Begini Cara Memperbaiki Akad Bank Syariah

Begini Cara Memperbaiki Akad Bank Syariah

Bank Syariah merupakan tujuan masyarakat muslim yang mulai memahami bahaya dosa riba, dan mencari alternatif layanan keuangan dari Bank Konvensional. Bank Syariah menyediakan pembiayaan dari modal usaha, KPR, kredit mobil, hingga haji dengan prinsip syariah.

Namun, banyak nasabah yang belum menguasai fikih muamalah tetapi tahu bahwa riba dan bunga bank itu haram. Sehingga semua lembaga keuangan syariah, entah itu bank syariah, asuransi syariah, dan lembaga keuangan syariah lainnya, jika sudah ada label “syariah” dianggap sudah pasti benar.

Sayangnya, ketika sudah mulai belajar sedikit demi sedikit belajar fikih muamalah, sebagian nasabah menyadari dalam akadnya terdapat kesalahan. SWM pernah menjelaskan kesalahan-kesalahan yang biasa terjadi dalam lembaga keuangan syariah, misalnya kesalahan praktik kredit pada sebagian bank syariah.

Agar mudah dipahami, kita simak contoh kisah Pak Alvin (nama samaran) dengan salah satu Bank Syariah di Jabodetabek. Pak Alvin mendatangi bank syariah 2 tahun lalu untuk membiayai renovasi/ekspansi rumah, dan disetujui dengan pembiayaan murabahah.

Jika kita mempelajari fikih muamalah, tentu kita memahami bahwa pada akad murabahah itu pihak bank menjadi penjual dan nasabah menjadi pembeli dengan pembayaran kredit. Pak Alvin baru menyadari bahwa pada saat murabahah 2 tahun lalu, yang terjadi pada saat itu adalah bank memberikan uang kepada nasabah untuk membeli bahan-bahan bangunan, setelah itu bukti pembeliannya diberikan kepada bank.

Selain itu, dalam akad murabahah bank tersebut juga terdapat denda ketika angsurannya terlambat.

Pak Alvin menyadari bahwa ini semua pelanggaran dalam akad murabahah. Bahkan, rukun dan syarat murabahahnya tidak terpenuhi. Hal ini menyebabkan akad antara Pak Alvin dan Bank Syariah bukanlah murabahah, tetapi utang piutang (qardh) seperti bank konvensional.

Jika ini akadnya qardh, maka dengan adanya margin/keuntungan untuk bank hukumnya riba.

Pak Alvin menjadi bingung, baru sadar bahwa yang selama ini dilakukan tidak berbeda dengan bank konvensional yaitu hanya utang piutang riba, dan bukan murabahah. Hanya namanya saja murabahah, tetapi bukan murabahah yang terjadi.

Apa yang harus dilakukan oleh Pak Alvin?

Pertama, pelajari baik-baik fikih tentang akad murabahah dan catat bukti pelanggarannya beserta dalil syariatnya. Pak Alvin dapat memperkuat bukti pelanggaran dengan merujuk kepada AAOIFI Shariah Standards for Islamic Financial Institutions. Shariah Standards adalah kumpulan fatwa yang disusun oleh ulama dan praktisi internasional dan menjadi rujukan lembaga keuangan dunia.

Kedua, lakukan pertemuan dengan pihak bank syariah untuk membahas pelanggaran syariat yang terjadi. Ini merupakan langkah yang tidak mudah, karena bank syariah akan menanggung kerugian. Mengapa? Karena konsekuensi dari akad murabahah yang tidak syar’I tadi, akadnya berubah menjadi utang piutang dan bank tidak boleh mengambil margin. Nasabah hanya membayar pokok utangnya saja. Bagi bank ini adalah kerugian dan bisa merusak penilaian bank.

Dalam hal ini, nasabah harus bisa menguasai fikihnya dan melobi bank dengan baik, sehingga mereka menyadari kesalahannya. Sebab, bagaimanapun mereka harus bisa menanggung kerugian akibat kesalahan mereka sendiri. Dalam manajemen risiko bank syariah, ini disebut sharia compliance risk.

Ketiga, pastikan nasabah siap dan mampu untuk membayar pokoknya saja. Bank mungkin akan mencatat/melaporkan kejadian ini sebagai nasabah gagal membayar penuh dan hanya pokoknya saja yang dibayar nasabah. Padahal, bukan nasabah yang tidak mampu bayar, tetapi tidak halal membayar bunganya.

Syariah Wealth Management (SWM) menyadari bahwa langkah-langkah di atas bagi sebagian orang tidaklah mudah, maka SWM menyediakan layanan pendampingan untuk nasabah menghadapi bank syariah dalam rangka memperbaiki akadnya. Jika Anda bernasib serupa dengan Pak Alvin, dan membutuhkan layanan pendampingan, hubungi SWM.

Leave a Reply