Kekuatan Wanita dalam Menjaga Keberkahan Cinta dan Harta

Kaum wanita umumnya dianggap lemah, sejatinya memiliki pengaruh besar yang menjadi penentu apakah sebuah keluarga akan dijalani dengan kebahagiaan dan keberkahan, atau justru dipenuhi kesengsaraan.

Mari kita renungi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tidaklah aku menginggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebih berbahaya terhadap laki-laki daripada wanita. [HR. Bukhari no: 5096, Muslim no: 2740, dan lainnya, dari Usamah bin Zaid]

Bahkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Kebanyakan yang merusakkan kekuasaan dan negara adalah mentaati para wanita”. [Iqtidha’ Shirathil Mustaqim, hal: 257]

Terkesan bahwa wanita membawa kejelekan, sedangkan pada hadits lain, wanita justru digambarkan sebagai perhiasan terindah.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.” (HR. Muslim, no. 1467)

Dari dua hadits di atas, kita melihat bahwa dampak baik atau buruk kaum wanita sangat besar pengaruhnya. Apakah ia akan menjadi fitnah atau membawa berkah.

Besarnya Pengaruh Wanita

Kita tahu ada nabi-nabi Allah yang istrinya justru tidak beriman dan bahkan menyulitkan kehidupan nabi dan menyempitkan dakwahnya. Namun, pengaruh buruk istri mereka tidak sampai mengganggu keimanan mereka, atau membuat mereka bermaksiat kepada Allah.

Sedangkan pada orang biasa seperti kita, seorang wanita bisa jadi membawa dampak yang kuat dan menentukan.

  • Di balik pegawai-pegawai bank riba yang belum kunjung hijrah, sangat mungkin ada sosok istri yang takut miskin dan gelisah, sehingga tidak mendukung taubat untuk suaminya.
  • Di balik pejabat-pejabat pemerintah yang korupsi, sangat mungkin ada sosok istri yang merasa tidak cukup dan gengsi, sehingga mendorong suaminya untuk tetap mengambil harta haram dan syubhat.

Sebaliknya, dibalik perjuangan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ada seorang Khadijah radhiyallahu ‘anha yang sangat menguatkan beliau pada masa-masa awal dakwah yang berat. Ada seorang ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menemani perjuangan, menceriakan keseharian beliau, dan bahkan menyebarkan ilmu-ilmu beliau. Mereka nyemangati nabi untuk terus mengerjakan apa yang Allah perintahkan.

Mengetahui besarnya kekuatan dan pengaruh wanita, tentu sebagai wanita kita harus mulai berhati-hati dengan apa yang kita lakukan. Berkomitmen menjadi wanita yang membawa dampak baik, khususnya yang ada pada ruang lingkup terkecil. Yaitu pada keberkahan cinta dan harta keluarga.

Menjadi Wanita yang Membawa Keberkahan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Satu-satunya cara menjadi wanita terbaik dan tidak menjadi fitnah ialah dengan mendengarkan dan menaati petunjuk Allah Azza wa jalla dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antaranya ialah

1. Mensyukuri Pemberian Suami

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat,

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.”

Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?

Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

2. Tidak menyakiti suami dan tidak membuatnya marah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ : لاَ تُؤْذِيْهِ , قَاتَلَكِ اللهُ , فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari kalangan bidadari akan berkata, “Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu; hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami”. (HR. Tirmidzi no. 1174 dan Ahmad 5: 242. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

3. Memiliki sifat qana’ah (merasa cukup)

Allah Ta’ala berfirman,

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آَتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آَتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7)

Dalam dunia yang penuh ujian kemiskinan dan fitnah harta, sikap qana’ah seorang istri menjadi penentu apakah suami akan kuat bersabar dan komitmen mencari yang halal atau harus mengejar harta haram.

Bahkan putri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Fathimah kedua tangannya lecet karena kesehariannya menggiling gandum, tanpa ada pembantu. (HR. Bukhari no. 5361 dan Muslim no. 2182)

4. Bersikap amanah atas harta dan pemberian suami

Masih banyak anggapan bahwa harta suami adalah harta bersama istri. Sehingga hal ini melupakan adanya kewajiban atas seorang istri bahwa ia harus amanah terhadap harta-harta suaminya.

Misalnya, uang belanja yang seharusnya untuk keperluan keluarga, malah ada sebagian yang dipakai untuk keinginan pribadi istri. Padahal, untuk bersedekah saja, seorang Istri wajib meminta izin suaminya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُنْفِقُ امْرَأَةٌ شَيْئًا مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا إِلاَّ بِإِذْنِ زَوْجِهَا

Janganlah seorang wanita menginfakkan sesuatu dari rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya” (HR. Tirmidzi no. 670. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)

Sikap istri yang tidak amanah, menggunakan harta suami tanpa seizinnya, bukan hanya mengganggu keberkahan harta keluarga, tetapi juga sengketa harta di kemudian hari. Pada saat pisah atau waris, akan muncul harta-harta syubhat, mana yang milik suami dan mana yang milik istri.

Wallahu a’lam


Butuh konsultasi seputar pengelolaan harta keluarga? Insyaa Allah tim Syariah Wealth Management bisa membantu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat SWM
1
Assalamu'alaikum👋
Ada yang bisa kami bantu?