Cara Kredit Syariah yang Benar

Dalam memenuhi kebutuhan hidup dengan dana yang terbatas, manusia memiliki dua pilihan antara menabung atau berutang. Menabung artinya mengumpulkan dana yang dimiliki saat ini untuk membeli barang yang diinginkan kemudian. Sedangkan berutang artinya membeli barangnya saat ini dan dibayar cicil kemudian.

Baca: Perbedaan Tabungan Syariah dan Konvensional

Biasanya terdapat perbedaan antara harga beli tunai, dengan harga cicilan. Sebab bagi bank atau penjual yang memberi kredit terdapat peluang yang dikorbankan kepada pembeli, yaitu uang yang seharusnya dapat diputar untuk bisnis kembali menjadi terhambat karena pembayarannya dilakukan secara cicil, sehingga pembeli menanggung pembayaran yang lebih besar.

Apakah membeli barang secara cicil dengan harga yang lebih mahal diperbolehkan dalam Islam?

Dalam fikih muamalah, nasabah atau pembeli harus teliti atas transaksi yang dia lakukan, barulah bisa terlihat apakah yang dilakukan halal atau haram. Dua transaksi dapat dilakukan dengan harga yang sama dan barang yang sama, tetapi ternyata hukumnya haram karena perbedaan akadnya.

Kredit yang dilakukan secara konvensional umumnya adalah praktek meminjam uang. Di mana Bank memberikan pinjaman uang kepada nasabah, atau penjual bekerja sama dengan Bank atau untuk memberikan pinjaman uang kepada pembeli yang ingin membayar secara cicil atas barang tersebut. Kemudian nasabah membayar utang beserta bunganya. Yang demikian ini hukumnya haram.

Misalnya, Umar membeli motor ke sebuah dealer. Umar mengambil kredit dengan harga 15 juta (lebih mahal dari tunai Rp10 juta). Kemudian Umar membawa pulang motor tersebut, dan Dealer menagih pembayaran ke Bank Rp10 juta, dan Umar kini berhutang ke senilai Rp15 juta bank.

Ini adalah utang piutang dengan bunga yang haram hukumnya. Leasing, KPR, Kartu Kredit, prosedurnya berbeda, tetapi berangkat dari kerangka kerja yang sama seperti ini.

Baca: Perbedaan Kredit Konvensional vs Syariah

Sedangkan dalam syariah, tidak diperbolehkan mengambil keuntungan dari utang. Oleh karena itu skemanya bukan utang tetapi jual-beli. Jual beli kredit dengan harga yang lebih mahal hukumnya halal. Dengan syarat, ketika penjual memberikan beberapa harga, tunai dan kredit, pembeli memilih salah satunya ketika berakad.

Selain itu harus dipastikan juga jual beli kredit tersebut bukanlah utang ke bank, melainkan memang utang/kredit ke penjualnya langsung.

Sebanarnya, boleh juga jika mengambil kredit pembiayaan dengan bank, tetapi mekanismenya adalah barang tersebut dibeli terlebih dahulu oleh Bank, kemudian kita membelinya dari bank secara cicil. Jadi, bank sebagai penjual, bukan sebagai pemberi pinjaman atau menalangi utang nasabah.

Meskipun secara asal hukumnya halal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan nasabah/pembeli dalam mengambil kredit secara syariah.

1. Memahami Aturan dan Ketentuan Akad yang Digunakan

Kredit secara syariah harus mengikuti skema akad jual beli yang benar sesuai dengan prosedurnya. Skema tersebut dapat berupa jual beli kredit biasa, Murabahah, Ijarah Muntahiya bit Tamlik (IMBT), maupun Musyarakah Mutanaqishah (MMQ), atau lainnya, sedangkan semuanya memiliki syarat dan ketentuan yang berbeda-beda.

Akad-akad tersebut dipelajari dalam fikih muamalah. Menjalankan tanpa mengikuti standar prosedur akad atau menyalahi syarat dan ketentuan dapat mengakibatkan akadnya rusak, transaksinya batal, atau kreditnya menjadi riba yang diharamkan.

Baca: Prosedur Akad Murabahah yang Benar

2. Memeriksa Persyaratan Jual Beli Kredit

Dalam berakad, biasanya tidak hanya dilakukan murni akad jual belinya saja, tetapi terdapat hal-hal lain yang dipersyaratkan yang mengikuti jual beli kredit ini. Misalnya, garansi dan retur, barang jaminan, denda keterlambatan, hingga asuransi.

Masing-masing ketentuan tersebut harus diperhatikan oleh nasabah jika ingin kredit secara halal. Misalnya, denda keterlambatan, yaitu tambahan uang yang harus dibayar oleh nasabah.pembeli karena pelunasan utang yang terlambat, ini merupakan riba sebagaimana utang dengan bunga di bank konvensional.

Contoh lainnya adalah adanya asuransi yang ribawi dalam akad. Dalam tinjauan fikih muamalah, asuransi hukumnya riba, dan bahkan lebih banyak pelanggaran syariatnya dibandingkan bank konvensional. Oleh karena itu, ketika jual beli kredit nasabah sudah halal, harus berhati-hati dengan syarat-syarat yang menjerumuskan nasabah kembali ke dalam riba.

3. Melihat Kemampuan Diri dan Bertekad untuk Melunasi

Dalam berutang (baik itu dari meminjam uang maupun membeli barang secara kredit), nasabah harus mengetahui kondisi keuangan diri apakah tergolong aman dan mampu untuk melunasi atau tidak.

Sebab, jika dia tidak mampu, maka kreditur dapat menagihnya terus kepadanya dan dia harus melunasinya dengan cara mencari pinjaman lain, menjual harta-hartanya, maupun menjual barang gadaiannya. Jika dia terlilit utang dan tidak dapat melunasinya, maka dia akan dinyatakan bangkrut dan dilarang untuk memanfaatkan harta-hartanya kembali.

Adapun, jika dia meninggal tanpa menyisakan harta yang dapat digunakan untuk membayar utangnya atau orang lain yang bersedia menanggungnya, maka dia terancam hilang pahala-pahalanya, sebagaimana dalam hadits shahih 

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414.

Sedangkan jika kita sebenarnya mampu, tetapi lalai dan enggan membayarnya, maka hendaknya kita merenungi hadits ini

Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410)

Maka dari itu, pembeli/nasabah harus memiliki perhitungan yang matang atas kemampuan diri, serta kritis dalam meninjau kepatuhan syariah atas transaksi yang dijalankan.

Pendampingan Akad Lembaga Keuangan Syariah

Syariah Wealth Management mendampingi nasabah dalam berakad dengan lembaga keuangan syariah dalam rangka mengawasi pelaksanaan akad sesuai standar prosedur muamalah yang syar’i mengacu pada AAOIFI Shariah Standards, dengan mengedukasi nasabah tentang akad, memeriksa setiap dokumen akad, memberikan review dan mengajukan revisi akad, hingga bernegosiasi kepada lembaga keuangan untuk menjaga kepatuhan […] Hubungi SWM