Cara Halal Menjadi Reseller Tanpa Modal

Cara Halal Menjadi Reseller Tanpa Modal

Kalau kita beriman kepada Allah yang Maha Memberi Rezeki, selama kita yakin dengan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya dan ada kemauan serta keyakinan bahwa selalu ada jalan untuk mencari rezeki yang halal, insyaallah selalu ada jalan di masa sesulit apapun.

Dengan begitu, kita tidak bisa sembarangan menggunakan segala cara untuk mendapatkan uang, karena Allah selalu bukakan jalan yang Allah ridhoi dalam membagikan rezeki-Nya.

Bagi pembaca yang saat ini merasa kesulitan dalam mencari nafkah, hendaknya kita senantiasa bertawakkal dan mudah-mudahan Allah lapangkan rezeki kita.

Kali ini Syariah Wealth Management akan membahas tentang cara menjadi reseller halal tanpa modal.

Loh emangnya ada yang haram? Nah, seperti bisnis biasanya, pasti ada yang halal dan ada yang haram. Sayangnya, masih banyak yang belum sadar tentang aturan syariat dalam berjualan, apalagi jualan online, sehingga sudah susah-susah mencari uang, pas berhasil malahan haram. Na’udzubillah.

Tips Bisnis Online Tanpa Modal

Banyak tips yang beredar di internet tentang tips cara-cara usaha online tanpa modal. Supaya mengerti apakah cara tersebut halal atau haram, perlu ketahui terlebih dahulu bahwa dalam jual beli itu harus terpenuhi syarat sah jual beli, yakni:

  1. barang yang diperjual belikan harus halal
  2. barang dan harga harus jelas diketahui saat akad
  3. saling ridho kedua belah pihak
  4. Pelaku akad telah baligh, berakal, dan tamyiz
  5. barang bisa diserahterimakan
  6. barang sudah dimiliki dan diterima oleh penjual sebelum dijual kembali

Untuk poin 1-5 mungkin sudah biasa dan dipahami, tetapi poin syarat ke-6 ini yang biasanya banyak orang terlewat dan menjadikan bisnis onlinenya menjadi haram.

Reseller tanpa modal bisa saja dengan cara dropshipper, yaitu tidak memiliki stok barang. Ketika ada yang pesan, penjual ini akan membeli barang dari pihak supplier dan mengirimkan barang pesanan langsung ke konsumen. Ini jelas tidak memenuhi syarat sah jual beli nomor 6, karena ketika menjual, pihak penjual tidak memiliki barang dan tidak pula menerima barang tersebut.

untuk pembahasan dropshipper yang halal klik di sini.

Loh kalau barangnya harus sudah dimiliki, gimana caranya tanpa modal? Apa harus menjadi Agen? Baca sampai selesai yaa

Menjadi Reseller atau Agen?

Seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya, agen halal hukumnya untuk dropship, sedangkan reseller tidak.

Memang secara syariat hanya agen/wakil penjual yang boleh dropship, sedangkan Reseller harus memiliki stok barang. Namun, kekurangannya adalah Agen tidak bebas menjual barang tersebut, karena biasanya Agen diberikan harga patokan dalam menjual. Sehingga keuntungan agen tidak maksimal. Selain itu, agen juga biasanya mendapatkan komisi yang lebih kecil dibandingkan keuntungan reseller yang langsung beli dari supplier dalam jumlah grosir.

Jadi, Agen boleh dropship (tanpa stok, tanpa modal), tetapi komisinya sedikit. Sedangkan Reseller tidak boleh dropship, tetapi dapat memaksimalkan keuntungan.

bingung menentukan jadi Reseller atau Agen? klik di sini

Reseller Bisa Tanpa Modal

Reseller meskipun harus memiliki stok tetap bisa tanpa modal, yaitu dengan cara membeli stok dagangan dengan pembayaran tertunda/kredit. Misalnya membeli stok pakaian beberapa lusin atau sampai mendapatkan harga yang murah, lalu meminta pembayarannya secara kredit 30 hari.

Dengan cara ini, Reseller memiliki waktu setidaknya 30 hari untuk berjualan dan melunasinya. Memang laku atau tidak tergantung barangnya, tetapi insyaallah pembayaran tempo 30 hari itu umum dilakukan, dan waktu sebulan itu cukup untuk berjualan.

“Apakah boleh menjual barang tersebut, padahal kita belum lunas?”

Nah, di sini kuncinya. Dalam syarat sah jual beli di atas, yang disyaratkan adalah “Barang harus sudah dimiliki dan diterima”, bukan “Barang harus sudah lunas”

Sehingga, yang penting adalah barang dagangan tadi harus sudah deal akad jual belinya dengan supplier, harga disepakati, dan barangnya dibawa oleh Reseller, halal sudah bagi Reseller untuk menjual kembali dengan harga berapapun.

Kalau Tidak Laku Bagaimana?

Tips Reseller yang Tidak Laku

Supaya mengantisipasi barang yang tidak laku, Reseller di awal akad dapat meminta khiyar syarat kepada supplier. Dalam Islam, diperbolehkan adanya khiyar syarat.

Apa itu khiyar syarat?

Khiyar syarat adalah ketika pihak pembeli (reseller) meminta syarat kepada penjual untuk mengembalikan barangnya (tidak jadi membeli) dalam masa khiyar yang disepakati.

Misalnya, masa khiyar syarat disepakati yaitu 20 hari. Maka kedua belah pihak, penjual dan pembeli (reseller) diperbolehkan untuk mengembalikan barang yang dibeli dan membatalkan jual belinya. 

Ulama berbeda pendapat masa khiyar syarat yang diperbolehkan, ada yang mengatakan maksimal 3 hari, ada yang mengatakan 2 bulan, tetapi pendapat yang lebih kuat adalah bahwa boleh selama apapun yang penting jelas disepakati kedua belah pihak sejak awal.

Dengan demikian, misalnya Reseller tadi sudah 20 hari tidak laku-laku, dan ingin mengembalikan barangnya saja, itu boleh. Selama barang dagangan tadi belum rusak.

Maka jangan putus asa, selalu ada jalan mencari rezeki yang halal insyaallah meskipun berbisnis dari nol.

Akan tetapi, berhati-hati dari riba!

Berikut ini, sebagai tambahan, kami jelaskan dua contoh riba yang bisa menimpa Reseller dan harus dihindari.

Beli barang secara kredit dengan dua harga. Misalnya 5/10, n/30

Jual beli seperti ini riba, karena terdapat dua harga yang disepakati dalam satu akad. Jika dia melunasi dalam 10 hari maka dia mendapatkan harga Rp95.000,- misalnya (lebih murah 5%), tetapi jika dia terlambat dan baru bisa melunasi hingga 30 hari maka dia membayar lebih yaitu Rp100.000,-. Ini riba hukumnya

Menjual barang yang belum diterima

Ada pesanan masuk, lalu Reseller menjual dengan harga Rp50.000,- lalu Reseller beli ke Supplier dengan harga Rp35.000,- dan barang tersebut dikirimkan kepada pembeli.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang seseorang menjual bahan makanan yang telah dibelinya sebelum ia menerimanya. Seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas, “Mengapa dilarang?”, Ibnu Abbas menjawab, Karena dirham ditukar dengan dirham sedangkan bahan makanan ditangguhkan” (HR. Bukhari).

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menjelaskan fenomena ini bahwa ini riba, sebab uang Rp50.000 ditukar dengan uang Rp35.000 (riba bai’) sedangkan objek jual beli berada di tangan penjual pertama.


Wallahu a’lam, semoga artikel ini membantu dan memberikan petunjuk dan semangat bagi kita dalam mencari rezeki yang halal.

Jangan lupa, follow SWM di Instagram, @swm.co.id