Perbedaan Kredit di Bank Konvensional dengan Bank Syariah

Bank adalah lembaga keuangan yang inti kegiatannya adalah menghimpun dan menyalurkan dana dari masyarakat untuk mendapatkan keuntungan. 

Bank konvensional menjanjikan kepada nasabah dengan bunga tabungan, keamanan, fasilitas penarikan, dan pembayaran, itu adalah dari sisi penghimpunan dana. Sedangkan penyalurannya adalah kepada peminjam, Bank dapat menyediakan dana untuk dipinjamkan dengan imbalan berupa persentase bunga tertentu, untuk mengambil keuntungan, biaya operasional, dan bunga untuk memberikan bunga tabungan untuk nasabah. Oleh karena itu, bunga pinjaman/kredit di bank cukup tinggi.

Sedangkan utang piutng dengan pengembalian yang lebih besar hukumnya riba.

Dalam riba, terdapat kaidah yang sangat terkenal: “Setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatan (keuntungan), maka itu adalah riba.” (Lihat Al Majmu’ Al Fatawa, 29/533; Fathul Wahaab, 1/327; Fathul Mu’in, 3/65; Subulus Salam, 4/97). Berbeda dengan gharar, riba tidak membedakan besar maupun kecil. Selain itu, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama, bahwa mereka sepakat riba hukumnya adalah haram.

Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan:

وَكُلُّ قَرْضٍ شَرَطَ فِيهِ أَنْ يَزِيدَهُ ، فَهُوَ حَرَامٌ ، بِغَيْرِ خِلَافٍ .

“Setiap piutang yang mensyaratkan adanya tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.”

Ibnul Mundzir mengatakan,

“Para ulama sepakat bahwa jika orang yang memberikan utang mensyaratkan kepada orang yang berutang agar memberikan tambahan, hadiah, lalu dia pun memenuhi persyaratan tadi, maka pengambilan tambahan tersebut adalah riba.”

Maka dari itu, kredit di Bank terkena hukum riba karena jumlah uang yang diberikan sebagai pinjaman tidak sama dengan uang pengembaliannya (ada tambahan).

Dalam syariat hukum riba, tidak dibedakan apakah bunga ini berupa persentase maupun margin yang tetap. Jika yang memberikan uang pinjaman mendapatkan keuntungan dari utang piutang tersebut, maka riba hukumnya.

Bagaimana Cara Kredit Supaya Tidak Riba?

Mungkinkah Bank Konvensional memberikan pinjaman secara cuma-cuma tanpa bunga apapun? Tentunya tidak mungkin, karena memberikan kredit dan utang adalah cara utama bank mencari keuntungan.

Bagaimana dengan Kredit Syariah? Apakah Bank Syariah tidak Mengambil Bunga?

Bank Syariah hadir berusaha untuk menjadi lembaga keuangan yang halal dan bebas riba. Akan tetapi, caranya bukan dengan memberikan pinjaman tanpa bunga (qardh), karena pinjaman tanpa bunga adalah tolong-menolong (tabarru), sehingga tidak dapat mendatangkan keuntungan.

Apa yang dilakukan bank syariah dalam hal pemberian pinjaman adalah dengan mengubah akadnya menjadi akad-akad jual beli.

Contoh perbandingan antara bank konvensional dengan bank syariah:

Pada Bank Konvensional, seorang nasabah bernama Andi ingin membeli sebidang tanah senilai Rp2 Miliar. Kemudian, Andi mendatangi sebuah Bank Konvensional, mengajukan pinjaman untuk membeli tanah.

Bank memberikan Andi uang Rp2 Miliar, dengan janji pengembalian 2 tahun bersama bunganya sekian %, dengan total pengembalian Rp2.5 Miliar.

Tambahan Rp500 juta untuk bank tersebut adalah Riba.

Adapun Bank Syariah, ketika Andi hendak membeli tanah, Andi menyampaikan keinginan tersebut kepada Bank.

Setelah Bank mengetahui apa yang Andi inginkan, Bank membeli tanah tersebut seharga Rp2 Miliar. Selesai memiliki tanah tersebut, Bank menawarkan tanah tersebut kepada Andi dengan harga Rp2.5 Miliar dengan cicilan 2 tahun. Andi menyetujuinya dengan harga tersebut. Angka Rp2.5 Miliar sudah disepakati dan tidak ada penambahan harga jika Andi terlambat membayar.

Tambahan Rp500 juta untuk bank tersebut adalah keuntungan jual beli kredit yang halal.

Skema kredit jual beli ini dinamakan akad murabahah lil amir bisy-syira’ atau singkatnya “murabahah”. Akad murabahah ini secara fatwa dibolehkan oleh DSN-MUI tentang Murabahah, tetapi secara lengkap telah diatur dalam AAOIFI Sharia Standards No. 8 Murabahah

Baca juga: Apa itu AAOIFI?

Apakah Prakteknya Sudah Sesuai Syariah?

Skema kredit syariah dengan Murabahah di atas memang dibuat sederhana agar mudah dimengerti. Namun, seringkali teori tidak sesuai dengan praktek kenyataannya. Sehingga muncul isu-isu “bank syariah sama saja dengan konvensional”, atau “masih mengandung riba”.

Hal ini bisa terjadi karena banyak faktor. Mungkin pelakunya di perbankan syariah masih belum paham secara rinci tentang bagaimana prakteknya secara syar’i. Atau karena sistem serta SOP yang ada di bank memang tidak syar’i dan masih riba. Bisa juga karena bank ingin mengambil langkah yang lebih cepat dan efisien, tetapi akhirnya terjerumus dalam riba karena pelaksanaan kreditnya salah. Oleh karena itu nasabah harus memahami secara detail bagaimana pelaksanaan yang benar.

Pendampingan Akad Lembaga Keuangan Syariah

Syariah Wealth Management mendampingi nasabah dalam berakad dengan lembaga keuangan syariah dalam rangka mengawasi pelaksanaan akad sesuai standar prosedur muamalah yang syar’i mengacu pada AAOIFI Shariah Standards, dengan mengedukasi nasabah tentang akad, memeriksa setiap dokumen akad, memberikan review dan mengajukan revisi akad, hingga bernegosiasi kepada lembaga keuangan untuk menjaga kepatuhan […] Hubungi SWM

3 thoughts on “Perbedaan Kredit di Bank Konvensional dengan Bank Syariah

Leave a Reply