi jasa kepada kepada orang lain. Tetapi apa jadinya kalau berita itu sampai kepada Umar bahwa aku memberi jabatan kepada sejumlah keluargaku. Beliau pasti akan menyalahkanku”.

Mereka berkata, “Bukankah Abu Ubaidah yang mengangkatmu sedangkan engkau masih kerabat dekat Abu Ubaidah dan nyatanya Umar menyetujui pengangkatanmu? Seandainya engkau mengangkat kami niscaya Umar pun akan setuju”.

Beliau berkata, “Aku tidaklah sebagaimana Abu Ubaidah dalam pandangan Umar”. Akhirnya mereka pergi sambil mencela Iyadh.

Beliau adalah seorang yang dermawan dengan hartanya sendiri, tetapi amanah dengan harta negara. Umar pernah berkata, “Beliau hanya dermawan dengan hartanya. Akan tetapi jika beliau memegang harta Allah (uang negara) maka tidak akan beliau berikan sedikitpun kepada siapapun.”

‘Iyadh bin Ghanam meninggal dunia tanpa meninggalkan harta sedikitpun.

Baca juga: Karyawan Bisa Korupsi Saat WFH?

Similar Posts