Apa itu Akad Iz’an? Apakah Tidak Sah Karena Terpaksa?

Akad Jual beli didasarkan pada keridhaan antara penjual dan pembeli. Sehingga, akad jual beli disyaratkan adanya kesepakatan harga dan barang, jika tidak maka tidak sah akadnya. Namun, ada kalanya pembeli hanya sebagai price taker, bahkan terpaksa, tapi tetap sah. Akad ini disebut dengan akad iz’an.

Akad Jual Beli harus saling ridha

Pada dasarnya antara penjual dan pembeli harus menyepakati dahulu barang yang dibeli dan harganya. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوَٰلَكُم بَيْنَكُم بِٱلْبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

QS. An-Nisa:29

Seseorang yang misalnya berada dalam ancaman fisik untuk menjual/menyerahkan barang miliknya kepada pembeli yang memaksa/mengancam, maka jual beli ini tidak sah.

Akad Jual Beli Terpaksa yang Sah

Berbeda dengan hukum asalnya, ada akad-akad jual beli yang sah meskipun pembeli/penjualnya tidak ridho.

Contohnya adalah kasus pemaksaan jual oleh hakim atas orang yang bangkrut dan terlilit utang. Dr. Erwandi Tarmizi,1 mengutip Dr. Fahd Al Umary dalam bukunya menyebutkan bahwa seorang qadhi (hakim) yang menjual terpaksa sisa harta yang jatuh pailit untuk menutupi hutangnya atau ia menjual barang agunan untuk menutupi hutang pemilik barang yang telah jatuh tempo hukumnya adalah sah.

Contoh lainnya ialah orang yang terpaksa menjual tanah dan rumahnya karena terkena proyek pembuatan jalan raya atau perluasan fasilitas umum. Maka jual belinya sah meskipun mereka dipaksa, dengan syarat pemerintah menggantinya dengan ganti rugi yan gadil (layak sesuai dengan harga pasar).

Mengenal Akad Iz’an

Masyarakat kita pasti sangat mengenali ada jual-beli yang terkesan terpaksa, dan tidak ada tawar menawar antara penjual dan pembeli. Contohnya seperti listrik (PLN) dan air (PDAM). Apakah akad jual belinya sah?

Akad Iz’an adalah akad yang pihak satu kuat secara ekonomi memaksakan harga dan persyaratan-persyaratan yang menguntungkannya terhadap pihak yang lemah.

Dalam akad ini para pelanggan sama sekali tidak dapat menawar harganya. Misalnya listrik, apabila kita tidak setuju harganya, maka warga tidak dapat layanan tersebut.

Para ulama mengatakan akad ini tidak mengandung unsur paksaan, karena pelanggan saat ingin mengajukan permohonan tidak ada yang memaksa dia untuk melakukan akad tersebut. Sehingga, terlihat seperti terpaksa karena tidak ada tawar menawar, tapi pada kenyataannya tidak ada paksaan kepada warga untuk membeli atau tidak.

Bagaimana jika Akad Iz’an Mengandung Kezaliman?

Dr. Erwandi Tarmizi mengutip keputusan Majma’ al Fiqh al Islami pada keputusan No. 132 (6/4) tahun 2004, bahwa keputusan tersebut berbunyi:
Akad Iz’an dalam pandangan fikih terbagi dua:

  1. Akad Iz’an, harga yang ditetapkan adil, tidak mengandung persyaratan yang menzalimi pihak yang lemah. Hukum akad ini sah menurut syariat dan wajib dipatuhi kedua belah pihak.
  2. Akad Iz’an mengandung kezaliman terhadap pihak yang lemah, karena harga yang ditawarkan sangat murah (ghaban fahisy) atau persyaratan yang ditetapkan sangat merugikan. Dalam akad ini pemerintah setempat wajib turut campur sebelum ditawarkan kepada khalayak ramai. Dengan cara menentukan harga yang adil, terbebas dari kezaliman, merugikan oarng banyak atau menghapus/mengubah persyaratan-persyaratan yang tidak adil.

Wallahu a’lam

  1. Dr. Erwandi Tarmizi, “Harta Haram Muamalat Kontemporer”: Akad Iz’an ↩︎

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat SWM
1
Assalamu'alaikum👋
Ada yang bisa kami bantu?