Contoh Sengketa Bisnis Syariah dan Cara Penyelesaiannya

Contoh Sengketa Bisnis Syariah dan Cara Penyelesaiannya

Dalam dunia usaha, sangat mungkin terjadi sengketa atau konflik antar mitra bisnis. Misalnya, Andi dan Budi adalah dua orang syarik (pengelola sekaligus pemodal dengan rasio modal 50:50) dalam sebuah bisnis yang biasanya melakukan bagi hasil bulanan. Untuk ekspansi bisnis, mereka sepakat untuk tidak mengambil profit selama 12 bulan kedepan.

Namun, di perjalanan bisnis ini, qaddarullah Andi mengalami beberapa kali musibah dan memerlukan dana sehingga melakukan kasbon sebanyak 3 kali dalam 3 bulan. Padahal bisnis ini sedang butuh sekali uang untuk ekspansi, istilah Budi “Uang di sini sedang sibuk sekali karena diputar terus dan diinvestasikan dalam bentuk aset”. Di sisi lain, Budi juga paham Andi sedang membutuhkan. Akhirnya, Budi menyetujui kasbon untuk Andi.

Setelah 12 bulan berlalu, kasbon ini kembali dibahas. Namun, bagi Andi, kasbon tersebut adalah utang yang nanti jika sudah lewat 12 bulan, bagian keuntungan Andi dipotong untuk menutupi kasbon ini. Namun, bagi Budi kasbon itu memotong bagian laba ditahan Andi yang kemudian menjadi modal, sehingga porsi modal mereka menjadi 30:70.

Alasan Budi, “Pada saat itu, perusahaan sedang sangat memerlukan uang karena sedang ekspansi. Sebenarnya tidak ada uang yang nganggur. Maka dari itu, kalau Andi butuh kasbon tentunya itu mengurangi kontribusi modal Andi dalam perusahaan ini”.

Andi menilai sikap Budi ini perhitungan sekali dan tidak pengertian kepadanya, bahkan Andi menduga ini cara Budi menyingkirkan Andi atas kepemilikan usaha yang berkembang ini. Andi sampai menyatakan, “Ketika usaha ini sukses, Budi justru dibutakan oleh harta”. Mereka berdua yang awalnya bersahabat baik, rekan menuntut ilmu agama, beribadah bersama, kini menjadi pihak yang bahkan bertemu sapa saja tidak mau.

Bukan hanya urusan mereka berdua, tetapi karyawan mereka pun menjadi kebingungan. Ada kalanya Andi dan Budi memberikan perintah yang bertentangan satu sama lain, sehingga terjadi kekacauan. Bahkan ada yang sampai berpihak kepada salah satu saja, dan tidak mau menjalankan perintah dari syarik yang dia anggap salah. Sehingga perusahaan tidak maksimal dan bahkan keuntungannya menjadi pas-pasan.

Bagaimana penyelesaiannya menurut Anda? Siapakah yang Benar dalam Sengketa Ini?

Cara menyelesaikan sengketa bisnis dalam Islam dari segi bentuknya sama seperti yang diterapkan dalam hukum di Indonesia, tetapi yang membedakannya adalah bahwa Islam memiliki aturan syariat yang jelas dan tidak boleh dilanggar. Sehingga, piihak yang bersengketa harus merujuk pada aturan syariat dalam pengambilan keputusan bagaimanapun cara yang ditempuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Mengapa bisa ada kaum yang membuat suatu persyaratan (kesepakatan) yang menyelisihi Kitabullah? Siapa yang membuat syarat lantas syarat tersebut bertentangan dengan Kitabullah, maka ia tidak pantas mendapatkan syarat tersebut walaupun ia telah membuat seratus syarat.” (HR. Bukhari no. 456)

Adapun di antara cara-cara yang dapat ditempuh dalam penyelesaian sengketa adalah

  1. Konsultasi adalah mendatangi seorang yang berpengalaman dan berilmu di bidang yang sedang dipermasalahkan untuk diminta pendapatnya terkait siapa yang benar dalam permasalahan ini. Dalam kasus Andi dan Budi, konsultan yang mereka datangi haruslah yang memahami bisnis (termasuk keuangan) DAN memahami fikih dalam Syirkah. Mengapa? karena jika konsultan tersebut tidak menguasai fikih syirkah, maka bisa jadi sarannya menyalahi syariat dan keputusannya menzalimi salah satu pihak.
  2. Mediasi adalah menunjuk satu pihak yang dipercaya untuk menjadi penengah dalam sengketa. Mediator membantu penyelesaian ini dengan menjadi pihak yang netral dalam mendengarkan dan memahami kondisi kedua belah pihak. Kesepakatan bukan di tangan mediator, tetapi mediator memberikan nasehat kepada kedua belah pihak sehingga kesepakatan mereka benar-benar mencapai win-win solution. Dalam kasus Andi dan Budi, mediator yang mereka pilih harus memahami syariat dalam syirkah, sehingga mediator bisa menyampaikan aturan syariat untuk meluruskan perspektif masing-masing pihak, sehingga kesepakatan para pihak memiliki landasan syar’i.
  3. Arbitrase adalah menunjuk satu pihak yang dipercaya untuk menjadi pemberi keputusan. Secara ringkas, arbiter berperan seperti mediator, tetapi memiliki kekuatan untuk memberikan keputusan yang mengikat kedua belah pihak. Sehingga, ketika Andi dan Budi telah menunjuk seorang arbiter, maka setelah keduanya menyampaikan pandangan, mereka harus menerima keputusan arbiter.
  4. Pengadilan, yaitu mendatangkan masalah ini untuk diputuskan oleh hakim. Cara ini disebut dengan litigasi, dan tidak bisa dilakukan kecuali dengan hakim yang sah ditunjuk oleh negara untuk diputuskan secara mengikat.

Syariah Wealth Management membantu Anda menyelesaikan sengketa bisnis secara non litigasi dengan pedoman Al-Qur’an dan As-Sunnah di bawah bimbingan ulama, memadukan pengalaman di dunia bisnis dengan pemahaman fikih. Informasi lebih lanjut, WhatsApp kami klik bit.ly/swm-pendampingan-sengketa-bisnis

Baca juga: Konsultasi dan Penyelesaian Sengketa Bisnis

Leave a Reply