Bagaimana Memulai Investasi Syariah

Bagaimana Memulai Investasi Syariah

Produk investasi yang telah dikenal umum saat ini seperti emas, deposito, saham, obligasi, trading forex, dan banyak lagi yang lainnya, yang kalau ditinjau dari sisi kepatuhan syariat banyak ditemukan pelanggaran seperti riba dan gharar.

Sehingga, dengan perkembangan ekonomi syariah turut berkembang produk investasi yang sesuai syariah, misalnya saham syariah, deposito syariah, dan sukuk.

Namun, bagi yang pernah belajar ekonomi syariah pasti tahu bahwa dalam investasi syariah itu yang awal-awal dipelajari bukan “produk investasi apa yang cocok untuk saya?”, tetapi “akad-akad apa saja yang dapat digunakan”.

Memahami Akad yang Digunakan dan Aturan Syariat dalam Investasi

Dengan demikian, cara memulainya adalah dari belajar akadnya, bukan produknya. Sebab, dengan memahami akadnya, produknya bisa apa saja, termasuk yang ‘konvensional’ sekalipun. Jika kita sudah paham akad dan fikihnya, kita bisa bedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.

Ada beberapa contoh akad yang digunakan untuk investasi, biasanya:

  1. Akad Investasi Berbasis Jual Beli

Misalnya, akad jual beli murabahah (jual beli barang dengan margin), akad ijarah (sewa), akad istishna (pesanan produksi), dan akad salam (pre-order dengan uang dibayar di depan). Dengan menggunakan akad seperti ini saja, dapat menjadi model investasi yang syar’i, bebas riba, dan profitable jika dipahami praktiknya. 

  1. Akad Investasi Berbasis Modal/Perkongsian

Ini akad yang umum digunakan dan sering disebut sebagai ‘syirkah’. Syirkah sendiri terdapat beberapa macam, misalnya musyarakah dan mudharabah. Pada intinya, akad investasi seperti ini menyetorkan modal atau tenaga, berbagi hasil sesuai kesepakatan, dan menanggung kerugian berdasarkan modal disetor. Investasi saham jika praktiknya sesuai dengan syariat, maka terkategorikan dalam akad syirkah.

Contoh Perbedaan Investasi Syariah dengan Konvensional

Setelah kita pahami bahwa investasi konvensional itu mengandung riba, gharar, dan pelanggaran lainnya, sedangkan investasi syariah itu halal dan insyaallah mengandung keberkahan, kita ambil contoh ilustrasi investasi keduanya ini.

Contoh Praktik Konvensional

PT. X memerlukan suntikan dana investasi sebesar Rp50 juta untuk ekspansi bisnis, tetapi tidak ingin menerbitkan saham karena tidak mau berbagi kepemilikan dengan investor baru. Mindset yang ada di pikiran pengelola adalah “kalau bukan investasi masuk ke modal, berarti ya kita utang”. 

Kemudian, perusahaan ini pergi ke bank atau menerbitkan tawaran utang dengan bunga. Akhirnya ada manajer investasi yang tertarik untuk memutar uangnya dengan cara memberikan utang kepada PT. X sebesar Rp50 juta selama lima tahun dan dengan bunga 7% per tahun.

Dengan begitu, manajer investasi yang memberikan pinjaman tadi dengan mendapatkan modalnya kembali sebesar Rp50 juta dan imbal hasil tetap Rp17.5 juta (Rp67.5 juta).

Bagaimana ceritanya kalau perusahaan tadi menjalankannya secara syar’i?

Contoh Praktik Syariah

PT. X memerlukan suntikan dana investasi sebesar Rp50 juta untuk ekspansi bisnis, tetapi tidak ingin menerbitkan saham karena tidak mau berbagi kepemilikan dengan investor baru. Mindset yang ada di pikiran pengelola adalah “kita memerlukan sumber dana tambahan, bagaimana caranya?” Pengelola memiliki beberapa opsi syar’i:

  • Murabahah
    • Biasanya perusahaan membeli bahan baku sebesar Rp25 juta per bulan. Akhirnya, pengelola memutuskan untuk membuka peluang investasi murabahah untuk bahan baku dua bulan sebesar Rp50 juta.
    • Investor yang paham syariat tertarik untuk akad murabahah. Bahan baku dua bulan dibelikan oleh investor, dan perusahaan membayarnya secara cicil selama lima tahun dengan harga Rp67.5 juta (profit Rp17.5 juta).
    • Dana PT. X yang tadinya untuk membeli bahan baku, kini dapat digunakan untuk mengembangkan bisnis oleh PT. X
  • Ijarah
    • PT. X tahun ini harus menyewa 2 toko masing-masing Rp25 juta/tahun. Kemudian, PT. X menawarkan peluang investasi ijarah.
    • Investor yang paham syariat tertarik untuk akad ijarah. Sewa dua toko selama setahun disewanya oleh investor, lalu dua toko tersebut disewakan kembali kepada PT. X sebesar Rp67.5 juta (profit Rp17.5 juta) dicicil 5 tahun.
    • Dana PT. X yang tadinya untuk bayar sewa toko, kini dialokasikan untuk mengembangkan bisnis.

dan masih banyak lagi yang dapat digunakan dengan bentuk yang bermacam-macam sesuai akadnya.

Dari Mana Memulai Investasi Syariah? Lihat di Sekitar Kita

Berdasarkan contoh di atas, dapat terlihat kalau investasi syariah itu lebih fleksibel, banyak peluang, dan dengan dasar aset yang jelas (riil). Bukan sekadar memberikan uang dan mendapatkan uang saja.

Kalau kita memahami akad-akadnya dan melihat sekitar, ada banyak peluang investasi yang bisa dimanfaatkan. Jangan hanya terfokus pada saham syariah perusahaan-perusahaan raksasa dengan bisnis yang rumit di pasar modal, kalau sebenarnya bisa jadi rekan dan kerabat kita ada yang kita percaya, kita mengerti bisnisnya yang sederhana, dan perputaran uangnya cepat, bisa menjadi peluang investasi yang lebih menguntungkan.

Misalnya ada saudara atau tetangga kita yang punya usaha kue, katering, jualan pakaian, atau usaha lainnya. Ketika ada orderan besar, mungkin dari jualan online yang meningkat, atau pesanan hari raya, tawarkan saja investasi kepadanya, baik dengan skema syirkah bagi hasil, atau skema berbasis jual beli (yang dicontohkan di atas). Bahkan bisa dengan modal kecil.

Mengapa ini lebih baik? Karena kita benar-benar paham bisnisnya, bagaimana dia menjalankan bisnis, dari mana dia mendapatkan keuntungan dan seberapa besar risiko kerugian bisnisnya. Lebih sederhana dibandingkan perusahaan-perusahaan besar di pasar modal yang tidak kita tahu tiba-tiba naik untung tiba-tiba turun dan merugi.

Dengan memulai investasi pada usaha yang kecil dan di sekitar kita, kita mendorong pertumbuhan UMKM, mempererat persaudaraan dengan sesama, dan mengajarkan kita investasi secara bertahap dari bisnis kecil hingga pada saatnya investasi pada perusahaan besar, dari investasi jangka pendek hingga nanti investasi jangka panjang, dari risiko rendah hingga risiko tinggi.

Kita sebagai investor akan memiliki ‘insting’ bisnis, bisa membedakan mana bisnis yang memang menjanjikan untuk investasi, dan mana yang tidak dapat dipercaya. Bukan sekadar melihat tawar-tawaran imbal hasil tahunan dan mudah ditipu. Bukan hanya memberikan uang, tetapi juga bisa memberi saran yang baik kepada pengelola karena investor juga punya pengalaman memperhatikan bisnis.

Apakah Produk Investasi Syariah yang Banyak Saat Ini Bisa Menjadi Pilihan Investasi Bagi Pemula?

Bisa saja, selama kita memahami akad dan fikih atas produk investasi tersebut. Investasi emas? boleh asalkan sesuai aturan akad sharf, tidak terdapat riba bai’ dan nasi’ah. Investasi saham? boleh, asalkan sesuai ketentuan akad syirkah, bisnisnya halal, dan tidak ada utang ribawi. 

Meskipun demikian, SWM lebih direkomendasikan investasi yang riil asetnya dan kita kenali bisnisnya terutama yang ada di sekitar kita. Sehingga, kita memahami bagaimana karakter orang yang kita amanahkan dana, bagaimana kondisi bisnisnya, serta turut memberi masukan untuk memajukan bisnisnya. Kalau menguntungkan, kita mengerti kenapa untung. Kalau mengalami kerugian, kita lebih bisa memaklumi dalam menanggung kerugian.

Jika Ada Tawaran Investasi, Apa yang Harus Saya Lakukan?

Kalau misalnya ada yang menawarkan produk investasi kepada Anda, maka Anda harus tahu siapa yang menawarkan, perusahaan apa, bagaimana performa usahanya selama ini, bagaimana risiko investasinya, apa akadnya, dan yang terpenting adalah apakah ada yang melanggar syariat atau tidak.

Khawatir tidak syar’i? Tenang, Syariah Wealth Management membantu Anda untuk mereview akad investasi sehingga insyaallah bebas riba, gharar, dan menutup celah kezaliman antara pengelola dan investor. Butuh review akad, atau konsultasi? hubungi SWM di sini.

1 thought on “Bagaimana Memulai Investasi Syariah

Leave a Reply