Lalai Membayar Zakat Bisnis, Bagaimana Cara Taubatnya?

Zakat merupakan salah satu rukun Islam. Maka dari itu, sudah semestinya seorang muslim tidak boleh menyepelekan apalagi melalaikan kewajiban ini. Sayangnya, banyak orang yang melewatkan kewajiban zakat. Misalnya, menunaikan zakat hanya zakat fitrah menjelang lebaran. Padahal, ada zakat-zakat lainnya yang hukumnya juga wajib. Yang melalaikannnya bisa berdosa dan bahkan hartanya menjadi haram.

Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi hafizhahullah menyebutkan bahwa di antara harta haram adalah harta yang bercampur dengan hak Allah yang tidak dibayarkan, misalnya kewajiban zakat yang tidak ditunaikan.1 Beliau menambahkan, bahwa melalaikan zakat adalah kezaliman terhadap hak Allah, dan harta tersebut terhitung menjadi harta haram yang harus secepatnya dikeluarkan.

Apa zakat-zakat lainnya selain zakat fitrah?

Selain zakat fitrah yang kita bayarkan dengan makanan pokok menjelang idul fitri, seorang muslim juga diwajibkan untuk menunaikan zakat lainnya, seperti:

  • Zakat mal (uang, emas, tabungan, dan sejenisnya)
  • Zakat niaga (harta bergerak/barang niaga dalam bisnis)
  • Zakat peternakan
  • Zakat pertanian, serta
  • Zakat hasil tambang.
    Yang semua itu ada aturannya masing-masing, berapa yang dikeluarkan, kapan mengeluarkannya, dan kapan kita menjadi wajib mengeluarkan zakat tersebut.

Lalai membayar zakat tidak boleh disepelekan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan pada setiap harta orang-orang muslim yang kaya (zakat) yang mencukupi kebutuhan orang-irang muslim yang fakir. Dan tidaklah mereka kelaparan dan tubuh mereka tidak berbalut pakaian melainkan karena orang-orang kaya tidak mengeluarkan zakat. Ketahuilah! Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka (orang kaya yang tidak berzakat) dan akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih”

(HR. Thabarani, dishahihkan oleh Al Haitamy)

Bahkan pelaksanaan penunaian zakat ini bukan sekadar sukarela bagi orang-orang kaya, atau orang miskin untuk mendatangi orang kaya, tetapi Allah perintahkan pemerintah untuk menarik zakat ini dengan keras.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kami membersihkan dan mensucikan mereka”

(QS. At-Taubah:103)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Barang siapa yang enggan menunaikannya, maka kami akan tarik zakatnya dan menyita setengah hartanya, hal ini merupakan ketetapan Rabb kami.”

(HR. Abu Daud. Sanad hadits ini hasan)

Bahkan, ulil amri penerus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq membuat kebijakan untuk memerangi orang-orang yang tidak membayar zakat pada masa itu.

Harta yang tidak dikeluarkan zakatnya ibarat kotoran

Zakat yang tidak ditunaikan merupakan harta haram, karena harta zakat itu telah ditentukan sebagai hak fakir miskin. Zakat merupakan kewajiban yang telah jelas aturan dan hitungannya, bukan sedekah yang bersifat sukarela.

Harta haram tersebut akan mengotori dan bahkan memusnahkan harta yang bercampur dengan zakat yang tidak ditunaikan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Barang siapa yang telah menunaikan zakatnya, niscaya hilang kotoran dari hartanya.”

(HR. Thabarani, sanad hasan)

Cara Bertaubat dari Melalaikan Zakat

Taubat secara umum memiliki beberapa syarat, sebagaimana yang diajarkan para ulama, yaitu:2

  1. Bersegera meninggalkan dosa tersebut
  2. Menyesali atas apa yang telah dikerjakan
  3. Bertekad untuk tidak mengulanginya
  4. Jika dosanya berkaitan dengan hak manusia, maka ia harus segera mengembalikannya.

Sebagaimana telah disebutkan bahwa zakat adalah hak Allah untuk diberikan kepada fakir miskin, maka syarat keempat itu tidak bisa dilewatkan.

Menurut Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, hafizhahullah, seseorang yang bertaubat dan ingin membersihkan hartanya dari kewajiban zakat, caranya adalah menghitung jumlah zakatnya sesuai dengan jenis hartanya (berdasarkan ketentuan syariat tentang zakat tersebut).

Jika harta tersebut masih dimilikinya, maka wajib dikeluarkan segera.

Jika hartanya telah berkurang atau habis, harta haram ini tetap ada dalam tanggungannya dan wajib berniat untuk membayar zakatnya seandainya Allah berikan rezeki kepadanya. Jika dia wafat dalam keadaan ini, semoga Allah ampuni dosa-dosanya.

Jika dia wafat dan hartanya menjadi warisan, tetapi belum membersihkan harta haramnya ini, maka jadi kewajiban bagi ahli warisnya untuk mengeluarkan zakat pada tahun-tahun yang telah terlewat sebelum dibagikan kepada ahli waris.

“(Pembagian tersebut untuk ahli waris) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesuai dibayar utangnya.”

(QS. An-Nisa:11)


Sedangkan jelas bahwa zakat adalah utang mayyit kepada Allah yang wajib ditunaikan kepada fakir miskin dan penerima zakat lainnya.

Wallahu a’lam.

  1. Dr. Erwandi Tarmizi, “Harta Haram Muamalat Kontemporer” 2.2.1 Harta Haram, Zakat yang tidak Ditunaikan ↩︎
  2. Muslim.or.id, “Penting! Inilah Cara Tobat Nasuha” ↩︎
Chat SWM
1
Assalamu'alaikum👋
Ada yang bisa kami bantu?