Pahamkan Fikih Ijarah untuk Karyawan WFH

Pahamkan Fikih Ijarah, Jadikan Karyawan Tetap Produktif saat Work from Home (WFH)

Alhamdulillah ‘ala kulli hal, Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan ujian kepada hamba-hamba-Nya berupa wabah virus corona (covid-19) ini untuk melihat siapa yang kembali kepada Allah dan siapa yang ingkar dan zalim. Dengan adanya wabah ini, bisnis secara umum merasakan dampaknya, baik dari penurunan permintaan atas produk dan jasa, maupun dalam perusahaan itu sendiri, karyawan terpaksa harus diutamakan keselamatan diri mereka dan menaati pemerintah untuk social/physical distancing agar tidak terkena dan tidak menyebarkan virus corona ini. Untuk itu sebagian pengusaha mengambil kebijakan work from home (WFH) atau bekerja dari rumah untuk karyawan yang pekerjaannya dapat dilakukan dari jarak jauh.

Tentunya bekerja dari rumah ini merupakan tantangan, baik bagi pengusaha maupun bagi karyawan itu sendiri, apalagi bagi yang sebelumnya belum terbiasa melakukan hal ini atau sistem kerja yang dibuat selama ini tidak mendukung bekerja dari rumah. Bagi pengusaha, bukan hanya dipusingkan dengan menjaga performa penjualan, tetapi juga menghadapi kesulitan untuk mengontrol produktifitas karyawan supaya karyawan tetap produktif saat work from home. Bagi karyawan, lingkungan di rumah belum tentu kondusif untuk bekerja, baik karena rumahnya terlalu nyaman sehingga karyawan bermalas-malasan, atau bisa juga distraksi keluarganya di rumah.

Meskipun bekerja di rumah ini terlihat berisiko menzalimi perusahaan, sebenarnya apabila kita memahami fikih muamalah yang menjaga keadilan hubungan hak-kewajiban sesama manusia, kezaliman ini dapat dihindari. Disinilah pentingnya fikih muamalah.

Akad dengann Karyawan adalah Ijarah

Akad dengan karyawan, umumnya adalah Ijarah, akad sewa, yakni perusahaan merekrut karyawan untuk melakukan pekerjaan tertentu dalam waktu tertentu, dengan pembayaran tertentu yang telah jelas. Dengan kata lain, pengusaha membeli jasa karyawan ini atas pekerjaannya dalam waktu tertentu. Oleh karena itu dalam akad ijarah seperti ini, karyawan terlarang menggunakan waktu kerjanya yang sudah dia jual kepada perusahaan untuk kesibukan lainnya yang tidak berkaitan dengan pekerjaan tersebut. Demikian pula karyawan tidak boleh korupsi waktu kerjanya, baik dengan mengerjakan hal yang tidak penting untuk perusahaan di jam kerja, datang terlambat, atau pulang lebih awal dari jadwalnya.

Terdapat pula akad ijarah jenis yang lain, yakni pekerjaan yang bersifat Borongan. Misalnya perusahaan menggunakan arsitekyang pekerjaannya tidak dibayar berdasarkan jam kerja, melainkan berdasarkan progres kerjanya. Anda dibayar berdasarkan pekerjaan yang berhasil dia lakukan, sedangkan pekerjaannya tidak terikat dengan waktu tertentu dan kapanpun pekerjaan tersebut boleh dia lakukan. Tentu ijarah yang semacam ini berbeda dengan karyawan yang digaji (disewa) waktunya dalam jam yang tetap di atas. Bahasan kali ini kita hanya fokuskan pada karyawan dengan waktu kerja tetap.

Karyawan dengan Gaji dan Waktu Kerja Tetap Harus Komitmen dengan Waktu Kerjanya Sesuai Akad

Pemilik usaha harus mampu memahamkan karyawannya yang memiliki waktu kerja yang tetap ini bahwa mereka digaji berdasarkan waktu kerjanya dan mereka tidak boleh memanfaatkan waktunya sehingga dia sibuk dengan urusan lain kecuali dengan izin pemilik usaha. Hal ini tetap berlaku meskipun pekerja dalam kondisi bekerja dari rumah, kecuali Anda selaku pemilik usaha memang membebaskan karyawan dalam pekerjaannya.

Misalkan jam kerja karyawan itu pukul 08.00 hingga 17.00 dengan jam istirahat pukul 12.00 13.00. Maka karyawan, meskipun di rumah, harus sudah siap bekerja pada pukul 08.00 sebagaimana di kantor. Dia tidak boleh mengerjakan urusannya lain, mengurus keluarga, mengasuh anak, mengantar istri berbelanja, atau lainnya pada jam kerjanya, kecuali sudah Anda izinkan. Pada jam istirahat, barulah dia diperbolehkan untuk mengerjakan urusannya di rumah. Demikian pula pada sore hari, jika Anda mempekerjakan karyawan melebihi jam kerjanya, dan dalam perusahaan terdapat mekanisme lembur, hal itu dianggap lembur, kecuali karyawan bersikap lalai pada jam kerjanya sehingga ngaret dan tidak selesai kerjanya hingga sore hari tentu ini tidak termasuk lembur. Intinya, Anda harus mampu memahamkan karyawan Anda bahwa mereka harus komitmen pada jam kerjanya di rumah. Sebab, jika tidak demikian, status gaji karyawan akan bermasalah kehalalannya.

Jika karyawan digaji per bulan sebesar Rp8.000.000,- untuk 20 hari kerja. Artinya karyawan digaji dengan Rp50.000,- per jam, dan dalam satu hari bekerja selama delapan jam. Maka dari itu apabila karyawan bekerja kurang dari delapan jam sehari karena mengurus urusan lainnya yang tidak berhubungan dengan pekerjaan seperti sibuk dengan sosmed, bermain game, jualan online, dan lainnya sehingga dalam sehari dia hanya bekerja selama tujuh jam, sedangkan gaji sebulannya tetap full delapan juta, maka dia telah korupsi waktu kerjanya, tidak memenuhi akadnya, dan sebagian gajinya dikhawatirkan menjadi tidak halal.

Kalau harta yang dikumpulkan adalah harta yang haram dan tidak berkah, tentu hanya akan mempersulit hidup pemiliknya di dunia dan di akhirat. Dia akan merasakan malas untuk beramal shalih, doa sulit dikabulkan, bahkan diancam neraka. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Ka’ab radhiyallahu anhu,

يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka.”

(HR. Tirmidzi, no. 614)

Apabila karyawan Anda memahami konsep ini dan bertakwa kepada Allah, niscaya mereka tidak akan menyia-nyiakan jam kerjanya, dan tetap berusaha produktif meskipun bekerja dari rumah. Sebab, bukan hanya dia dapat melanggar aturan perusahaan, tetapi juga dia melanggar perintah Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَوْفُوا۟ بِٱلْعُقُودِ ۚ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.

(Q.S. Al-Maidah 5:1)

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ

Kaum muslimin itu terikat di atas syarat (janji) yang mereka buat. (HR. Tirmidzi no. 1272, shahih)

(HR. Tirmidzi no. 1272, shahih)

Sudah semestinya Anda mendidik karyawannya untuk selalu menjaga produktifitasnya, tetap amanah dan disiplin dengan pekerjaannya, dimanapun mereka berada. Sebab, ini bukan hanya tentang performa kerja, pemenuhan hak dan kewajiban, tetapi juga status kehalalan dan keberkahan gaji mereka. Sehingga penting sekali untuk membangun kesadaran karyawan Anda dengan ilmu fikih muamalah. Berikan kepada mereka ilmu, adakan pelatihan-pelatihan fikih muamalah profesional yang Anda perlukan untuk perusahaan seperti In-House Training Muamalah oleh SWM.

Semoga Allah memberikan sifat amanah kepada karyawan Anda dan kemudahan dalam menjalankan bisnis Anda dalam masa sulit ini.

Wallahu a’lam, wa barakallahu fiikum.


Syariah Wealth Management
Konsultasi Muamalah & Bisnis Syariah
Assessment Bisnis & Training

1 thought on “Pahamkan Fikih Ijarah, Jadikan Karyawan Tetap Produktif saat Work from Home (WFH)

Leave a Reply