Apa itu Asuransi Syariah

Apa itu Asuransi Syariah

Asuransi memberikan perlindungan keuangan dari risiko yang mungkin dapat terjadi. Akan tetapi mekanisme asuransi konvensional sebagaimana telah dibahas di artikel sebelumnya (klik di sini), ada pelanggaran syariat yang menjadikannya mengandung riba dan gharar.

Akan tetapi, bukan berarti asuransi secara mutlak haram, ada loh model asuransi syar’i yang dapat digunakan. Sebab, ketika Allah mengharamkan sesuatu, Allah memberikan ganti yang lebih baik.

Jadi perusahaan asuransi apa yang syariah? eits, pahami dulu prinsipnya, baru bisa tahu halal-haramnya. Yuk kita simak.

Mengenal Ta’min Islami (Asuransi Syariah)

Asuransi syariah atau Ta’min Islami adalah kesepakatan sekelompok orang yang menghadapi risiko tertentu untuk mengurangi dampak risiko yang terjadi dengan cara membayar kewajiban hibah yang mengikat sehingga terhimpun dana tabarru’. Dana inilah yang digunakan untuk membayar ganti rugi peserta syariah atas risiko yang terjadi sesuai dengan aturan yang disepakati.

Contoh ilustrasi asuransi syariah

Sederhananya, misalnya Ahmad, Badrun, dan Syu’aib bersepakat untuk berasuransi syariah. Caranya adalah masing-masing wajib untuk hibah uang sebesar Rp100.000,- per bulan. Uang yang terkumpul ini disebut dana tabarru’ (dana kebajikan). Dalam waktu setahun, telah terkumpul uang sebesar Rp3.6 juta.

Qadarullah pada saat itu Badrun kecelakaan dari motor dan memerlukan biaya servis motor sebesar Rp1 juta. Ahmad, Badrun, dan Syu’aib setuju untuk memberikan bantuan sebesar Rp1 juta dari dana terkumpul tadi, sehingga sisanya RP2.6 juta tetap ditabung menjadi milik bersama untuk jaga-jaga siapa yang mengalami musibah. Ini contoh sederhana dari asuransi syariah.

Dalam waktu beberapa bulan, ternyata ada orang-orang lain yang tertarik untuk bergabung sehingga terkumpullah 200 orang. Akhirnya mereka sepakat untuk menunjuk Ahmad sebagai orang yang dipercayakan mengelola dana tersebut. Setiap bulan, Ahmad menagih para peserta untuk membayar hibah Rp100.000,- dan memverifikasi peserta yang mengajukan klaim (asli atau pura-pura, dan apakah sesuai dengan SOP yang ditetapkan). Untuk pekerjaannya, Ahmad mendapatkan upah secara tetap sebesar Rp500 ribu per bulan.

Syu’aib selama bertahun-tahun ikut asuransi, tetapi alhamdulillah tidak pernah ditimpa musibah. Dia bersyukur dan tidak sedikitpun merasa rugi. Sebab, dengan ikut serta asuransi syariah ini dia bisa membantu orang-orang yang membutuhkan, dan dia pun merasa lebih tenang karena niatnya mengharap ridho Allah dan yakin dengan perlindungan Allah. Bisa jadi selama ini dia tidak klaim asuransi syariah, dengan sebab sedekahnya yang rutin dalam program asuransi ini Allah menjaga dia dari musibah yang ada.

Dengan contoh yang sederhana ini, dapat dipahami bahwa Ahmad, Badrun, Syu’aib beserta ratusan peserta lainnya sebagai pemegang polis asuransi syariah, sedangkan Ahmad sebagai wakilnya para peserta dalam mengelola dana ini, atau dengan kata lain, sebagai perusahaan asuransi syariah. Dana yang terkumpul bukanlah milik Ahmad, dia hanya mengelola saja.

Kalau ternyata banyak yang mengalami musibah hingga uangnya habis maka Ahmad tidak menanggung apa-apa justru Ahmad mengajak para peserta untuk bersedekah lagi ke dana tabarru’nya agar terisi kembali. Kalau ternyata uangnya tidak ada yang diklaim, maka itu pun bukan milik Ahmad, tetapi sepenuhnya milik para peserta, yang dengan uang tersebut mereka bisa bersepakat untuk menolong korban bencana alam, atau menyumbangkan ke yayasan kemanusiaan, dan lain-lain.

Sangat terlihat sekali bahwa asuransi yang mereka lakukan ini adalah berprinsip syariah dalam rangka tolong menolong sesama.

Apa perbedaan antara asuransi syariah dengan asuransi konvensional

Asuransi syariah, atau disebut juga takaful (saling menanggung), akadnya adalah hibah. Keberadaan gharar (ketidakpastian) dalam ajad hibah diperbolehkan. Gharar yang diharamkan adalah gharar dalam akad komersial. Sedangkan asuransi konvensional, akadnya adalah jual beli (uang dengan uang) sebagaimana telah dibahas di sini. Maka adanya gharar pada akad tersebut diharamkan.

Dalam asuransi syariah, perusahaan pengelolanya berstatus sebagai wakil dari para pemegang polis untuk mengumpulkan dan mengelola dana. Dana premi yang terkumpul adalah milik para peserta. Sedangkan, perusahaan asuransi konvensional bertindak sebagai pemilik dana. Premi yang terkumpul adalah milik perusahaan asuransi, sebagai bayaran atas kesiapan perusahaan menanggung risiko peserta.

Jika uang terkumpul (dana tabarru asuransi syariah) sudah digunakan untuk membantu/mengganti rugi untuk para peserta, dan digunakan untuk biaya operasional, maka sisa uang tersebut tetap milik para peserta. Sedangkan dalam asuransi konvensional, sisa dari uang yang dikeluarkan untuk ganti rugi dan biaya operasional dianggap sebagai keuntungan perusahaan.

Jika dana asuransi syariah habis, maka peserta tidak ada yang dapat dibantu kembali hingga para peserta saling mengumpulkan uang, dan perusahaan asuransi tidak bertanggungjawab atau turut menanggung risiko. Sedangkan dalam asuransi konvensional, jika uang premi yang terkumpul sudah habis, maka perusahaan mengalami kerugian dan tetap wajib membayar klaim yang masuk.

Tujuan asuransi syariah adalah untuk tolong menolong sesama. Sedangkan tujuan asuransi konvensional adalah komersil untuk memperoleh keuntungan.

Mengapa asuransi syariah tidak riba dan gharar?

Riba bai’ yang ada pada asuransi konvensional itu tidak ada pada asuransi syariah. Sebab, asuransi islami bukanlah akad jual beli uang dengan uang dalam tanggungan risiko, melainkan akad hibah (sumbangan) yang dimaksudkan untuk saling membantu para peserta/anggota. Sehingga, apa yang dilakukan peserta bukanlah mencari keuntungan antara peserta dengan perusahaan asuransi. Perusahaan tidak ada tanggungan apa-apa, hanya mengelola dananya saja.

Akad yang digunakan dalam asuransi syariah

Ada tiga akad yang digunakan dalam asuransi syariah, yaitu:

  1. Musyarakah. Yaitu akad urunan dana antar sesama para pemegang polis asuransi syariah. Dana terkumpul merupakan dana bersama.
  2. Hibah yang mengikat. Akad antara pemegang polis dengan badan dana pada saat awal perjanjian. Pada saat klaim ganti rugi diberikan oleh badan dana maka akadnya adalah al iltizam.
  3. Wakalah. Yaitu akad perwakilan. Dengan akad ini, para peserta asuransi menjadikan perusahaan asuransi syariah sebagai orang yang dipercaya dalam mengelola dana yang terhimpun.
  4. Mudharabah. Yaitu akad investasi. Akad ini muncul jika para peserta asuransi sepakat agar dana ini diinvestasikan dengan menjadikan perusahaan asuransi syariah sebagai pengelolanya. Nanti akan ada bagi hasil antara para peserta (dana terkumpul) dengan perusahaan.

Demikian penjelasan tentang apa itu asuransi syariah, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Baca lebih lanjut: Syarat yang harus dipenuhi asuransi syariah

1 thought on “Apa itu Asuransi Syariah

Comments are closed.