Membagi Warisan Orang Tua yang Masih Hidup dalam Islam

Membagi Warisan Orang Tua yang Masih Hidup dalam Islam

Warisan adalah pembahasan mengenai pembagian harta milik orang yang sudah meninggal kepada yang masih hidup selaku ahli warisnya. Akan tetapi, sering dijumpai dalam keluarga di masyarakat kita, ketika orang tua sudah mulai lanjut usia, anak-anak meminta orang tua mereka untuk membagi warisan. Bagaimana pandangan Islam tentang bagi-bagi warisan padahal orang tua belum wafat?

Dalam Islam, pembagian harta orang tua kepada anaknya ketika masih hidup termasuk yang dinamakan hibah, bukan waris. Sebagaimana yang kita ketahui tentang hibah, yaitu pemberian sukarela dari pemberi kepada penerima hibah. Sehingga, tidak boleh adanya pemaksaan. Anak tidak boleh memaksa orang tuanya untuk membagi-bagikan harta kepada anak dengan alasan menuntut hak waris, karena memang bukan warisan melihat kondisi orang tua belum wafat.

Namun, ketika suatu harta sudah dihibahkan kepada anak, maka sudah sah harta tersebut milik anak itu. Sehingga ketika orang tua wafat, harta tadi tidak dihitung dan tidak dianggap sebagai harta waris untuk dibagikan.

Tiga Syarat yang Harus dipenuhi dalam Hibah

Pertama, hibah harus dituangkan kedalam redaksi yang jelas. Ketika orang tua memiliki beberapa mobil dan membolehkan anaknya menggunakan salah satu mobil tersebut setiap hari, ini belum bisa dianggap hibah. Sehingga, status mobil tersebut tetaplah milik orang tua. Begitu juga rumah, misalnya orang tua memiliki beberapa rumah yang disiapkan untuk anak-anaknya, jika anaknya boleh menempatinya tetapi tidak ada ucapan dari orang tua untuk memberikan rumah tersebut, ini belum dikatakan hibah. Status kepemilikan masih milik orang tuanya.

Ucapan atau tulisan juga harus memenuhi bentuk ijab-qabul. Pemberi harta harus jelas mengatakan secara lisan maupun tulisan bahwa “harta ini untukmu”, “saya hibahkan harta ini kepadamu”, “ini milikmu sekarang”. Pihak penerima hibah juga harus menunjukkan qabul bahwa ia telah menerimanya, misalnya “iya, saya terima”. Jika orang tua memberikan hibah misalnya “rumah ini buat kamu ya”, tetapi sang anak mengatakan “Sudah lah pak, tidak usah dipikirkan. Nanti saja.” Ini berarti anaknya belum menerima/qabul, sehingga belum terjadi hibah.

Kedua, hibah harus ada serah terima. Dalam hibah, selain adanya ijab-qabul, harus terjadi serah terima. Bentuk serah terima dapat berupa fisik dari tangan pemberi ke tangan penerima, misalnya memberikan handphone dari tangan ke tangan. Atau dengan bentuk lain sesuai kebiasaan masyarakat. Misalnya, penyerahan kepemilikan kendaraan bermotor di masyarakat biasanya dengan cara menyerahkan kendaraannya beserta BPKB. Atau penyerahan tanah, biasanya dilakukan dengan menyerahkan sertipikat tanah. Penyerahan rumah, biasanya dengan menyerahkan kunci dan memberi penguasaan untuk melakukan apa saja kepada rumah tersebut.

Jika ada orang tua menyerahkan rumah yang ditempatinya kepada anak dan mengatakan “rumah ini buat kamu ya”, dan anak menjawab “iya pak”. Tetapi hanya itu saja, rumahnya masih dalam penguasaan orang tuanya, masih diatur olehnya, tidak ada penyerahan sertipikat, kunci, dan lainnya, berarti belum terjadi serah terima, belum terjadi hibah.

Ketiga, hibah harus dilakukan ketika masih hidup. Ketika orang tua menghibahkan hartanya kepada anak dengan mengatakan, “Nanti kalau bapak sudah meninggal, rumah ini buat kamu ya.” Ini tidak sah sebagai hibah. Hibah harus dilakukan ketika masih hidup, yakni orang tua tersebut menyerahkan kepada anaknya. Sedangkan, jika dihibahkan ketika sudah meninggal, maka bukan hibah dan masuk ke dalam hukum waris.

Jika harta tersebut masuk ke dalam hukum waris, maka tidak bisa ditentukan harta tertentu milik anak tertentu, karena sudah ada hitungan dan pembagiannya dalam syariat. Sedangkan, jika masuk ke dalam wasiat maka wasiat tidak bisa kepada ahli waris. Sehingga, jika pemberian tadi dari orang tua ke anak, tidak bisa terjadi wasiat, karena anak adalah ahli waris. Hibah juga tidak sah, sehingga harus secara pembagian waris. Misalnya setelah pembagian waris, sang anak mendapat 1/2 dari harta orang tuanya, dan rumah tadi senilai 1/2 dari total harta waris, maka ia bisa membicarakan kepada ahli waris lain agar rumah tadi menjadi bagian untuk dia saja.

Hibah untuk Anak Harus Adil

Pada dasarnya, pemilik harta yang berakal dan rasyid (cakap mengelola harta) bebas memberikan hartanya kepada siapa saja. Namun, jika menghibahkan kepada anaknya, maka harus adil. Simaklah hadits berikut.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلادِكُمْ فِي النُّحْلِ، كَمَا تُحِبُّونَ أَنْ يَعْدِلُوا بَيْنَكُمْ فِي الْبِرِّ وَاللُّطْفِ
Bersikaplah adil di antara anak-anak kalian dalam hibah, sebagaimana kalian
menginginkan mereka berlaku adil kepada kalian dalam berbakti dan berlemah lembut.
[HR. al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra no. 12.003]

Dari an-Nu’man (bin Basyir), beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Ibu saya meminta hibah kepada ayah, lalu memberikannya kepada saya.

Ibu berkata, ‘Saya tidak rela sampai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi saksi atas hibah ini.’

Maka ayah membawa saya –saat saya masih kecil- kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasûlullâh, ibunda anak ini, ‘Amrah binti Rawahah memintakan hibah untuk si anak dan ingin engkau menjadi saksi atas hibah.’

Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Wahai Basyir, apakah engkau punya anak selain dia?’

‘Ya.’, jawab ayah.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, ‘Engkau juga memberikan hibah yang sama kepada anak yang lain?’

Ayah menjawab tidak.

Maka Rasûlullâh berkata, ‘Kalau begitu, jangan jadikan saya sebagai saksi, karena saya tidak bersaksi atas kezhaliman.’ ” [HR. al-Bukhâri no. 1623]


Demikian Wallahu a’lam.

Syariah Wealth Management adalah sebuah lembaga konsultasi muamalah dan pendampingan bisnis syariah. Insyaallah kami membantu Anda dalam mengatasi masalah warisan yang keluarga Anda hadapi. Konsultasikan kepada tim kami via WhatsApp, biaya mulai dari Rp0,-

Leave a Reply