Seminar LKS 17 maret

Ada beberapa orang yang bekerja di Lembaga Keuangan Syariah (LKS) mengaku galau akhir-akhir ini.. Mengapa…? Ternyata karena RIBA telah merasuk kedalam Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia saat ini.

 

Berikut adalah contoh kasus yang terjadi di Lembaga Keuangan Syariah (LKS),

 

Beberapa orang guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) di sebuah desa menerima gaji dan serifikasi terlambat dari jadwal biasanya, gajian atau rapelan sertifikasinya baru diterima setiap 3 bulan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, misalnya untuk bayar sekolah, bayar sewa rumah dan biaya hidup lainnya para guru tadi mengajukan pembiayaan kepada BMT/BPRS/LKS dengan akad pembiayaan untuk dana pendidikan atau dana sewa (kontrak) rumah menggunakan akad Ijarah atau biasanya di kenal Ijarah bil manfaat, dimana BMT/BPRS/LKS menyewakan uang kepada para guru, lalu nanti ketika 3 bulan gaji atau sertifikasi guru keluar, para guru tadi membayarkan kembali uang yang diberikan tersebut kepada BMT/BPRS/LKS disertai dengan ujrah/fee dari biaya Ijarah (sewa) uang tersebut.

 

Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi tukar-menukar uang rupiah dengan rupiah yang dilakukan dengan tidak tunai dan tidak sama nominalnya. Disini terdapat indikasi bahwa sebenarnya BMT/BPRS/LKS telah memberikan pinjaman kepada para guru dengan tambahan atau kelebihan uang pada saat pengembalian pinjaman tersebut. JELAS hal ini adalah RIBA.

 

Jika menurut Anda hal ini akadnya adalah Ijarah maka jelas keliru, karena Ijarah/Sewa yang diambil adalah manfaat dari barang atau sesuatu yang disewakan. Barang atau sesuatu yang disewakan tidak boleh habis dipakai, jika habis dipakai maka hal itu adalah jual-beli. Bukankah jika kita menyewa rumah maka rumahnya masih ada fisiknya walau masa sewanya telah habis? Disini penyewa hanya mengambil manfaat dari rumah yang disewakan tersebut, penyewa tidak membeli rumah yang disewakan.

 

Sementara uang yang Anda sewakan akan habis dipakai dan bukannya disewa, kenapa…? Karena uang yang diberikan dari BMT/BPRS/LKS tersebut dipakai habis untuk kebutuhan rumah tangga. Dan nanti yang akan dikembalikan saat jatuh tempo adalah uang yang berbeda fisiknya dengan uang yang diberikan BMT/BPRS/LKS pada awalnya tadi.

Caranya mudah untuk mengetahuinya…,

Jika menurut Anda uang tadi disewakan dan tidak habis uangnya lalu para guru hanya mengambil manfaatnya, maka CATATLAH nomor seri uang yang Anda sewakan tersebut. Mungkinkah uang yang Anda sewakan tadi kembali lagi kepada Anda dengan nomor seri yang sama?

Jelaslah sudah bahwa uang yang BMT/BPRS/LKS berikan kepada para guru tadi dengan akad Ijarah Bil Manfaat adalah akad yang bathil dan batal demi hukum Islam. Akad yang sebenarnya terjadi adalah akad pinjam-meminjam uang dengan mendapatkan kelebihan dan ini jelas adalah RIBA.

 

يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

 

 

[2:276] Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah(1). Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa(2).

 

Catatan Kaki:

 

  1. Yang dimaksud dengan memusnahkan riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. Dan yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipatgandakan berkahnya.

 

  1. Maksudnya ialah orang-orang yang menghalalkan riba dan tetap melakukannya.

 

Marilah sejenak kita renungkan…,

Kita bekerja dan berusaha dengan niat membantu Ummat, namun jika yang kita lakukan adalah bisnis atau amal yang tanpa Ilmu, maka bisa jadi kita adalah pelaku bisnis/usaha yang masuk kedalam LUMPUR RIBA.

 

Bismillah, Kami mengajak Anda yang berjuang di Bidang Ekonomi Islam, khususnya lembaga BMT/BPRS/LKS untuk bersama-sama mengkaji dan belajar lebih dalam apa itu Ekonomi Islam dan bagaimana Fiqh Muamalah Maaliyah menjadi dasar dalam penerpan akad-akad pada Ekonomi Islam.

Hadirilah Seminar “Jangan Ada Riba di Lembaga Keuangan Syariah” yang akan diselenggarakan pada hari Jumat, 17 Maret 2017 pukul 08:00 – 11.30 WIB di Graha SWM, Komp. Ruko Bukit Cimanggu City Blok C3 No.1, Kota Bogor 16168
(Depan Bogor Icon Hotel).

Pendaftaran GRATIS untuk 10 pendaftar pertama :
Nama Lengkap # No. HP # Email # Kota #Lembaga/Institusi

Kirim ke : 0852-1385-1333.

NB : Peserta Seminar khusus untuk personil Lembaga Keuangan Syariah (BMT, BPRS, KJKS, Koperasi Syariah, atau Bank Syariah)

 

Syariah Wealth Management.

www.swm.co.id

This content is password protected. To view it please enter your password below:

Harta haram merupakan setiap harta yang didapatkan dari jalan yang dilarang dalam syar’iat. Seperti hasil judi, hasil merampok, hasil dari bunga bank, dan lainnya.

Seorang manusia yang hidup di abad modern ini, dituntut untuk mengumpulkan dan menumpuk harta sebanyak-banyaknya agar bisa hidup layak dan tenang dalam menghadapi masa depan diri dan anak cucunya. Pada saat itu orang-orang tidak peduli lagi dari mana harta dia dapatkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

Akan datang suatu masa, orang-orang tidak peduli dari mana harta yang dihasilkannya, apakah dari jalan yang halal atau dari jalan yang haram”. (HR. Bukhari)

Orang-orang tersebut dikelompokan menjadi 2 :

  1. Sebagian manusia tidak pernah peduli akan kaidah Rabbani dalam mencapai tujuan mencari harta, kelompok ini dianjurkan untuk memeriksa kembali akidah mereka, dimana mereka telah menjadikan dinar dan dirham sebagai Tuhannya dan tidak mengindahkan Allah.
  2. Sebagian lagi, orang-orang yang masih memiliki dhamir (hati) yang peka, akan tetapi karena mereka sedari kecil tidak pernah mengerti dan mempelajari ketentuan Allah tentang muamalat, kelompok ini –mau tidak mau- akan melanggar syari’at Allah saat mengumpulkan harta karena ketidaktahuannya.

Dampak Harta Haram Terhadap Pribadi dan Umat

Harta haram akan berdampak buruk terhadap pribadi secara khusus dan umumnya akan berdampak kepada umat manusia. Dampak-dampak tersebut antara lain :

  1. Memakan harta haram adalah perbuatan mendurhakai Allah dang mengikuti langkah syaitan, Allah berfirman :

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di Bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah : 168)

  1. Allah memerintahkan para rasul agar memakan harta dari yang halal saja

“Wahai para rasul, makanlah makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang sholih. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Mu’minuun : 51)

  1. Memakan harta haram adalah ciri khas kelompok mayoritas Yahudi yang diabadikan Allah dalam firman-Nya :

Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu”. (Al Maidah: 62)

  1. Perkara amat buruk yang menimpa mereka adalah api neraka (harta haram) yang setiap saat mereka masukan ke dalam perut mereka, karena diriwayatkan dari Rasulullah shallallah alaihi wa sallam:

Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, Sesungguhnya tidak tumbuh setiap daging yang diberi asupan makanan yang haram melainkan nerakalah yang berhak membakarnya”. (HR. Ahmad dan Tirmizi, dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

  1. Doa tidak dikabulkan

Doa merupakan inti dari ibadah shalat, maka dikhawatirkan pelaku pemakan harta haram ibadah shalatnya tertolak. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“ Allah tidak menerima shalat seseorang yang di dalam perutnya ada makanan haram”.

  1. Harta haram penyebab kehinaan, kemunduran serta kenistaan umat Islam saat ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Bila kalian melakukan transaksi ribawi, tunduk dengan harta kekayaan (hewan ternak), mengagungkan tanaman dan meninggalkan jihad niscaya Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dijauhkan dari kalian hingga kalian kembali kepada syariat Allah (dalam seluruh aspek kehidupan kalian)”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).

  1. Harta Haram yang merajalela pertanda azab akan turun menghancurkan masyarakat di mana harta haram tersebut berada. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda

“Apabila perzinahan dan riba merajalela di sebuah kampung, sungguh mereka telah mengundang azab untuk menimpa mereka”. (HR. Al Hakim, menurut Al Albani bahwa derajat hadis ini hasan li ghairihi).

Solusi

At Tirmizi meriwayatkan bahwa khalifah Umar bin Khattab  radhiyallahu ‘anhu, mengeluarkan perintah:  “Jangan berjualan di pasar ini para pedagang yang tidak mengerti dien (muamalat)”. (Sunan Tirmizi, sanad atsar ini dihasankan oleh syeikh Al Albani)

Juga diriwayatkan dari Imam Malik bahwa beliau memerintahkan para pengusaha untuk mengumpulkan seluruh pedagang dan orang-orang pasar, lalu beliau menguji mereka satu persatu, saat beliau dapati di antara mereka ada yang tidak mengerti hukum halal-haram tentang jual beli beliau melarangnya masuk ke pasar seraya menyuruhnya mempelajari fikih muamalat, bila telah paham, orang tersebut dibolehkan masuk pasar (Taubah Al Ghafilin, hal. 364)

Sehingga mari kita berilmu sebelum berdagang untuk menghindari mendapatkan harta haram yang berdampak kepada kehidupan kita baik di Dunia maupun di Akhirat kelak.

Dikutip dari Buku Harta Haram Muamalat Kontemporer, karya Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA.

Bagi para pebisnis, memindahkan rekening dari rekening bank konvensional ke bank syariah memang membutuhkan keberanian dan niat yang kuat. Kenapa butuh keberanian? Karena banyak alasan untuk belum berpindah karena pengalaman di bank syariah yang belum se profesional dan selengkap fasilitasnya bank konven, sebagai seorang pengusaha muslim saya pun merasakannya.

Tidak bisa kita pungkiri bank syariah memang belum sempurna, namun pantang bagi seorang muslim mencela atau bahkan memusuhi bank syariah, karena mereka sedang berusaha menegakkan syariat Islam dengan baik, bersama sama kita perbaiki dan dukung bank syariah.  InsyaAllah bank syariah tetap berusaha mewujudkan performa terbaiknya, tentunya dengan support kita para pengusaha muslim, dan alhamdulillah saat ini saya sudah bermigrasi ke bank syariah, No konven again !

Bagi anda yang memang sangat membutuhkan jasa bank Konvensional dan belum bisa “move on” dari bank konven karena alasan bisnis dan kemudahan bertransaksi, anda tetap tidak boleh melupakan bahwa menabung atau membuka rekening di Bank Konven adalah Haram Hukumnya, karena terdapat akad dan transaksi RIBA di dalam nya.

Seandainya anda sangat “kefefet” dan “kepekso” menggunakan jasa bank konvensional maka Islam tetap mempunyai solusi.

Solusi nya adalah dengan menghilangkan akad Bunga dalam tabungan atau rekening anda di bank konvensional tersebut. Cobalah datangi bank konven tersebut untuk mengutarakan niatan menjalankan Perintah Allah ini.. sampaikan bahwa kita tidak ingin mendapatkan “Satu Rupiah” pun tambahan dari uang kita yang kita simpan di bank. Jika tidak bisa dihilangkan dengan rekening yang lama, cobalah untuk mengajukan pembuatan rekening baru dengan syarat point tentang Bunga di akad dalam form pembukaan rekening dihilangkan. Jika mereka tetap menolak, kita tinggal menyampaikan dengan berat hati akan menarik dan tidak menggunakam bank konven lagi, karena sangat naif kalo kita tetap menggunakan bank konven saat mereka secara sengaja mengajak kita menantang Allooh dengan tetap melakukan RIBA. Tak terbayang oleh kita jika kita menantang Allah dan Rasulnya berperang, sedang menantang atasan di kantor saja kita tidak berani, bagaimana mungkin anda berani menantang Allah berperang? Sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat Al Baqarah ayat 279:

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika Kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”

Jadi sudah sangat jelas dalam hal ini bukan masalah makan uang ribanya yang dosa sehingga orang bisa berdalih kalo di bank konven jika bunganya di pisah dan tidak dimakan menjadi tidak dosa, itu keliru, karena yang berdosa adalah menyepakati akad Ribanya, apalagi memakan uang Ribanya.. dengan menyepakati jika kita menabung di bank memperoleh bunga tiap bulannya maka itulah yang dimaksud kita menyepakati akad Riba.

Saya menyarankan penghilangan atau penghapusan akad Riba ini, karena sudah beberapa kolega dan teman bisnis yang melakukan hal ini dan ternyata bunganya bisa dihilangkan, terutama bagi para “Nasabah Prioritas”

Jika anda telah menghilangkan akad Riba dalam bank konven maka insyaAllooh anda terhindar dari Dosa Riba yang membinasakan ini. Kenapa saya sebut Dosa Riba ini membinasakan? Karena Allah sudah menyampaikan ancaman bagi orang yang tetap ngeyel melakukan Riba dalam surat Al Baqarah:

يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

[QS.2:276] Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah(1). Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa(2).

Catatan Kaki:

  1. Yang dimaksud dengan memusnahkan riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. Dan yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipat gandakan berkahnya.
  2. Maksudnya ialah orang-orang yang menghalalkan riba dan tetap melakukannya.

Tulisan ini tidak untuk memotivasi orang untuk menggunakan bank konven melainkan memberikan solusi bagi anda yang sedang dalam keadaan terpaksa ber muamalah menggunakan bank konven. Islam itu mudah dan penuh solusi, karena islam adalah Rahmatan lil ‘alamiin..

Mungkin anda bertanya tanya, lho pak Rangga kok malah memperbolehkan bermuamalah dengan Bank Konvensional yang Jelas Jelas Milik Yahudi???

Segala sesuatu telah Rasulullah contohkan dalam kehidupan nya yang mulia. Bukan kan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga bermuamalah dengan yahudi??? Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memang bermusuhan dan saling membunuh di medan perang dengan yahudi saat terjadi peperangan. Namun saat tidak berperang, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tetap bermuamalah dengan Yahudi.. beliau berjual beli dengan Yahudi bahkan melakukan hutang piutang dengan yahudi pun Rasulullah pernah, namun Rasulullah berakad hutang dengan tanpa Riba tentunya.

Semua kegiatan Muamalah yang baik dan benar akan membuat hidup kita Indah dan Berkah. Semua karena kita mempunyai Ilmu sebelum melangkah.. kita punya Ilmu sebelum berdagang dan berbisnis.

Salam Berkah dan Berkelimpahan
@emasrangga
Founder dan CEO Syariah Wealth Management (SWM)