| |

Perbedaan Zakat Profesi dengan Zakat Mal

Selain zakat fitrah, mungkin Anda juga pernah mendengar zakat lainnya seperti zakat profesi, zakat penghasilan, zakat mal (harta), zakat saham, dan lain-lain. Namun, sebenarnya, apakah zakat profesi itu sama dengan zakat harta? Apakah wajib mengeluarkan keduanya? Apakah boleh tidak mengeluarkan zakat mal jika sudah membayar zakat penghasilan?

Apa itu Zakat Profesi/Zakat Penghasilan?

Zakat profesi atau disebut juga zakat penghasilan adalah zakat yang dikeluarkan bagi orang-orang yang berpenghasilan karena jasa atau profesinya. Zakat ini baru dimunculkan oleh sebagian ulama kontemporer, terutama Syaikh Yusuf al Qardhawi. Zakat profesi itu sendiri merupakan qiyas (analogi) dari zakat pertanian, rikaz dan lainnya yang dikeluarkan langsung pada saat diperoleh, tanpa ada ketentuan haul (lihat Riyadi, 2015 pp. 117-119).

Sedangkan Zakat penghasilan menurut MUI (Majelis Ulama Indonesia), dikeluarkan pada saat perolehannya jika penghasilan sudah mencapai nishab 85 gram emas, atau semua penghasilan bersihnya dikumpulkan selama satu tahun kemudian dikeluarkan zakatnya jika sudah mencapai nishab. (lihat Fatwa MUI No. 3 tahun 2003 p. 4). Besarnya zakat itu sendiri adalah 2.5%.

Zakat Profesi/Penghasilan Berbeda Dengan Zakat Mal

Perlu diketahui bahwa zakat penghasilan ini berbeda dengan zakat mal. Zakat mal adalah zakat harta yang dikeluarkan setelah mencapai nishab dan haul dan telah jelas dalilnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Bila engkau memiliki dua ratus dirham dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat sebesar lima dirham. Dan engkau tidak berkewajiban membayar zakat sedikit pun –maksudnya zakat emas- hingga engkau memiliki dua puluh dinar. Bila engkau telah memiliki dua puluh dinar, dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat setengah dinar. Dan setiap kelebihan dari (nishob) itu, maka zakatnya disesuaikan dengan hitungan itu.” (HR. Abu Daud 1753)

Dengan jelasnya berbagai dalil, zakat mal ini tidak ada perbedaan pendapat dan diterapkan para ulama sejak zaman Rasulullah. Berbeda dengan zakat penghasilan yang baru dicetuskan oleh sebagian ulama saat ini. Maka dari itu, perlu diperhatikan bahwa zakat penghasilan ini berbeda dengan zakat mal, perbedaannya adalah sebagai berikut:

  1. Zakat Harta (Mal) terdapat banyak dalil dari Nabi dan disepakati wajibnya oleh seluruh ulama. Sedangkan Zakat Profesi (Penghasilan), baru dicetuskan oleh sebagian ulama kontemporer dan terdapat perbedaan pendapat (ada/tidaknya kewajiban zakat profesi tersebut).
  2. Penetapan hukum zakat mal bersumber dari nash dalil yang jelas. Penetapan hukum zakat profesi bersumber dari analogi (qiyas) zakat pertanian.
  3. Zakat harta dikeluarkan dari harta yang dimiliki/ditabung/terkumpul, berupa uang, emas, piutang dan harta lain yang wajib dizakati. Sedangkan zakat penghasilan dikeluarkan dari gaji/penghasilan. Ada perbedaan pendapat, apakah dikeluarkan setelah dikurangi kebutuhan hidup, atau dari penghasilan kotor (sumber).
  4. Zakat harta ada haul, sedangkan zakat penghasilan tidak ada haul. Zakat Harta dikeluarkan atas harta-harta yang wajib dizakati setelah mencapai nishab dan berlalu satu tahun. Sedangkan, Zakat Penghasilan dikeluarkan pada saat diperoleh tidak menunggu satu tahun.
  5. Zakat harta memiliki nishab 85 gram emas, maka jika kita memiliki (uang, emas, dll) sudah melebihi 85 gram emas selama 1 tahun, maka dikeluarkan zakatnya. Sedangkan di kalangan ulama yang mengatakan adanya zakat penghasilan, masih ada perbedaan pendapat apakah menggunakan nishab 85 gram emas, atau dengan 5 wasaq hasil panen.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan singkat di atas, perlu diingat bahwa zakat penghasilan dan zakat harta itu berbeda. Jika Anda telah mengeluarkan uang untuk zakat penghasilan, atau dipotong otomatis gajinya oleh institusi/perusahaan Anda, Anda tetap wajib mengeluarkan zakat mal/harta.

Apakah boleh tidak mengeluarkan zakat penghasilan dan hanya mengeluarkan zakat mal saja? Menurut pendapat yang diikuti SWM, mengikuti mayoritas ulama, termasuk guru kami Ustadz Erwandi Tarmizi, bahwa yang wajib adalah zakat mal, dan tidak ada kewajiban mengeluarkan zakat dari penghasilan profesi. Namun, tidak masalah jika Anda menyisihkan sebagian harta untuk disedekahkan secara rutin setiap kali gajian dengan mengharap pahala dari Allah.

Baca Juga: Hukum Zakat Profesi

Layanan Konsultasi Zakat

Syariah Wealth Management melayani jasa perhitungan zakat perusahaan secara rinci dengan mengacu kepada AAOIFI Shariah Standards dan di bawah bimbingan Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi. Hubungi tim kami via WhatsApp di 082-12345-9661

Similar Posts