Karyawan Tidak Betah dan Sering Resign? Ini 6 Tips untuk Perbaiki Turnover Karyawan

Karyawan di perusahaan Anda sering keluar masuk? Baru 3 bulan kerja, resign. Baru 6 bulan kerja, mundur. Bahkan baru 1 tahun, keluar. Karyawan yang tidak betah di perusahaan tentu membawa masalah besar bagi perusahaan. Di antara masalah yang mungkin Anda juga alami:

  1. Harus membuka rekrutmen kembali, mewawancara puluhan calon pegawai.
  2. Melimpahkan pekerjaan ke karyawan lain sambil menunggu pengganti yang resign, sehingga beban kerja karyawan tinggi dan tidak optimal.
  3. Harus menjalankan training lagi.
  4. SDM di perusahaan yang profesional dan berpengalaman di perusahaan menjadi langka.
  5. Perusahaan jadi sulit mempercayakan amanah dan berbagi rahasia internal karena karyawan baru tidak bisa langsung dipercaya.

Masalah-masalah di atas tentu menghambat perkembangan perusahaan. Maka dari itu, Syariah Wealth Management, dengan pengalaman kami mendampingi bisnis, akan berbagi tips untuk membuat karyawan betah di perusahaan kita, loyal, dan tidak mudah ‘latah’ resign.

1. Meminta Kepada Allah untuk Dipertemukan Karyawan yang Amanah dan Profesional

Mencari karyawan bukanlah hal yang mudah. Seberapa bisa kita percaya selembar CV, Ijazah, dan Wawancara 30 menit akan menentukan apakah karyawan ini dapat bekerja sama dengan baik di perusahaan kita dengan sifat amanah dan standar profesionalisme yang tinggi?

Tentu banyak calon pekerja untuk menampakkan yang bagus-bagus saja pada saat rekrutmen, tetapi mengecewakan saat sudah diangkat sebagai pegawai.

Di sinilah kita harus bertawakkal dan mengembalikan urusan ini kepada Allah, sebab ini soal rezeki. Dan rezeki itu diatur oleh Allah.

Rezeki bagi karyawan adlaah penghasilan/gaji. Sedangkan rezeki bagi perusahaan, adalah kinerja karyawan yang amanah dan produktif.

Oleh karena itu, sebagaimana kita bertawakkal kepada Allah dalam berbisnis, berjualan, launching produk baru, dan lainnya, kita juga bertawakkal dalam mencari karyawan baru.

2. Siapkan Akad Kerja Karyawan yang Syar’i

Sebagaimana kita berharap karyawan dapat berkomitmen secara profesional, perusahaan pun harus menunjukkan komitmen profesional tersebut sejak awal, yaitu dengan adanya akad/kontrak kerja yang terstandar.

Sangat banyak perusahaan yang ikatan antara karyawan dengan perusahaan hanya dengan lisan saja. Bahkan, tidak jarang pula perusahaan yang mengaku ‘syar’i’, tetapi urusan karyawannya tidak syar’i.

Tidak ada tanda tangan kontrak yang jelas. Tidak ada peraturan kerja yang disampaikan. Tidak ada kejelasan bobot kerja dan job description. Tidak ada negosiasi gaji.

Bahkan, kami pun pernah menjumpai karyawan yang baru masuk dan baru tahu berapa gajinya pada saat dikirimkan bukti transfer di akhir bulan.

Allah Azza wa Jalla berfirman

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.”

QS. An-Nisaa 4:29

Bagaimana bisa dikatakan perniagaan yang suka sama suka, kalau salah satu pihak tidak tahu pasti apa yang ia bayar (tugas dan kewajiban) dan apa yang ia terima (haknya)?

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang pengusaha merekrut karyawannya dengan akad yang tidak jelas seperti ini, sebagaimana dalam hadits:

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli al-hashah dan jual beli gharar

HR Muslim

Gharar adalah ketidakjelasan dalam akad. Pelajari lebih lanjut tentang apa itu gharar di sini.

Maka dari itu, kalau owner atau HRD sudah cocok dengan salah satu kandidat, diskusikan semua hal, mulai dari:

  • Beban dan cakupan kerja
  • Jam kerja, aturan kerja
  • Gaji dan benefit

Hingga mencapai keridhoan yang jelas dari kedua pihak.

Kemudian, bakukan kesepakatan tersebut adalah Akad Kerja Karyawan yang Syar’i, misalnya dengan Akad Ijarah.

Adapun, jika Anda belum memiliki akad kerja karyawan (ijarah) yang syar’i, kami bisa menyediakan template Akad yang dapat Anda gunakan. Hubungi tim kami di sini.

3. Berikan Bimbingan Spiritual

Di dalam perusahaan, jangan hanya berikan karyawan tugas dan target. Berikan juga pengembangan SDM yang berkaitan dengan produktivitas dan komitmen terhadap perusahaan.
Salah satu training atau edukasi yang biasa diberikan oleh perusahaan-perusahaan yang didampingi oleh SWM adalah Edukasi Muamalah untuk Karyawan.
Dalam program tersebut, karyawan dibimbing untuk memiliki ketauhidan yang kuat, sehingga:

  • Kita harus memiliki zero tolerance terhadap harta haram dan harta yang bukan hak kita.
  • Kita harus menjaga komitmennya terhadap akad-akad (termasuk antara karyawan dan perusahaan)
  • Gaji antar karyawan mungkin sama, tapi keberkahannya berbeda. Tergantung dari seberapa amanah kita dalam bekerja.
  • Kita terlarang menggunakan waktu kerja untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan pekerjaan
  • Semangat kita bekerja adalah untuk mencari rezeki dari Allah, bukan berarti bergantung kepada perusahaan.
  • ‘Supervisor mungkin tidak mengetahui kelalaian dan kecurangan kita, tetapi Allah pasti mengetahui”

Semua itu dilakukan oleh trainer dari SWM dengan mendorong sisi spiritual dan keimanan karyawan, bagaimana mindset yang harus dimiliki seorang pekerja agar menjadi karyawan yang amanah dan profesional. Hasilnya, peningkatan produktivitas karyawan karena dorongan spiritual, bukan karena ancaman atau eksploitasi dari perusahaan.

Hasilnya, karyawan memiliki pola pikir yang lebih luas, komitmen yang lebih kuat, dan menjaga amanah pekerjaan dengan baik.

Mau tahu lebih lanjut tentang Pendampingan Spiritual Bisnis SWM? Klik di sini

4. Disiplinkan Karyawan Tentang Shalat

Membiasakan karyawan untuk shalat tepat waktu semestinya menjadi tips nomor wahid untuk membentuk karyawan menjadi super team yang kita harapkan.

Dari perspektif syariat, dengan mendisiplinkan karyawan tentang shalat menjadikan kita tidak mengganggu hak Allah untuk diibadahi oleh karyawan. Kita pun berharap Allah ridho dengan kesibukan bisnis kita.

Bukan justru kita berorientasi pada keberlimpahan bisnis, berlimpahnya penjualan, tetapi justru karyawan kita hanya sibuk memikirkan pekerjaan dan melupakan Allah. Tentu tidak ada keberkahan dari perusahaan yang seperti ini.

Dengan karyawan yang kita dorong untuk shalat tepat waktu, kita memberikan jeda untuk karyawan sehingga dapat melepaskan beban-beban duniawi dan meminta pertolongan Allah dalam amanah pekerjaannya. Hal ini pun secara psikologis dapat menurunkan stres dan otomatis bekerja menjadi lebih nyaman.

5. Bayar gaji tepat waktu.

Tentu hal ini tidak dapat dipungkiri lagi, betapa pentingnya pembayaran upah tepat waktu.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.”

HR. Ibnu Majah, shahih

Dengan kebiasaan di kita menggaji karyawan per bulan, maka maksud keringatnya kering di sini maksudnya adalah jatuh tempo tanggal gajiannya.

مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ
“Menunda penunaian kewajiban (bagi yang mampu) termasuk kezholiman”

HR. Bukhari no. 2400 dan Muslim no. 1564

Menunda pembayaran utang kepada karyawan tidak boleh disepelekan. Bukan hanya hal ini dapat membuat karyawan kecewa, hal ini pun dilarang tegas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui hadits-hadits nabi.

Agar bisa membayar upah karyawan tepat waktu, pastikan Anda telah menganalisa arus kas perusahaan Anda. Apakah kas sudah terkontrol dengan baik, yakni alokasi untuk pembelian, pembayaran iuran, hingga pembayaran gaji.

Kemudian, apabila perusahaan Anda banyak melakukan transaksi secara kredit (menjual produk dengan tempo), pastikan ada jeda yang cukup antara jatuh tempo pembayaran customer dengan tanggal kewajiban Anda membayar gaji.

Kedua hal ini kelihatan sederhana, tetapi banyak pelaku usaha yang masih lalai dalam perkara ini.

6. Perbarui Akad

Seiring berjalannya waktu, tidak jarang pada karyawan yang potensial itu terlihat skill-skill mereka miliki dan dapat bermanfaat bagi perusahaan. Misalnya, staf keuangan yang awalnya sekadar mencatat pembayaran customer (collection), kemudian mampu dan berkontribusi dalam penyusunan laporan keuangan.

Jika penyusunan laporan keuangan itu bukan bagian dari job description dia, sedangkan kita ingin mendapatkan manfaat skill yang ia miliki, lakukan pembicaraan tentang pembaruan akad yang bisa ia lakukan.

Pembaruan akad dapat berupa penambahan job desc (jika masih memungkinkan), perubahan posisi dan tanggung jawab, dan tentunya penyesuaian gaji.

Demikian 6 Tips Syar’i untuk Membuat Karyawan Betah dan Loyal terhadap Perusahaan, semoga bermanfaat.


Anda seorang pengusaha yang ingin mengubah bisnis menjadi berkah dan berlimpah? Klik di sini:

Chat SWM
1
Assalamu'alaikum👋
Ada yang bisa kami bantu?