Hukum Pinjaman Online dalam Islam, Jika Bunga Rendah (atau 0%) dan Saling Ridho

Hukum Pinjaman Online dalam Islam, Jika Bunga Rendah (atau 0%) dan Saling Ridho

Pinjaman online menjadi kontroversi di masyarakat, khususnya pinjol ilegal. Secara umum, pinjol ilegal tidak lain hanyalah bentuk praktik rentenir atau lintah darat yang membawa mudharat di masyarakat, sehingga pemerintah berusaha memberantas praktik pinjol ilegal ini. Bukan hanya karena bunganya yang tinggi, tetapi juga cara penagihannya penuh ancaman dan teror.

Sebagian orang merasa terbantu dengan adanya aplikasi pinjaman online yang legal, karena memudahkan mereka berbelanja secara kredit dan menjadi sumber dana darurat. Pinjol yang legal biasanya memiliki bunga yang rendah, meskipun masih lebih tinggi dari pinjaman bank, tetapi bahkan adapula yang menetapkan bunga 0% dan hanya ada denda keterlambatan saja.

Bagaimana pandangan Islam mengenai pinjol legal dan ilegal?

Akhlak yang mulia ketika berinteraksi sesama manusia, beradab dalam menagih hutang, memang sebuah keharusan bagi seorang muslim. Hal ini seolah sebagain orang menjadikannya pembenaran bagi pinjaman online legal, yakni yang penting beradab dan tidak memberatkan.

Akan tetapi, ada hal yang lebih fundamental dalam masalah pinjaman online ini. Bukan tentang legal atau ilegal, tetapi akad pinjaman itu sendiri.

Pinjaman Online adalah layanan utang piutang yang dilakukan secara online, umumnya dilakukan secara cepat, mudah, plafon kecil, dan tanpa jaminan. Bunga dalam pinjol, disebutkan oleh AFPI maksimal 24% per bulan. Selain itu, ada juga pinjaman online yang dengan bunga rendah, tetapi menetapkan biaya administrasi yang besar di depan. Tetapi, ada juga pinjol dengan bunga 0%, tapi mengancam denda keterlambatan.

Dari penjelasan di atas, pinjaman online pada dasarnya adalah akad utang piutang di mana pemberi utang (aplikasi pinjol) memberikan pinjaman kepada yang berutang, dan dengan begitu pihak pemberi utang akan mendapat keuntungan dari bunga, biaya adinistrasi, dan/atau denda keterlambatan. Bagaimana hukumnya pinjaman online ini?

Ibnul Mundzir rahimahullah mengatakan

أجمعوا على أن المسلف إذا شرط على المستسلف زيادة أو هدية فاسلف على ذلك أن أخذ الزيادة على ذلك ربا

Seluruh ulama sepakat bahwa apabila orang yang memberi utang mempersyaratkan pihak yang dihutangi harus memberi tambahan atau hadiah, kemudian dilakukan transaksi utang piutang dengan kesepakatan itu, maka mengambil tambahan tadi statusnya riba. (al-Ijma’ , hlm. 90).

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,

كل قرض شرط به أن يزيده فهو حرام بغير خلاف

Semua utang yang mempersyaratkan harus dilebihkan (pelunasannya) hukumnya haram tanpa ada perbedaan pendapat (seluruh ulama bersepakat). (al-Mughni, 4/390).

Majma’ Al-Fiqh Al-Islami menjelaskan,

“Jika pembeli kredit telat dalam melunasi cicilan sesuai dengan janji yang ditetapkan, maka tidak boleh dikenakan tambahan (denda) dengan syarat sebelumnya atau tanpa syarat. Karena denda dalam hal ini termasuk riba yang diharamkan.”

Maka dari itu, dalam Islam seluruh bentuk utang piutang berbunga, denda, atau apapun yang memberikan keuntungan apapun bagi pemberi utang hukumnya riba, tanpa melihat apakah penerima pinjaman itu keberatan atau tidak, besar atau kecil bunganya. Semuanya dihukumi riba.

Bahkan, dosa riba dalam hal ini tidak hanya ditanggung oleh pemberi pinjaman, tetapi semua pihak yang berkaitan dengan kegiatan pinjaman online tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang memakan riba, nasabah riba, juru tulis dan dua saksi transaksi riba. Nabi bersabda, “Mereka itu sama dosanya.” (HR. Muslim 4177)

Seberapa besar dosa riba?

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasulnya akan memerangimu (QS. Al Baqarah 279)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tadi malam aku bermimpi ada dua laki-laki yang mendatangiku, keduanya membawaku ke kota yang disucikan. Kami berangkat sehingga kami mendatangi sungai darah. Di dalam sungai itu ada seorang laki-laki yang berdiri. Dan di pinggir sungai ada seorang laki-laki yang di depannya terdapat batu-batu. Laki-laki yang di sungai itu mendekat, jika dia hendak keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Setiap kali laki-laki yang di sungai itu datang hendak keluar, laki-laki yang di pinggir sungai itu melemparkan batu ke dalam mulutnya sehingga dia kembali ke tempat semula. Aku bertanya, “Apa ini?” Dia menjawab, “Orang yang engkau lihat di dalam sungai itu adalah pemakan riba’”. (HR. al-Bukhari)

Dosanya lebih besar dari berzina

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad)

Kesimpulan

Maka dari itu, pinjaman online hukumnya haram, kecuali pinjaman tersebut dilakukan tanpa ada bunga, biaya, denda, apapun yang membawa keuntungan kepada pemberi pinjaman. Tentunya pinjaman online yang seperti itu tidak ada, karena pinjol adalah bisnis.

Jika Anda berada dalam kondisi terdesak, kesulitan, miskin/tidak mampu memenuhi kebutuhan, maka berutang pinjol adalah ibarat jatuh dan tertimpa tangga. Sudah sulit, malah mengundang azab Allah. Maka yang dapat Anda lakukan adalah dengan berdoa kepada Allah, bekerja, dan jika kurang maka coba dimulai dengan mencari bantuan dari Lembaga Zakat. Sebab, jika kondisi seperti itu maka Anda adalah seorang mustahik, berhak menerima uang zakat baik dari lembaga zakat, maupun mendapat langsung dari orang yang memiliki harta dan wajib mengeluarkan zakat.

Jika Anda bukan mustahik, atau mustahik tetapi tidak bisa mendapatkan bantuan apapun, maka dapat dicari lembaga Kredit Syariah. Insyaallah hal tersebut lebih aman dan berkah, karena murabahah pada kredit syariah adalah solusi yang Allah berikan ketika mengharamkan riba.

Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275)

Baca Juga: Apa itu murabahah/kredit syariah?

Leave a Reply