Apa Hukum Trading Forex, Binomo, OlympTrade, dan Aplikasi Binary Options

Apa Hukum Trading Forex, Binomo, OlympTrade, dan Aplikasi Binary Options

Cara mencari uang lewat aplikasi saat ini membuat investasi dan penghasilan sampingan menjadi semakin mudah didapat. Dahulu kita harus pergi mencari barang, kemudian menjualnya di pasar. Kalau mau jual-beli valas, ya dengan cara membelinya dan menjualnya, atau dengan membuka money changer. Namun, sekarang hampir semua orang bisa mulai trading di smartphonenya masing-masing bahkan dengan modal kecil.

Bagaimana pandangan Islam terhadap trading forex?

Perlu diketahui bahwa dalam fikih, yang dilihat bukanlah istilah tetapi hakikat. Jadi, dalam kasus trading, investasi, atau sebutan lainnya, kita harus melihat apa hakikat yang dilakukan dalam kegiatan tersebut. Apakah hal tersebut benar-benar jual-beli/dagang (trade)? atau ikut serta dalam kepemilikan aset/bisnis (investasi)? atau malah judi?

Jika benar-benar jual-beli mata uang, maka hal ini hukumnya halal, yang diistilahkan dalam fikih muamalah sebagai “akad sharf”, yakni jual beli uang dengan uang. Misalnya, menukar uang rupiah dengan dolar amerika. Sebagian ulama melarang kegiatan jual beli mata uang jika tujuannya adalah spekulasi, meskipun sebagian lainnya seperti pembimbing syariah kami, Ustadz Dr. Erwandi membolehkan jual beli mata uang dengan tujuan untuk diperdagangkan (meskipun dalam jual beli pada dasarnya memang ada unsur spekulasi), yang penting, akad sharf-nya sesuai syariah.

Bagaimana akad sharf (jual beli mata uang) yang sesuai syariah? yaitu harus memenuhi syarat utama: ” serah terimanya tunai“. Jadi, ketika terjadi jual beli dari EUR ke USD, berapapun harganya boleh saja, yang penting keduanya diserahkan secara tunai, tidak ada penundaan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“…Dan janganlah engkau menjual (uang) salah satunya diserahkan secara kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan secara kontan.” (Riwayat Al Bukhari dan Muslim)

Bagaimana jika akad jual beli mata uangnya tidak sah? Misalnya uangnya tidak diterima secara langsung, ada penundaan. Rupiah sudah diserahkan, tapi Dollar belum ada di tangan. Atau, sepakat harga sekarang, serah terimanya nanti seperti transaksi future. Yang seperti itu akan menyebabkan transaksi valas ini menjadi riba, dan riba adalah dosa besar.

Apakah harus secara fisik uang atau bisa transfer bank? Boleh secara fisik, boleh juga dengan transfer. Tapi pihak penjual dan pembeli belum berpisah sebelum kegiatan serah terima uang tersebut (baik secara fisik maupun transfer ke rekening bank) selesai dilakukan. Pencatatan rekening di bank resmi juga dianggap sebagai serah terima yang sah (qabdh hukmi).

Sekarang, ada banyak sekali bentuk jual beli valas, mulai dari jual beli di money changer secara fisik, atau di bank yang menyediakan fasilitas rekening valuta asing, atau ada juga di broker-broker forex trading.

Setelah paham bagaimana akad sharf yang sah itu, maka apapun bentuk jual beli valasnya, selalu perhatikan dahulu sah atau tidaknya jual beli mata uang asing itu agar transaksi terhindar dari riba.

Sebagai ilustrasi, misalnya Anda membeli valas di broker trading dari IDR ke USD dengan cara transfer uang IDR ke rekening broker. Apakah ini transaksinya sah menurut syariat? Berdasarkan penjelasan di atas, kita harus lihat dari sisi “apakah saya sudah menerima uang USD secara langsung setelah saya serahkan IDR?” Cari tahu dahulu, dan bersikap skeptislah! Apakah transaksi beli ini benar-benar ada rekening bank atas nama Anda sejumlah USD tersebut? apakah Anda memiliki akses langsung rekening tsb untuk membelanjakan uang USD ini? ataukah hanya tercatat saldo saja di broker?

Jika tidak ada rekening bank tertentu, tidak ada akses untuk membelanjakan, dan hanya sebatas catatan saldo USD saja di aplikasi broker, ini artinya status USD-nya belum sah diterima di tangan Anda, padahal uang IDR sudah ditransfer. Kalau begitu, transaksi valas tadi tidak sah dan RIBA. Dari sudut pandang fikih, yang terjadi adalah broker memiliki utang USD kepada Anda, yang memang dengan itu Anda bisa trading dengan mata uang lain.

Berbeda halnya dengan trading saham, yang jika Anda menjadi investor yang resmi dengan broker tertentu, maka Anda memang tercatat memiliki rekening bank untuk menyimpan uang, dan bank kustodian untuk menyimpan saham.

Maka dari itu, perhatikan apakah ketika Anda deposit secara transfer, apakah Anda menerima uangnya, atau hanya sebatas catatan saldo saja di broker Anda? Jika tidak sah, maka cukuplah bagi Anda untuk transaksi valas melalui moneychanger atau rekening valas di bank.

Bagaimana dengan Binary Options (Binomo, iq option, Olymptrade)?

Di aplikasi Binary Options, justru lebih parah daripada trading yang tidak sah akadnya tadi. Mengapa? karena Binary Options adalah judi.

Pertama, kita harus memahami dahulu apa itu trading dengan Binary Options (Opsi Biner). Menurut Kontan, trading dengan binary options itu investor awalnya diminta melakukan deposit sejumlah uang yang kemudian digunakan sebagai modal trading, lalu investor memilih indeks aset berupa forex atau saham, lalu investor menebak apakah harganya akan naik atau turun dalam waktu tertentu (dalam sekian detik, menit, jam, atau hari).

Misalnya, investor menaruh modal $10 (kurs USD = IDR 13.000), dan menebak bahwa harga USD kepada IDR akan naik 5 menit lagi. Jika benar USD naik pada 5 menit kemudian (USD = IDR 13.200), maka Investor mendapat keuntungan $10 – $1 (fee untuk penyedia aplikasi trading), sehingga uangnya saat ini menjadi $19. Adapun, jika salah, USD ternyata turun (USD = IDR 12.900), maka investor kehilangan $10 tadi karena tebakannya salah dan modalnya kini tersisa $0 (0 rupiah).

Binary Options seperti Binomo, Olymptrade, atau iq option, ini berbeda sekali dengan konsep jual beli valas. Tentunya ketika investor memiliki $10 yang ia beli dari IDR seharga 13.000, lalu USD naik menjadi 13.200, maka keuntungannya adalah 200 rupiah x 10 = 2000 rupiah. Sedangkan jika turun menjadi 12.900, kerugiannya hanyalah 100 x 10 = 1000 rupiah, masih tersisa $10 senilai 10 x 12.900 rupiah.

Maka dari itu, Binary Options meskipun diiklankan sebagai trading (jual beli), investasi, atau apapun itu, pada hakikatnya lebih mirip sebagai perjudian. Dalam Islam, judi hukumnya haram.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al Maidah: 90).

Jutaan orang tidak menyadari bahwa mereka masuk ke dalam perjudian untuk mendapat keuntungan, padahal Allah yang Pemberi Rezeki menyuruh kita menjauhi perjudian untuk mendapat keberuntungan.