1. Tentukan bisnis yang akan diinvestasikan
    1. Pahami kelebihan dan kekurangan bisnis
    2. Risiko yang berbeda-beda <<
    3. Periksa Kepatuhan Syariatnya
    4. Kenali Profil Pengelola
    5. Keuntungan dan BEP (Titik Impas)
    6. Rencana Strategis Syirkah
  2. Negosiasi dengan pengelola
  3. Mempersiapkan modal
  4. Akad syirkah

B. Risiko yang Berbeda-beda

Dalam syirkah terdapat kaidah, “al ghunmu bil ghurmi” yang dimaknai sebagai “keuntungan itu ada bersama risiko kerugian”. Tidak ada bisnis yang tidak ada risiko, kalau pun ada, maka waspadailah investasi itu investasi yang riba.

“Investasi di saya, pasti aman. Ini jaminannya sertifikat tanah. tahun depan saya kembalikan, dan keuntungannya dibagi 50:50.” Ini riba, karena ada jaminan dari risiko kerugian. meskipun diberi nama investasi, syirkah, mudharabah, yang seperti ini sudah dipastikan riba.

Misalnya Anda sudah paham bahwa dalam syirkah itu investor pasti menanggung risiko kerugian, dan dalam bisnis kita bertawakkal kepada Allah, karena untung dan risiko rugi sudah ditakdirkan. Tetapi apakah ilmu tentang investasi dan syirkah itu hanya sampai di situ? Tentu tidak.

Setiap bisnis memang memiliki risiko, misalnya risiko barang tidak laku, penjualan sepi.

Investor harus berpikir lebih jauh dari itu, “Apa saja risikonya? Seberapa besar? Dan seberapa mungkin risiko itu terjadi?”

Kita ambil contoh, bisnis peternakan ayam. Bicara untung, insyaallah bisnis ini menguntungkan, apalagi setiap hari orang makan ayam. Tetapi apa saja risikonya? SWM pernah menangani kasus mudharabah seorang klien yang bisnis peternakan ayam. Awalnya berjalan baik, hingga jumlah  berkembang, kemudian didemo oleh masyarakat sekitar karena bau. Akhirnya bisnisnya terpaksa ditutup.

Contoh lain, sebuah bisnis property. Bicara untung, insyaallah harga rumah dan tanah itu selalu naik. Tapi apa risikonya? Ada sebuah kasus, di mana perusahaan property ini ingin membangun perumahan “syariah”. Mereka membeli lahan, tetapi belum lunas. Rencananya, dari DP para konsumen digunakan untuk mencicil pembayaran lahan. Ketika dihitung-hitung tentu cukup. Tetapi, yang tidak cukup adalah cashflownya, penjualan yang tidak menentu, kas dari DP lebih lama daripada tempo pembayaran tanah. Alhasil, uang untuk bahan bangunan dikorbankan, dan  pembangunan terlambat.

Belum lagi, ketika investor tidak tahu ternyata IMB-nya belum ada, dan saat mengajukan malah bermasalah.

Investor yang memahami bisnisnya akan mampu memperkirakan risiko tersebut, seberapa besar dan seberapa mungkin hal itu terjadi. Kemudian, risiko ini yang ditanyakan kepada pengelola sebelum kita investasi, bagaimana strategi mereka memitigasi risiko tersebut.

Selain itu, investor harus ingat, investasi syirkah tidaklah selikuid investasi lainnya. Sebab, syirkah yang akan dijalankan bukanlah perseroan terbatas yang terbuka (tbk) yang sahamnya diperjualbelikan di pasar sekunder. Jadi tidak bisa investasi dan tarik modal begitu saja.

Butuh konsultasi tentang rencana syirkah, atau ada masalah dengan syirkah saat ini? Hubungi SWM via WhatsApp untuk buat jadwal konsultasi syirkah bersama SWM di 082-12345-9661

#IngatSyirkah #IngatSWM