Memahami Bitcoin, Crypto, Blockchain, dan Pandangan Islam

Memahami Bitcoin, Crypto, Blockchain, dan Pandangan Islam

Bitcoin dan cryptocurrency pada era digital saat ini dipandang sebagai inovasi baru di dunia keuangan dan transaksi yang tentunya hal ini berkaitan erat dengan bahasan syariat yaitu fikih muamalah maliyah.

Beberapa penjelasan seputar cryptocurrency ini ada yang terdengar baik dan mengandung maslahat seperti fitur keamanan, privacy, kemudahan bertransaksi, kebebasan (dari otoritas moneter negara tertentu), dan kemajuan teknologi.

Tidak sedikit juga penjelasan yang memaparkan keburukan dan mafsadah cryptocurrency ini seperti volatilitas yang tinggi (harganya tidak stabil), risiko deflasi, dan menjadi ajang “taruhan” spekulasi.

Dengan pro-kontra demikian, sebagian besar ulama, khususnya di Indonesia, dalam transaksi bitcoin ini mengambil sikap berhati-hati dan cenderung melarangnya karena aspek gharar. Namun, apakah fatwa tersebut bersifat menyeluruh ke semua cryptocurrency? Apakah ada perbedaan pendapat?

Dalam memahami fatwa, kita harus paham hakikat dari yang dipermasalahkan (masa’il) serta kerangka berpikir ulama dalam mengeluarkan fatwa (misalnya illat dari suatu hukum, sebab sesuatu menjadi halal, sebab sesuatu menjadi haram).

Maka dari itu sebelum membahas apa hukum bitcoin, crypto, dan lain-lain, perlu dipahami dahulu apa sebenarnya aset digital yang sedang dibahas ini. Syariah Wealth Management dalam artikel ini berusaha meringkas penjelasan-penjelasan tentang Cryptocurrency se-objektif mungkin dengan bahasa yang mudah.

Apa itu Bitcoin dan Cryptocurrency?

Cryptocurrency, atau biasa disebut dengan “crypto”, “mata uang kripto“, atau “uang virtual”, yaitu suatu aset digital yang ditujukan sebagai alat tukar yang dikembangkan dengan kriptografi yang kuat untuk mengamankan transaksi keuangan, verifikasi transfer aset, dan mengontrol laju pembuatan unit uang tersebut.

Bitcoin, Litecoin, Dogecoin, adalah di antara ratusan cryptocurrency yang dikembangkan di dunia. Jadi, selain bitcoin, sebenarnya ada banyak sekali cryptocurrency yang dikembangkan dan masing-masing memiliki karakteristik yang beragam.

Siapa pun bisa menciptakan coin-coinnya sendiri (membuat cryptocurrency sendiri) jika ia memiliki kemampuan mendalam tentang teknologi blockchain, memiliki modal untuk pengembangan infrastruktur yang dibutuhkan dalam pembuatan dan pengurusan coinnya, serta dapat meyakinkan pihak-pihak lain untuk bersama-sama turut serta dalam menjalankannya, menambang (mining), dan menggunakannya.

Jika cryptocurrency tersebut sudah dibuat, maka semua orang bisa melakukan “penambangan” atau mining atas coin tersebut. Hal ini seperti pembuat coin tadi telah membuat “bukit-bukit emas” tapi bukan emas, melainkan coin, kemudian masyarakat bisa menambang coin pada “bukit-bukit” yang ada. Berbeda dengan tambang emas yang memakai alat berat untuk menggali, mining coin menggunakan komputer-komputer canggih untuk menambangnya dengan cara memecahkan kode-kode algoritma tertentu, yang jika berhasil maka akan mendapatkan sejumlah cryptocurrency. Inilah yang disebut “mining”.

Kegiatan mining ini belum tentu menguntungkan bagi semua orang. Melakukan mining memerlukan modal berupa komputer yang cukup canggih untuk memecahkan algoritma mining. Selain itu, bisa jadi coin yang didapat tidak sebanding dengan biaya-biaya (seperti listrik) yang dikeluarkan untuk mining. Oleh karena itu, sebagian orang lebih memilih untuk membeli bitcoin dengan uang dari orang-orang yang sudah memiliki bitcoin, daripada menambangnya dengan komputer.

Penambangan cryptocurrency ini terbatas. Untuk bitcoin misalnya, hanya disediakan 21 Juta Bitcoin saja. Semakin banyak yang menambang dan semakin banyak bitcoin yang sudah berhasil ditambang, maka mining akan semakin sulit.

Dari sini dapat terlihat bahwa coin dibuat dengan cara “penambangan” terbatas, sedangkan uang kartal dibuat dengan cara pencetakan/penerbitan uang yang diatur negara.

Dari Mana Pendiri Cryptocurrency Mendapatkan Keuntungan?

Telah dijelaskan bahwa bagi para penambang agar mendapatkan coin, bukanlah dengan cara membayar uang kepada pemilik kripto, tetapi dengan cara mining/menambang lewat komputer.

Lalu darimana Pendiri Cryptocurrency mendapatkan keuntungan dari pembuatan mata uang kripto ini?

Disebutkan dari beberapa sumber, pendiri uang kripto melakukan penambangan/menguasai beberapa persen untuk dirinya dari seluruh total coin yang tersedia sebelum cryptocurrency-nya diluncurkan ke publik. Misalnya, Vitalik Buterin pendiri Ethereum memiliki 333,000 ETH coin. Satoshi Nakamoto (nama samaran pendiri Bitcoin) telah menambang 1.1 juta BTC di awal peluncuran.

Jika pendiri uang kripto tersebut berhasil meyakinkan masyarakat, coin-coin tersebut laku di pasaran, harganya menjadi mahal. Maka, coin yang sudah dimiliki para pendirinya menjadi berharga dan bisa menguntungkannya saat coinnya dijual ke mata uang lain seperti dollar atau rupiah.

Apa itu Blockchain?

Kemunculan mata uang kripto ini sebenarnya disebabkan oleh ditemukannya teknologi yang disebut dengan Blockchain.

Blockchain adalah sebuah teknologi di dunia database, atau sederhananya, pencatatan transaksi. Database pada umumnya berupa sekumpulan informasi atau data yang tercatat dalam tabel (seperti spreadsheet/microsoft excel), dan disimpan di komputer server. Data-data perusahaan kita mungkin disimpan di komputer server perusahaan sendiri, tetapi data lain seperti email (jika menggunakan Gmail) maka disimpan di komputer servernya Google. Semoga tergambarkan ya apa itu database dan apa itu server.

Struktur data di blockchain berbeda dengan database biasa. Database biasanya mencatat data di suatu server. Blockchain mencatat data secara berkelompok di banyak server, atau disebut dengan “Block”. Ketika block tersebut sudah penuh, maka diikuti/dirantai (chain) dengan block berikutnya sehingga disebut dengan “blockchain”.

Ini yang membedakan pencatatan transaksi uang jika kita bertransaksi dengan uang elektronik (e-money), atau transfer uang lewat bank. Transfer uang melalui bank itu dicatat oleh bank dan diselesaikan melalui proses kliring antar bank, sedangkan transaksi uang kripto bitcoin dicatat oleh ribuan komputer di seluruh dunia yang berpartisipasi dalam Blockchain.

Inilah yang disebut prinsip desentralisasi dalam uang kripto/virtual. Transaksi uang kripto dicatat oleh ribuan komputer, sehingga dianggap aman dan tidak memungkinkan ada kecurangan pencatatan transaksi.

Misalnya A memiliki sejumlah bitcoin, rekening tersebut tercatat di blockchain. Jika A mentransaksikan bitcoinnya, maka blockchain mencatat perpindahan kepemilikan coinnya antara A dan rekening tujuan.

Sehingga semuanya transkasinya tercatat oleh banyak komputer (desentralisasi) tidak butuh Bank Sentral, berbeda dengan perbankan yang pencatatannya terpusat (sentralisasi) dan diawasi oleh Bank Sentral.

Apa Perbedaan antara Uang Elektronik, Uang Digital, dan Uang Virtual Cryptocurrency?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Uang Kripto/Uang Virtual adalah aset digital yang dibuat sebagai alat tukar yang bebas dikembangkan oleh masyarakat.

Adapun Uang Elektronik adalah uang dalam bentuk elektronik (disimpan dalam chip kartu), sedangkan penggunanya harus menyetorkan uang rupiahnya dahulu kepada bank penerbit. Mirip dengan Uang Elektronik, Dompet Digital (e-Wallet) adalah aplikasi untuk menyimpan uang dan digunakan untuk alat pembayaran.

Sedangkan Uang Digital alias digital currency adalah inovasi dari uang kartal. Sebelumnya, Rupiah memiliki bentuk koin, kertas, dan ini bentuk terbarunya yakni dalam bentuk digital. Maka dari itu, uang digital sebenarnya masih berupa rupiah, serta diatur penerbitan dan transaksinya oleh pemerintah. Saat artikel ini ditulis, Uang Digital disebut oleh pemerintah dengan istilah CBDC (Central Bank Digital Currency).

Apakah Semua Cryptocurrency Sama?

Tidak semua cryptocurrency itu sama. Dari ratusan cryptocurrency, ada bermacam-macam tipe cryptocurrency dengan karakteristiknya masing-masing. Sehingga, pandangan hukum fikihnya bisa saja berbeda.

Crypto coin dibuat untuk menjadi alat pembayaran (layaknya uang), seperti Bitcoin, Monero, dan lain-lain. Masing-masing memiliki sistem blockchainnya sendiri. Tidak ada kegunaan lain dari coin kecuali transaksi keuangan antar pemegang coin.

Crypto token berbeda dengan coin. Misalnya, Platform Token dibuat dalam sebuah platform aplikasi untuk transaksi yang terbatas pada dalam aplikasi tersebut.

Adapula Security Token, merepresentasikan kepemilikan aset tertentu, seperti real estate misalnya. Security token juga digunakan untuk merepresentasikan kepemilikan saham perusahaan, obligasi, komoditas dan surat berharga lainnya yang biasanya ditawarkan secara tradisional, kini diterbitkan dan diperjualbelikan dalam sistem blockchain.

Aset digital seperti Bitcoin tidak memiliki aset apapun yang menjadi dasar (underlying). Tetapi, ada juga uang virtual lain yang memiliki landasan berupa emas seperti OneGram (satu unit onegram diback-up dengan satu gram emas fisik yang disimpan) hal ini dilakukan untuk mencegah ketidakstabilan harga seperti yang dialami bitcoin.

Kesimpulan

Cryptocurrency merupakan teknologi baru dan dapat mengubah cara masyarakat dalam bermuamalah. Berbagai karakteristik dan tujuan penggunaan aset digital ini bisa saja menjadikan cara pandang fikih dari aset digital kelak menjadi berbeda-beda. Bisa jadi di antara cryptocurrency tersebut ada yang dihalalkan, dan bisa jadi ada yang diharamkan.

Namun, sebagian orang di masa sekarang tergesa-gesa, tergiur akan lonjakan nilai, kabar yang viral, dan mencari cara instan untuk mendapatkan uang secara cepat dengan mengadu nasib bersama para spekulan pada uang kripto yang tidak stabil dan tidak memiliki underlying asset.

Hingga saat artikel ini disusun, alasan utama para ulama melarang kegiatan spekulasi dengan bitcoin karena ketidakjelasan (gharar) yang tinggi. Seolah-olah masyarakat bertaruh ketika membeli bitcoin dan untung-ruginya tergantung tren di masa depan. Sedangkan bitcoin itu sendiri tidak memiliki nilai apa-apa, tidak pula disahkan sebagai alat pembayaran (karena tidak stabil). Sehingga ketika seseorang membeli coin, tujuan transaksinya adalah murni untuk bertaruh dalam tren, jika ramai maka untung, jika sepi peminat coinnya maka rugi dan tidak membawa pulang apa-apa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah)