Tata Cara Syirkah Mudharabah yang Benar Sesuai Syariat (Lengkap)

Tata Cara Syirkah Mudharabah yang Benar Sesuai Syariat (Lengkap)

Cara membangun bisnis tanpa modal diantaranya adalah dengan cara syirkah. Sebelumnya sudah dijelaskan tentang cara bersyirkah melalui artikel sebelumnya, tetapi mungkin masih banyak yang bertanya-tanya bagaimana cara memulai bisnis syirkah. Berikut ini cara memulai bisnis dengan syirkah mudharabah dengan ilustrasi yang mudah dan lengkap.

Syirkah adalah menggabungkan harta dan/atau tenaga dalam sebuah usaha bersama yang keuntungannya dibagi bersama. Mudharabah (mudarabah) adalah salah satu bentuk syirkah yang terdiri atas dua pihak: pengelola (mudharib) dan pemodal (shahibul mal), sedangkan pengelola tidak ikut menyertakan modalnya.

Pihak mudharib bisa berupa perorangan, bisa juga sebuah perusahaan. Demikian pula pemodal (shahibul mal), bisa satu orang, bisa sebuah syirkah (sekelompok investor bersyirkah modal terlebih dahulu) kemudian menyerahkan modal kepada mudharib.

Aturan Penting dalam Syirkah Mudharabah

Sebelum kita membahas lebih lanjut tata cara syirkah mudharabah, pahami lima kaidah penting berikut ini:

  1. MUDHARIB adalah pihak yang menyertorkan tenaga dan berhak atas bagian keuntungan jika untung, dan menanggung rugi berupa membuang tenaga tetapi tidak menghasilkan apa-apa. MUDHARIB menanggung rugi “capek kerja”, tapi tidak menanggung kerugian finansial.
  2. SHAHIBUL MAL adalah pihak yang menyertorkan modal. 100% modal berasal dari SHAHIBUL MAL, sehingga 100% saham bisnis yang dijalankan adalah milik SHAHIBUL MAL. Dari awal berjalannya usaha, sampai berakhirnya usaha, 100% sahamnya tetap milik SHAHIBUL MAL. MUDHARIB tidak memiliki saham apa-apa, hanya mendapat bagi hasil saja.
  3. Bagi hasil berdasarkan kesepakatan (nisbah bagi hasil) antara MUDHARIB dan SHAHIBUL MAL. Sedangkan bagi rugi berdasarkan nisbah modal, yakni 100% ditanggung SHAHIBUL MAL.
  4. Bagi hasil diambil dari LABA BERSIH, bukan PENDAPATAN.
  5. MUDHARIB wajib amanah dalam menjalankan bisnis, tetapi tidak boleh menjamin keuntungan dan tidak boleh menjamin akan balik modal kepada SHAHIBUL MAL.

Cara Memulai Bisnis dengan Syirkah Mudharabah

Berikut ini adalah cara memulai bisnis tanpa modal dengan syirkah mudharabah. Sebenarnya, dalam syirkah ini, mudharib biasanya berupa perorangan/individu. Namun, bisa juga mudharib adalah sebuah perusahaan. Tetapi perlu diingat, karena akadnya mudharabah, maka perusahaan tidak menyertakan modal apapun, modal seluruhnya dari investor, perusahaan hanya ‘bekerja’ saja sebagaimana tugasnya.

Sebagai ilustrasi, kita gunakan PT. AFWAN sebagai mudharib, mendapat tawaran proyek menyuplai katering kepada sebuah acara yang berlangsung selama dua pekan, dibayar secara tempo akhir bulan. PT. AFWAN sebenarnya sudah memiliki usaha produksi makanan yang berjalan. Namun, untuk proyek katering acara ini ia tidak memiliki modal untuk membeli aset, sewa dapur, dan bahan-bahan. Tetapi, PT. AFWAN mempunyai chef dan staf yang mahir memasak yang masih bisa dipekerjakan di proyek katering tersebut.

Dalam hal ini, PT. AFWAN adalah mudharib yang menyediakan tenaga, tetapi ia memerlukan modal sehingga mencari shahibul mal. Tenaga dalam hal ini adalah memproduksi makanan untuk pemesan katering, dan hal yang berkaitan dengannya.

Idang adalah CEO PT. AFWAN, dan ia memiliki beberapa orang teman yang bisa ditawarkan investasi ini: Nanang, Ali, Ahmad, dan Mahmud. Keempat orang ini patungan dan mencapai modal 200 juta. Patungan mereka dibuat akad terlebih dahulu, menjadi sebuah syirkah modal yang dinamakan NAAM. Sehingga syirkah NAAM ini menjadi shahibul mal.

Ketika akad mudharabah, disepakati bagi hasilnya 70:30 (PT. AFWAN : NAAM). NAAM segera menyerahkan modal uang dan barang (berupa kompor dan oven) dan semuanya sudah dinilai total Rp200 juta, kepada PT. AFWAN.

—————————NERACA (Awal Syirkah)—————-

AKTIVA: Kas 190 Juta. Peralatan Masak 10 juta.

TOTAL 200 juta

———————————————————————

UTANG: 0

MODAL: NAAM 200 juta.

TOTAL 200 juta (balance)

———————————————————————

PT. AFWAN menggunakan uang tersebut untuk membeli peralatan masak, listrik, gas, dan bahan-bahan untuk memproduksi katering. Adapun, upah bulanan chef dan staf tidak diambil dari uang tersebut, karena chef dan staf adalah karyawan PT. AFWAN yang dalam hal ini menjadi kewajiban PT. AFWAN. Sedangkan biaya transportasi/pengiriman ditanggung oleh syirkah.

Penjelasannya seperti ini: MUDHARIB pada asalnya adalah PT. AFWAN, ia bertugas menjalankan proyek ini: memproduksi makanan (memasak). Namun, PT. AFWAN mempunyai anak buah yang sudah berakad sejak awal, dengan kata lain, chef dan staf tersebut bukan karyawan SYIRKAH, tapi karyawan PT. AFWAN. Sehingga gaji mereka itu adalah kewajiban PT. AFWAN.

LAIN CERITANYA JIKA Pak Idang sendiri menerima proyek ini, kemudian berakad mudharabah yang tugasnya adalah mengelola usaha. Jika seperti itu, pada akad mudharabahnya, shahibul mal/NAAM mengetahui bahwa Pak Idang sendiri sebagai pengelola (mudharib) tugasnya hanya mengatur usaha dan bukan memasak, sehingga kalau merekrut chef dan staf untuk memasak. Maka chef dan stafnya ditanggung oleh oleh syirkah bersama shahibul maal ini.

Namun, dalam hal ini PT. AFWAN sebagai mudharib adalah perusahaan produsen makanan yang tenaganya adalah memasak. Sehingga dalam mudharabah ini “memasak” oleh chef dan staf karyawan PT. AFWAN, maka itu ditanggung sendiri oleh PT. AFWAN, tidak masuk dalam perhitungan biaya mudharabah.

Pada hari ke tiga, Pak Idang turut membantu berbelanja buah-buahan untuk stok beberapa hari, tetapi Pak Idang lalai karena membeli stok buah yang matang seharusnya yang mentah/setengah matang, akhirnya pada hari ke-10, buah tersebut sudah busuk dan harus membeli buah-buahan lagi. Kerugian yang ditimbulkan oleh kelalaian Pak Idang tersebut ditanggung oleh Pak Idang sendiri. Sehingga Pak Idang secara pribadi mengeluarkan uang untuk mengganti buah yang busuk tersebut.

Pembahasan Tandiidh dan Bagi Hasil Mudharabah

Apa itu tandiidh dalam syirkah? tandiidh adalah proses valuasi (penilaian) harta syirkah. Tandiidh dapat berupa penjualan semua aset syirkah (tandiidh hakiki) yang biasanya dilakukan saat pembubaran. Atau, dapat juga berupa proses tutup buku (akuntansi) sehingga terlihat nilai aktiva, utang, dan modal perusahaan, juga untung dan ruginya.

Pada hari ke-14 semua pesanan telah selesai dan tidak ada komplain dari pihak pemesan. Pak Idang dan NAAM melakukan valuasi (tandiidh) atas hasil usahanya. Pak Idang melaporkan dalam laporan keuangan mudharabahnya:

—————————NERACA (Akhir Syirkah)—————-

AKTIVA: Kas 9 Juta, Piutang Pendapatan Katering 180 Juta, Persediaan Bahan Masak 1 Juta, Peralatan Masak 60 Juta (Sudah dikurangi depresiasi aset peralatan masak.).

TOTAL 250 juta

———————————————————————

UTANG: 0 (tidak ada utang, semua biaya sudah lunas)

MODAL: NAAM 250 juta.

TOTAL 250 juta (balance)

———————————————————————

Itu artinya, mudharabah ini meskipun hanya dua pekan, sudah menghasilkan untung Rp50 juta. Yakni, sudah melebihi modal disetor Rp200 juta. Profit dibagi menurut kesepakatan awal: 70:30, PT. AFWAN mendapat Rp35 Juta. NAAM mendapat 15 juta, dan membawa pulang semua asetnya (karena memang 100% milik NAAM) sehingga total menjadi 215 juta.

Jika misalnya tanpa ada kelalaian dari PT. AFWAN, tetapi setelah divaluasi (tandiidh) semuanya total198 juta Rugi 2 juta. Maka tidak ada bagi hasil. 198 juta kembali kepada NAAM. PT. AFWAN hanya menanggung lelah (dan tentu ditambah tanggungan biaya upah chef dan staf Pak Idang ditanggung PT. AFWAN sendiri).

Disinilah laporan keuangan menjadi sangat krusial, karena menentukan yang sebenar-benarnya untung atau rugi, bagi hasil atau tidak. Syariah Wealth Management dalam mendampingi syirkah perusahaan klien sangat memperhatikan laporan keuangan ini. Bisa saja karena kecurangan PT. AFWAN dibuatlah laporan yang seolah-olah untung, padahal sebenarnya rugi.

Cara Agar Saham Syirkah Menjadi Milik Mudharib (Pengelola)

Sudah dijelaskan di atas, bahwa syirkah mudharabah ini dari awal sampai akhir 100% milik SHAHIBUL MAL, bukan MUDHARIB. Sehingga, meskipun bisnis menghasilkan keuntungan 50 juta, 100 juta, atau bahkan 500 juta pun, tetap milik SHAHIBUL MAL.

Misalnya, Syirkah PT. AFWAN X NAAM ini berjalan untuk jangka panjang (tidak berhenti di proyek katering tadi) dan menghasilkan keuntungan 1 Miliar alias 1000 juta, sehingga NAAM yang awalnya setor modal 200 juta, menerima bagi hasil 300 juta, dan PT. AFWAN menerima bagi hasil 700 juta (bagi hasil AFWAN 70:30 NAAM).

Meskipun NAAM sudah menerima 300 juta (lebih dari modal awalnya 200 juta), tetap saja usaha ini 100% milik NAAM. PT. AFWAN menerima 700 juta, dan hanya itu saja, tidak serta merta menguasai perusahaan karena NAAM sudah “balik modal”. Tidak demikian. Karena, NAAM setor modal 100% dan akan terus menerus 100% hingga kapanpun.

Jika mudharib ingin mengambil alih kepemilikan usaha, dan/atau shahibul mal ingin berhenti, maka yang dapat dilakukan mudharib untuk memiliki usaha ini adalah membeli saham shahibul mal. Misalnya, setelah bagi hasil 1 Miliar diterima kedua belah pihak, ASET masih utuh 200 juta, tidak ada utang. NAAM ingin berhenti investasi mudharabah ini.

Sebenarnya mudah saja, tinggal mengembalikan semua yang ada kepada NAAM, PT. AFWAN setelah laporan keuangannya selesai dan diterima, bagi hasil diterima, bisa langsung “angkat kaki”. Namun, NAAM tidak mau membawa pulang peralatan masak tersebut, dan tidak pula mau repot-repot menjualnya. Demikian pula PT. AFWAN, mereka masih butuh unit produksi ini, dan mencari lagi di pasar akan merepotkan, belum lagi jika barangnya langka/harus pesan.

Akhirnya, dilakukan tawar menawar antara NAAM dengan PT. AFWAN, dan mereka sepakat untuk jual beli 100% saham NAAM ini pada harga 230 juta. Maka PT. AFWAN menguasai 100% saham, dan NAAM yang “angkat kaki” dengan membawa pulang uang tunai 230 juta.

Ketika tawar menawar ini terjadi, bisa saja harganya lebih besar dari nilai buku, bisa jadi lebih kecil. Sebab, harga ditentukan murni atas keridhoan kedua belah pihak.

HATI-HATI! SWM pernah mendapat klien yang berakad mudharabah dengan sebuah lembaga keuangan syariah. Akad Mudharabahnya, ketika diperiksa oleh SWM, TERNYATA setelah dipelajari akadnya melanggar syariat. NAMANYA SAJA Mudharabah, tetapi NYATANYA LEBIH MIRIP qardh (utang piutang). Pahami betul akad mudharabah sebelum berakad. Konsultasikan dengan SWM, kami siap membantu.

Penutup

Sebenarnya mudharabah itu sederhana, tetapi berdasarkan pengalaman Syariah Wealth Management mendampingi klien, banyak terjadi kesalahan-kesalahan yang menjadikan mudharabahnya jadi riba, investor dizalimi/dibodoh-bodohi mudharib, dan lain sebagainya. Jika Anda berencana untuk melakukan akad syirkah musyarakah atau mudharabah, pastikan Anda dan investor/pengelola benar-benar paham seluk beluk aturan syirkah, dan tidak ada pasal-pasal kesepakatan yang melanggar syariat, SWM siap membantu memberikan edukasi, konsultasi, pembuatan akad, maupun pendampingan bisnis.

Hubungi via WhatsApp, klik ikon dibawah ini (selama jam kerja).

Leave a Reply