Memilih Tabungan Wadiah vs Mudharabah Muthlaqah

Memilih Tabungan Wadiah vs Mudharabah Muthlaqah

Dengan bergabungnya Bank Syariah Mandiri (BSM), Bank Rakyat Indonesia Syariah (BRIS), dan Bank Negara Indonesia Syariah (BNIS) menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI) diharapkan bank ini bisa memfasilitasi masyarakat dengan layanan keuangan yang syar’i dan kompetitif dengan konvensional. Apalagi dengan besarnya jumlah aset bank yang telah melebur ini, mungkin sekali akan ada inovasi dalam produknya.

Akan tetapi, mungkin yang tetap menjadi pilihan utama bagi nasabah ketika membuka rekening tabungan di bank syariah itu ada dua: Wadi’ah dan Mudharabah Muthlaqah. Kalau kamu mau pilih yang mana? Wadiah atau Mudarabah?

Artikel ini akan membahas perbedaan kedua akad tabungan ini, konsekuensi syar’inya, dan mana yang lebih baik untik dipilih.

Tabungan Wadi’ah

Tabungan wadi’ah (titipan), atau lebih lengkapnya: wadi’ah yad-dhamanah (titipan dengan jaminan ganti) biasanya menjadi pilihan aman untuk membuka tabungan. Karena, tabungan wadi’ah ini kelebihan yang ditawarkan adalah dana nasabah utuh, tidak ada biaya administrasi bulanan yang memotong tabungan.

Apa sebenarnya wadi’ah itu?

Wadi’ah sebenarnya merupakan akad titipan. Ketika Ahmad menitipkan barang ke Budi, maka B harus amanah menjaga barang tersebut sesuai dengan kebiasaan dan syarat/request dari Ahmad. Selama Budi tidak memanfaatkan barang tersebut dan tidak melanggar requestnya Ahmad, maka Budi sebenarnya selama dia amanah seperti disebutkan tadi, Budi tidak dibebani tanggungjawab jika ada kerusakan atau kehilangan barang tersebut. Ini adalah wadi’ah pada asalnya, atau sebagian orang belakangan menyebutnya wadiah yad-amanah.

Apa contoh wadiah amanah ini? misalnya kurang lebih mendekati adalah jasa safe deposit box. Kita menitipkan sesuatu dan bank tidak menggunakannya, hanya menyimpan dan menjalani prosedur penjagaan yang dijanjikan. Tentunya, kita yang menitipkan barang kitalah yang membayar jasa penitipannya.

Adapun wadiah pada rekening tabungan, ini adalah titipan uang, dengan kondisi bank menggunakan uang tersebut, sehingga akadnya bukan amanah, melainkan dhamanah (bank harus menanggung risiko kalau uang tersebut hilang).

Tinjauan Fikih Wadiah

Tinjauan fikihnya titipan yang seperti ini, misalnya ketika Jaja memberikan Rp1 juta kepada Hendra, Jaja mempersilakan Hendra memanfaatkan Rp1 juta itu, baik untuk diputar usaha, dibelikan barang, dan lain-lain. Sedangkan di kemudian hari Jaja akan menarik kembali uangnya dan Hendra harus mengembalikan Rp 1 juta. Kalau dilihat seperti ini, maka yang terjadi adalah Jaja memberikan pinjaman/utangan kepada Hendra.

Begitulah yang terjadi dalam kegiatan Bank pada umumnya, Bank meminjam uang nasabah dalam bentuk tabungan, lalu Bank meminjamkan uang kepada nasabah dalam bentuk kredit.

Maka dari itu, rekening tabungan wadi’ah ini lebih tepat akad sebenarnya adalah qardh (utang-piutang) antara nasabah dan bank. Jika demikian, maka berlaku hukum-hukum yang mengatur hubungan nasabah dengan bank, misalnya Bank tidak boleh memberikan hadiah/bonus dalam tabungan wadi’ah karena pinjaman dengan kelebihan itu hukumnya riba. Sehingga, rekening wadi’ah tidak bertambah (karena tidak ada bonus), dan tidak berkurang (karena biasanya tidak ada biaya administrasi).

Tabungan Mudharabah

Tabungan Mudharabah, atau lebih lengkapnya Mudharabah Muthlaqah adalah tabungan yang menyerupai investasi, sehingga menarik orang-orang yang ingin mendapatkan untung dari tabungannya dengan sistem bagi hasil. Biasanya orang tidak memilih rekening ini karena ada biaya administrasi bulanan (tidak seperti wadiah). Namun, bukan hanya itu, ada masalah fikih yang penting diperhatikan di sini.

Apa sebenarnya Mudharabah itu?

Mudharabah adalah akad investasi/perkongsian, di sana Nasabah selaku pemberi modal, uangnya akan dikelola oleh Bank selaku pengelola. Hasil keuntungannya akan dibagi dua sesuai nisbah/rasio bagi hasil antara Nasabah dan Bank. Jika laba, maka bagi hasil untuk bank dan nasabah (tabungan bertambah). Jika rugi, maka nasabah menanggung kerugian (tabungan berkurang).

Sebenarnya ada dua jenis Mudharabah, yang pertama ini Mudharabah Muqayyadah. Yaitu akad kerja sama mudharabah yang usahanya sudah spesifik. Misalnya Nasabah ingin membiayai suatu usaha properti, maka Nasabah menjadi pemodal di sana, dan Bank tidak bisa menggunakan tabungan nasabah itu untuk yang lain. Hasil keuntungan juga hanya dari usaha tersebut. Mudharabah Muqayyadah ini, atau disebut dengan Shariah Restricted Intermediary Account (SRIA). Profil risiko investasi dan keuntungan menjadi bisa dipilih oleh Nasabah. Namun, untuk sampai tulisan ini dibuat, rekening tersebut di Bank masih dalam pengembangan. Tetapi kalau mau investasi langsung dengan Mudharabah Muqayyadah tentu bisa dan banyak dipraktikkan.

Yang kedua, adalah Mudharabah Muthlaqah. Yaitu mudharabah dengan kebebasan dari pemilik dana (Nasabah), bahwa pengelola (Bank) boleh membisniskan dana tabungan tersebut secara bebas (selama bisnisnya halal). Dengan begitu, Nasabah tidak menentukan spesifik uangnya harus dikemanakan, Bank sepenuhnya menentukan. Ini yang biasanya disebut tabungan atau deposito mudharabah di Bank Syariah.

Tinjauan Fikih Mudharabah

Dalam Mudharabah ada 2 pihak, yakni pihak shahibul maal (pemilik dana) dan mudharib (pengelola dana). Di antara keduanya ada nisbah bagi hasil, yakni rasio pembagian net profit jika untung. Adapun jika rugi, maka sepenuhnya ditanggung oleh pemilik dana (secara proporsional dengan berkurangnya dana/modal). Sedangkan, mudharib/pengelola hanya menanggung rugi tenaga saja (sudah capek, tapi tidak menghasilkan apa-apa).

Dalam muamalah terdapat kaidah penting, “Al Kharaj bid Dhaman”, atau sederhananya, keuntungan itu ada bersama tanggungan risiko. Jadi tidak bisa mencari untung kalau tidak mau menanggung risiko. Termasuk pemilik dana, tidak bisa dia mendapatkan keuntungan tapi tidak menanggung kerugian bisa jadi riba.

Seperti utang-piutang riba, pada konsepnya adalah memberikan uang kepada pihak kedua (baik itu utang produktif maupun konsumtif), peminjam menjamin dana tersebut akan kembali utuh dan ditambah bunga. Di sini ribanya, dia ingin mendapat keuntungan tetapi tidak mau menanggung kerugian (uangnya dijamin kembali utuh + hasil).

Maka dari itu, pada praktik kenyataannya perlu ditinjau, apakah dalam akad mudharabah dengan Bank Syariah itu ada klausul bahwa nasabah siap menanggung kerugian jika usaha pengelolaan dana oleh Bank tersebut mengalami kerugian. Jika tidak ada, yaitu nasabah mendapat keuntungan, tetapi segala bentuk kerugian ditanggung oleh bank, ini riba.

Hal lain juga yang masih ada kritik padanya adalah dalam praktik mudharabah, bisa dijumpai bahwa cara menghitung bagi hasilnya adalah dengan revenue sharing, bukan profit sharing. Sehingga bagi hasil itu dihitung dari pendapatan (revenue), bukan keuntungan (net profit). Apa bedanya pendapatan dengan keuntungan? Pendapatan itu penghasilan yang masuk dalam bisnis, sedangkan keuntungan itu pendapatan dikurangi biaya-biaya dan yang tersisa adalah laba bersih (keuntungan/net profit). Jika pemilik dana mendapatkan bagi hasil dari pendapatan (bukan dari keuntungan) itu artinya pemilik dana tidak menanggung biaya apa-apa, semua biaya ditanggung oleh Bank. Bisa jadi rugi, bisa jadi untung, tetapi pemilik dana sudah mendapatkan hasil lebih dahulu. Dalam Shariah Standards AAOIFI, yang tepat menghitung hasil mudharabah adalah dari net profit, bukan revenue.

SS AAOIFI (12) Sharikah 3/1/5/6 It is not permitted to start the allocation of profit between the partners  unless the operating costs, expenses and taxes are deducted in calculating the profit and the capital of the Sharikah is maintained intact.

Selain itu, perlu diperhatikan juga bahwa usaha yang dijalankan oleh Bank dalam memutar dana mudharabah itu harus usaha yang halal dan sesuai syariah. Tidak boleh nasabah memodali bisnis yang haram, tentunya.

Apa sih, kemungkinan bisnis yang haram oleh Bank? Misalnya, Bank Syariah X dalam menyalurkan kreditnya itu masih belum syar’i. Praktik kredit murabahah masih seperti utang bank konvensional, hanya memberikan uang saja (bukan jual beli). Praktik pembiayaan mudharabah/musyarakah yang terjamin, Bank tidak mau menanggung kerugian nasabah yang dibiayai, misalnya. Ini contoh-contoh yang bisa menyebabkan bisnis yang memutar dana mudharabah nasabah menjadi bermasalah kehalalannya.

Maka dari itu, perlu tinjauan ekstra bagi nasabah yang ingin menabung dengan rekening tabungan mudharabah agar terbebas dari celah-celah keharaman dan riba. Sebab, akadnya adalah investasi, dan selaku pemilik modal, dia ikut menanggung pelanggaran tersebut jika ada.

Kesimpulan

Menurut hemat kami, rekening tabungan wadi’ah merupakan pilihan yang lebih baik dan lebih aman. Sebab, ketika menyimpan uang di bank, kita sebagai nasabah berekspektasi uangnya aman dan tidak berkurang tiba-tiba. Apalagi jika tidak ada biaya administrasi ya (hehe).

Adapun, jika memang ingin uang kita berkembang, maka mulailah investasi, baik dengan mudharabah, atau musyarakah, atau investasi berbasis jual beli. Bagaimana memulai investasi, pernah kita bahas sebelumnya. Dengan begitu, akan terpisah mana dana yang kita simpan agar utuh dan aman, dan mana dana yang digunakan untuk “bekerja” siap untung dan siap hilang/rugi.

Wallahu a’lam.

Syariah Wealth Management adalah lembaga pendampingan untuk bisnis dan konsultasi bisnis dan investasi syariah. Sebagai salah satu layanan kami, SWM juga menyediakan layanan pendampingan akad dengan lembaga keuangan syariah, mengingat masih sering dijumpai pelanggaran syar’i pada praktiknya sehingga SWM memberikan tinjauan atas akad, mengawasi praktik pembiayaannya untuk menjaga klien dari pelanggaran syariat yang mungkin terjadi.