| |

Cara Menghitung Zakat Perusahaan dan Zakat Saham

Mengenal Zakat Mal

Zakat adalah sedekah yang bersifat wajib (obligatory) bagi umat Islam yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Umumnya, zakat yang populer dikeluarkan adalah zakat fitrah setiap menjelang lebaran idul fitri. Padahal, ada zakat lain yang juga wajib, dan bahkan nilainya lebih besar dari zakat fitrah, yaitu zakat mal (harta).

Zakat mal adalah zakat yang dikeluarkan atas harta yang dia miliki. Dari seluruh harta yang terkategori wajib dizakati, nilainya dikali 2.5% (dua setengah persen), dikeluarkan uang senilai tersebut kepada para mustahik (penerima zakat).

Jika kamu punya 200 dirham dan sudah mengendap selama setahun maka ada kewajiban zakat 5 dirham. Dan kamu tidak memiliki kewajiban zakat untuk emas, kecuali jika kamu memiliki 20 dinar. Jika kamu memiliki 20 dinar, dan sudah genap selama setahun, maka zakatnya ½ dinar. Lebih dari itu, mengikuti hitungan sebelumnya.

HR. Abu Daud 1575 dan dishahihkan al-Albani

Dikutip dari muslim.or.id Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Para ulama empat madzhab dan ulama lainnya –kecuali yang keliru dalam hal ini- berpendapat wajibnya zakat barang dagangan, baik pedagang adalah seorang yang bermukim atau musafir. Begitu pula tetap terkena kewajiban zakat walau si pedagang bertujuan dengan membeli barang ketika harga murah dan menjualnya kembali ketika harganya melonjak. …”

Harta yang wajib dihitung untuk dikeluarkan zakatnya misalnya uang, emas, perak, dan barang dagangan. Maka dari itu, sebuah bisnis yang nilai akhirnya adalah menjual sesuatu, barang tersebut harus diperhitungkan zakatnya. Inilah mengapa pada perusahaan ada kewajiban zakatnya.

Baru-baru ini zakat saham mulai diperkenalkan, seolah ada kewajiban baru bagi umat Islam. Padahal bukan seperti itu, kewajiban zakat sudah ada dan tidak berubah sejak zaman Nabi, tetapi masyarakat kita baru sadar bahwa dalam perusahaan dan saham itu ada zakatnya.

Siapa yang Harus Membayar Zakat Perusahaan & Saham

Pemegang saham wajib mengeluarkan zakat perusahaan karena harta dalam perusahaan tersebut adalah harta miliknya sesuai persentase saham. Misalnya, Pak Ahmad membuka usaha jual-beli real estate. Maka pada dasarnya real estate tersebut adalah harta beliau yang wajib diikutsertakan dalam perhitungan zakat. Jika Pak Ahmad membuat Perseroan (PT. ABC) bersama Pak Udin dengan persentase 50:50, maka keduanya adalah pemilik PT tersebut.

Jika barang dagangannya (yaitu real estate) sudah melebihi nishab dan mencapai haul, maka Pak Ahmad dan Pak Udin memiliki kewajiban untuk mengeluarkan zakat tersebut. Tentunya setelah digabungkan nilainya dengan harta pribadi masing-masing.

Berbeda dengan Pak Idris, misalnya, beliau membeli saham syariah PT. XYZ di bursa saham dan berniat untuk menjualnya kembali, bukan untuk jangka panjang dan menikmati hasilnya. Maka bagi Pak Idris, barang dagangannya bukanlah barang hasil produksi atau inventori PT. XYZ, tetapi barang dagangan Pak Idris adalah saham itu sendiri. Maka, yang dihitung zakatnya adalah seluruh nilai saham yang dimiliki Pak Idris.

Rumus Menghitung Zakat Perusahaan & Saham

Rumus zakat mal adalah nilai harta yang wajib zakat x 2.5%

Namun, pertanyaannya adalah apa saja harta yang wajib dizakati itu?

Bagi pemegang saham yang diperjualbelikan (trader) seperti Pak Idris, harta yang wajib dizakati seluruh kekayaan (saham) yang dia miliki berdasarkan harga pasar dan ditambah uang yang dia punya. Barulah dikali 2.5%, dan dikeluarkan dengan rupiah.

Sedangkan, bagi investor yang benar-benar berniat untuk mengembangkan uangnya dengan usaha tersebut (bukan trader saham), maka harta yang wajib dizakati adalah aset-aset yang ada dalam perusahaan. Misalnya, kas, piutang, inventori, dan lain-lain. Namun, ada rincian piutang yang mana yang wajib dikeluarkan zakat, mana yang bisa ditunda. Demikian pula, ada utang-utang yang bersifat mengurangi nilai harta yang wajib dizakati. Sehingga melihat kepada laporan keuangan sangat penting untuk menghitung zakat perusahaan.

Bahasan yang rinci terkait mana yang terkena zakat dan mana yang mengurangi zakat, serta metodenya ada dalam Standar Syariah AAOIFI No. 35 tentang Zakah.

Bahaya Tidak Membayar Zakat

Kewajiban zakat berkonsekuensi pada adanya hak fakir miskin dan mustahik dalam harta kita dan perusahaan kita yang haram kita gunakan dan wajib diberikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan pada setiap harta orang muslim yang kaya (yaitu zakat) yang mencukupi untuk menutupi kebutuhan orang-orang muslim yang fakir. Dan tidaklah mereka kelaparan dan tubuh mereka tidak berbalut pakaian melainkan karena orang-orang kaya tidak mengeluarkan zakat. Ketahuilah! karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka (yang tidak bayar zakat) dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih.”

HR. Tabrani dan dishahihkan AL Haitamy

Layanan Konsultasi & Perhitungan Zakat

Syariah Wealth Management melayani jasa perhitungan zakat perusahaan secara rinci dengan mengacu kepada AAOIFI Shariah Standards dan di bawah bimbingan Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi. Hubungi tim kami via WhatsApp di 082-12345-9661

Baca juga: Hukum Trading Jual Beli Saham

Similar Posts