|

Hukum Harta Bersama Suami dan Istri dalam Islam

Dalam pernikahan, suami dibebani kewajiban untuk mencari nafkah untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Sedangkan, biasanya istri mengurus rumah dan melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, atau bahkan membantu mencari penghasilan tambahan untuk kebutuhan rumah dan tabungan. Bagaimana status harta suami dan istri dalam pandangan Islam? Berikut ini pembahasan harta gono-gini menurut syariat Islam, karena sering dipermasalahkan.

Dalam Islam, harta suami dan istri adalah harta masing-masing dan tidak digabung meskipun sudah menikah. Oleh karena itu, dalam Al-Qur’an, ketika Allah berfirman mengenai harta saat istri wafat

“Kalian wahai para suami, berhak mendapatkan warisan seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh para istri, jika istri tidak mempunyai anak.” (Q.S. An-Nisa : 12)

Pada ayat tersebut, jelas bahwa Allah membedakan harta suami dan istri, buktinya adalah disebutkan bahwa ketika istri wafat, maka dari harta miliknya, suami berhak 1/2 dari harta warisnya jika ia tidak ada anak atau 1/4 jika ada anak. (lebih lanjut mengenai warisan klik di sini).

Maka dari itu, pada dasarnya harta suami dan istri adalah terpisah. Suami bisa saja bekerja, sebagian uangnya dikumpulkan untuk membeli aset untuk dirinya sendiri, atau memberikannya kepada istri. Istri pun bisa bekerja juga dan memiliki tabungan hartanya sendiri.

Ini berbeda dengan undang-undang yang dibuat manusia, seperti yang tercantum dalam UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 35 bahwa “(1) Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama”

Bagaimana jika suami dan istri keduanya bekerja dan mengumpulkan harta bersama-sama?

Pada harta suami terdapat hak istri dan anak sebagai nafkah

Jika suami dan istri sama-sama bekerja, perlu diperjelas bahwa yang berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan keluarga adalah suami. Sehingga, pada harta suami terdapat hak untuk istri dan anak dalam bentuk pemenuhan nafkah. Sedangkan, istri tidak berkewajiban untuk menafkahi keluarga, sehingga jika istri bekerja, apa yang istri miliki adalah miliknya sendiri, kecuali ia rela membantu suaminya dalam menambah pemenuhan kebutuhan keluarga.

Lelaki itu menjadi pemimpin bagi para istrinya, disebabkan Allah memberikan kelebihan bagi mereka dan karena mereka memberikan nafkah kepada istrinya dari harta mereka. (QS. an-Nisa: 34)

Jika suami dan istri memiliki harta bersama setelah menikah

Jika seorang suami dan istri sama-sama bekerja, memenuhi kebutuhan keluarga dan dirinya masing-masing, lalu dengan penghasilannya berhasil membeli rumah, baik itu tunai maupun KPR yang syar’i, bagaimana status rumah tersebut?

Hal ini sering sekali terjadi, dan sering menciptakan masalah warisan ketika salah satunya wafat. Perlu diketahui bahwa dalam Islam, harta suami dan istri tidak digabung, kecuali mereka patungan membeli sesuatu, atau suami menghibahkan kepemilikannya kepada Istri.

Ketika seorang suami membeli rumah, maka bisa jadi itu adalah rumah miliknya 100%, karena dari uang tabungannya sendiri, meskipun istrinya juga berpenghasilan dan membantu suami memenuhi keperluan rumah tangga. Jadi tidak serta merta rumah tersebut milik bersama hanya karena tinggal bersama dan sama-sama bekerja. Ketika istri memenuhi keperluan rumah tangga, itu murni terhitung sebagai kebaikan istri. Tetapi ketika suami dengan uangnya sendiri beli rumah, maka itu sepenuhnya milik suami.

Jika suami istri bekerja, dan keduanya mempunyai kesepakatan untuk punya rekening tabungan bersama, ini artinya mereka telah bersyirkah. Misalnya dalam syirkah tersebut mereka sepakat punya kepemilikan 50:50. Bisa jadi dengan rekening tabungan itu digunakan untuk bayar kebutuhan hidup atau membeli barang-barang. Misalnya, uang tabungan ini dibelikan rumah, barulah bisa dikatakan rumah tersebut adalah rumah milik bersama, kepemilikannya 50:50.

Jika yang bekerja hanya suami, sedangkan istri tidak punya harta apa-apa, maka tidak mungkin istri dikatakan punya kepemilikan atas rumah yang dibeli suami, apalagi disebut 50:50. Kecuali, suami menghibahkan kepada istri, misalnya “50% dari rumah ini menjadi milikmu”, maka ini jadi harta bersama, 50:50.

Jika orang tua istri wafat dan istri mendapat warisan berupa rumah, maka itu sepenuhnya milik istri. Jika istri bekerja dan menabung hingga punya mobil, maka itu sepenuhnya milik istri. Suami tidak boleh memakainya tanpa seizin istri, meskipun ia pemimpin/kepala rumah tangga.

Warisan Harta Bersama Suami Istri

Ketika suami atau istri wafat, maka pertama lihat mana saja harta miliknya. Status kepemilikan harta sangat penting, “apakah rumah ini milik suami 100%? atau patungan dengan istri? atau suami dahulu sudah menghibahkannya kepada istri?”, dengan begitu tidak terjadi salah perhitungan waris.

Jika rumah tersebut 50:50, antara suami dan istri, maka ketika suami wafat, istri sejak awal memang sudah punya 50% dari rumah, tinggal 50% milik suami ini yang dihitung sebagai warisan. Barulah kemudian, dihitung, misalnya suami dan istri memiliki anak maka istri mendapat 1/8. Dihitung 1/8 x 50% = 6.25%, ditambah kepemilikan 50% tadi, sehingga rumah tersebut milik istri 56.25%, selebihnya kepada ahli waris yang lain.

Masalah status harta suami istri seringkali diremehkan banyak orang, tidak dibahas detail dalam manajemen rumah tangga. Sayangnya, ketika salah satunya wafat, terjadi masalah. Sang istri menguasai 100% harta suami karena istri masih hidup, anaknya tidak kebagian, dan tidak boleh membahasnya. Yang seperti ini sering terjadi, karena tidak jelas sejak awal, apalagi pemahaman tentang waris yang kurang.

Jika sudah terlanjur warisnya bermasalah, atau kebingungan bagaimana menghitung warisan, Syariah Wealth Management menyediakan layanan konsultasi waris. Klik tombol Whatsapp di bawah ini dan hubungi tim kami untuk info lebih lanjut.



Similar Posts