1. Tentukan bisnis yang akan diinvestasikan
    1. Pahami kelebihan dan kekurangan bisnis <<
    2. Risiko yang berbeda-beda
    3. Periksa Kepatuhan Syariatnya
    4. Kenali Profil Pengelola
    5. Keuntungan dan BEP (Titik Impas)
    6. Rencana Strategis Syirkah
  2. Negosiasi dengan pengelola
  3. Mempersiapkan modal
  4. Akad syirkah

A. Pahami Kelebihan dan Kekurangan Bisnis

Seorang calon investor, dalam sudut pandang Islam, adalah dititipkan amanah berupa harta dari Allah untuk mengelolanya sehingga bermanfaat dan berkah. Jangan sampai kita tidak selektif dalam menaruh harta titipan ini pada tempat yang kurang bermanfaat, kurang menguntungkan, apalagi jika bisnis tersebut ternyata tidak dikelola secara syar’i.

Selain itu, dalam ekonomi syariah yang berusaha mengedepankan prinsip berbagi untung dan berbagi risiko, seorang investor tidak bisa begitu saja memberikan utangan kepada suatu perusahaan dan tidak mau tahu bagaimana perusahaan itu berjalan, yang penting dapat untung. Tetapi, dalam syirkah seorang investor wajib menanggung risiko kerugian, sehingga investor dituntut untuk lebih selektif memilih perusahaan. Sehingga, para pengelola bisnis akan terdorong untuk menjalankan bisnis secara profesional sehingga investor mau untuk investasi di dalam bisnisnya.

Sikap investor yang menyepelekan atau tidak tahu menahu tentang bisnis akan menjadi celah kezaliman oleh pengelola bisnis yang bermuka dua dan licik.

Maka dari itu, sejak awal sekali, seorang investor harus menunjukkan sikap selektif dan kritis menilai suatu bisnis. Apa saja kelebihan dan kekurangannya? Bagaimana analisis SWOT-nya? Apa visi utama bisnis ini?

Setiap bisnis memiliki karakter yang berbeda-beda, dan bisa jadi tidak semuanya materialistis. Misalnya, seorang investor dihadapkan beberapa pilihan:

  1. PT. A, bisnis produksi tas
    • Target konsumen kalangan menengah keatas
    • harga relatif mahal
    • keuntungan yang besar.
  2. PT. B, bisnis produksi tas
    • Target konsumennya kalangan menengah keatas
    • harga relatife mahal
    • keuntungan tidak besar, karena memprioritaskan kesejahteraan karyawan dan proses produksi yang ramah lingkungan.
  3. PT. C, bisnis produksi tas
    • target konsumennya adalah masyarakat miskin
    • harga murah
    • keuntungan besar karena kualitas rendah dan tas cepat rusak. Sehingga masyarakat akan sering membeli tas tersebut.
  4. PT. D, bisnis produksi tas
    • target konsumennya adalah masyarakat miskin
    • harga murah
    • kualitas tinggi dan awet, sehingga keuntungannya kecil.

Meski semuanya halal, tetapi semua ini akan kembali kepada pilihan investor, karena apa yang dicari dari sebuah investasi bisa jadi berbeda-beda bagi setiap orang.

Menentukan kelebihan dan kekurangan bisnis juga sangat tergantung dengan pengetahuan investor tentang bisnis tersebut. Misalnya, Pak Ahmad memiliki latar belakang ilmu computer dan bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi. Beliau mungkin lebih memilih investasi di perusahaan teknologi daripada di perusahaan properti.

Mengapa? Karena Pak Ahmad tidak memahami bisnis property, bagaimana perkembangannya, apa risikonya, bahkan laporan keuangannya pun belum tentu paham. Tetapi, untuk perusahaan teknologi, dia memahami bagaimana perkembangan industrinya, dan bagaimana bisnis tersebut berjalan, sehingga bisa menilai kelebihan dan kekurangan bisnis tersebut.

Butuh konsultasi tentang rencana syirkah, atau ada masalah dengan syirkah saat ini? Hubungi SWM via WhatsApp untuk buat jadwal konsultasi ya di 082-12345-9661

#IngatSyirkah #IngatSWM