Begini Cara Mendapatkan Kredit Modal Usaha dari Bank Syariah Tanpa Riba

Begini Cara Mendapatkan Kredit Modal Usaha dari Bank Syariah Tanpa Riba

Bank Syariah adalah lembaga penerima dana dan sekaligus penyalur dana nasabah untuk dibisniskan sehingga mendapat keuntungan yang bisa dibagi hasilnya. Diantara cara Bank Syariah ada dua bentuk akad: permodalan dengan bagi hasil dan pembiayaan (kredit) tanpa bunga.

Kali ini, SWM akan membahas tentang cara mendapat modal usaha lewat akad pembiayaan (kredit) ya, jadi bukan melalui akad bagi hasil. Untuk mendapatkan modal usaha dengan bagi hasil, bisa dilakukan akad mudharabah atau musyarakah, dimana bank memberikan uang tunai sebagai modal yang disetorkan kepada bisnis nasabah. Jika bisnisnya untung, maka bank menerima bagi hasil, jika rugi, maka menanggung kerugian.

Namun, ada kalanya nasabah butuh uang tunai, tetapi tidak bisa dengan akad mudharabah atau musyarakah, misalnya nasabah menemukan akad mudharabah atau musyarakahnya ada pelanggaran syariat. Pada saat itu, nasabah sebenarnya bisa mendapatkan uang tunai meski dengan akad pembiayaan (kredit). Sebentar lagi akan kita jelaskan.

Sebagaimana yang telah SWM jelaskan sebelumnya, Bank Syariah berbeda dengan Bank Konvensional (bisa dibaca di sini). Bank konvensional memberikan uang tunai dan bunga sekian persen. Sedangkan, dalam Islam, haram hukumnya memberikan pinjaman/utangan dan pengembaliannya berlebih. Misalnya, pinjam uang Rp 100 juta, dikembalikan totalnya Rp 150 juta (biasanya dalam bentuk bunga 8% per tahun, atau dalam bentuk denda keterlambatan). Ini adalah riba, dan haram hukumnya.

Dalam bank syariah disediakan akad murabahah, dimana nasabah dapat terpenuhi kebutuhannya meskipun bukan dengan pinjaman. Misalnya, nasabah memerlukan mesin percetakan untuk bisnisnya seharga Rp200 juta, maka Bank Syariah tidak memberikan uang tunai Rp200 juta ke nasabah, tetapi Bank akan membeli mesin tersebut dari vendor senilai Rp200 juta, kemudian Bank menjualkan kepada nasabah seharga Rp250 juta dengan pembayaran dicicil 1 tahun. Maka, yang terjadi adalah jual beli dengan keuntungan, bukan utang piutang dengan bunga.

INGAT Murabahah bank syariah tidak mungkin memberikan uang tunai. Sebab, jika yang diberikan adalah uang, maka itu adalah pinjaman uang namanya, dan hukumnya riba jika bank mendapat untung. Maka murabahah itu pasti berupa barang, karena dilakukan secara jual beli barang.

Jika Bank Syariah tidak bisa memberikan uang tunai dan hanya bisa memberikan barang (secara murabahah), apakah ada cara mendapatkan uang tunai jika butuhnya uang?

SWM memberikan 3 solusi murabahah yang bisa dipilih. Yuk kita pelajari satu per satu.

  1. Mengatur Penggunaan Kas di Perusahaan

Misalnya, Pak Tito (bukan nama sebenarnya) membutuhkan dana sekitar 300 juta untuk gaji dan THR karyawan. Tidak mungkin dong, Pak Tito murabahah ke bank untuk gaji karyawan? murabahah ‘kan harus berupa barang yang bisa dibeli dan dijual. Maka, Pak Tito bisa mengatur penggunaan kas di perusahaan, yang awalnya uang 500 juta biasa untuk beli inventori, kini Pak Tito gunakan untuk membayar gaji dan THR, sedangkan untuk beli inventori, dilakukan secara murabahah di bank syariah.

Cara ini dapat dilakukan jika ada kas yang masih bisa direalokasikan.

2. Menjual Kembali Barang yang Dimurabahahkan

Ambil kisah lain, Pak Endi misalnya, ia membutuhkan dana sebesar Rp 200 juta untuk kas bisnisnya. Maka yang ia lakukan adalah ia bermurabahah dengan Bank Syariah untuk membeli satu unit mobil bekas sebesar Rp200 juta dan ia kredit selama 5 tahun dengan total harga Rp 280 juta. Mobil bekas tadi kemudian ia jual kembali secara tunai ke pihak lain dengan tawar menawar. Menariknya, ia justru mendapatkan keuntungan karena ia berhasil menjualnya seharga Rp 220 juta tunai.

Mengapa mobil bekas? tentu karena mobil baru itu harganya langsung anjlok ketika turun ke jalan. Sedangkan, mobil bekas harganya tidak berbeda apakah tangan pertama atau kedua, biasanya yang dilihat adalah tahun keluaran dan kilometer saja. Selain itu, mobil bekas cukup fleksibel dari sisi tawar menawar harga.

Cara ini dapat dilakukan jika nasabah memiliki kemampuan menjual suatu barang dan uang kas yang diperlukan tidak mendesak.

3. Menjadi Penengah dalam Jual Beli

Apa maksudnya menjadi penengah dalam jual beli? Misalnya seperti ini, Pak Anton membutuhkan dana tunai sebesar Rp 150 juta. Pak Anton mengetahui seorang teman, yakni Pak Toni yang biasanya membeli inventori sebesar Rp200 juta setiap bulan ke supplier. Kali ini, Pak Anton akan menjadi penengah antara Pak Toni dan supplier.

Pak Toni bulan ini tidak beli langsung dari supplier, tetapi Pak Anton lah yang beli dari supplier dengan cara murabahah dengan bank syariah (misal deal di harga Rp250 juta).

Ketika Pak Anton berhasil murabahah dengan Bank Syariah atas inventori tersebut, maka kini Pak Anton memiliki utang ke Bank Syariah DAN segudang inventori. Inventori inilah kemudian dijual kepada Pak Toni senilai Rp198 juta tunai.

Kini, Pak Toni sudah memiliki inventori (dan hemat Rp2 juta, karena biasanya Rp200 juta, Pak Anton rela menjual di angka Rp198 juta), dan Pak Anton memiliki uang tunai Rp198 juta. Cukup untuk memenuhi kebutuhan Rp150 juta, sisa Rp48 juta ia bayarkan ke Bank Syariah sebagai angsuran.

Cara ini dapat dilakukan jika nasabah memiliki kenalan orang lain yang ingin beli suatu barang secara tunai, tetapi bisa nasabah ajukan murabahah atas barang tersebut.

Demikian tiga cara yang bisa dilakukan ketika membutuhkan uang tunai tetapi hanya bisa menggunakan akad murabahah. Meskipun begitu, tips di atas harus dilakukan dengan benar dan tidak melanggar kaidah-kaidah murabahah, wa’ad dilakukan dengan benar, serah terima barang dilakukan dengan benar, urutan akad, dan lain sebagainya. Sebab, jika salah bisa terjatuh ke dalam riba.

Syariah Wealth Management insyaallah dapat membantu mendampingi nasabah untuk berakad murabahah secara syar’i dan aman dari riba. Hubungi tim kami via whatsapp.

Leave a Reply